Ketika Widura sedang berlatih dengan Agung Sedayu
itulah datang orang aneh yang memakai topeng. Kiai Gringsing. Widura menjadi
marah karena orang itu telah mengganggu latihan mereka berdua. Dengan bergurau
Kiai Gringsing menyebut bahwa Agung Sedayu sedang mengajari Widura beberapa
langkah gerak bela diri perguruan Ki Sadewa, ayah Agung Sedayu.
Widura yang curiga karena orang bertopeng itu
mengetahui namanya dan hubungan keluarganya dengan Agung Sedayu segera menghubungkannya
dengan hilangnya Untara dan jejak tiga ekor kaki kuda yang ditemuinya ketika
mencari keponakannya yang sedang terluka parah itu. Akan tetapi ketika ia mempertanyakannya orang
itu mengelak.
Widura menjadi semakin marah. Dengan sekuat tenaga dia
mencoba menangkap Kiai Gringsing. Tetapi ternyata Widura tidak mampu berbuat
apa-apa atas orang bertopeng itu. Dalam pada itu sebelum pergi meninggalkan
mereka berdua, Kiai Gringsing sempat mengatakan sesuatu tentang Sidanti. Ia
mengatakan bahwa Sidanti masih selalu ditempa oleh gurunya, Ki Tambak Wedi.
Oleh karena itu dia menyarankan agar Widura bisa mengimbanginya agar tidak
kehilangan wibawa di depan anak buahnya.
Widura memang terkejut mendengar berita itu. Tetapi
dia masih berusaha berprasangka baik kepada Sidanti. Dia berpikir pastilah
Sidanti melakukan itu agar dia bisa menghadapi Macan Kepatihan. Dalam pada itu
Agung Sedayu kagum setelah melihat pertempuran antara Widura dengan Kiai
Gringsing. Dia bertekad akan berlatih setiap malam untuk mengasah kemampuannya
pula.
Sesampainya di rumah Ki Demang, Widura berusaha
mencari kebenaran tentang Sidanti. Namun Sidanti tidak mau mengakuinya. Sidanti
hanya mengatakan bahwa ia memang sering berlatih sendiri. Sidanti teringat
pesan gurunya bahwa tidak boleh ada seorang pun tahu bahwa Sidanti bertemu
gurunya setiap malam. Gurunya menginginkan hanya Sidantilah yang berhasil,
bukan kelompok maupun pemimpinnya. Bahkan ternyata gurunya berambisi menjadikan
Sidanti mempunyai kedudukan langsung di bawah Sultan Hadiwijaya sendiri.
Pagi harinya Agung Sedayu bersama-sama dengan Sekar
Mirah pergi berjalan-jalan ke pasar. Sebenarnyalah mereka tidak sengaja bertemu
di pasar. Kemudian dengan senang hati Sekar Mirah mengantar Agung Sedayu untuk
melihat-lihat keadaan pasar. Sidanti yang kemudian mengetahuinya memperingatkan
Sekar Mirah agar tidak terlalu dekat dengan Agung Sedayu. Sekar Mirah pun sadar
bahwa agaknya Sidanti cemburu kepada Agung Sedayu. Akan tetapi Sekar Mirah
merasa tidak punya hubungan apa-apa dengan Sidanti selain bahwa ia hanya mengagumi
Sidanti. Oleh karena itu ia tidak mempedulikan peringatan Sidanti.
Ketika malam hari Widura dan Agung Sedayu berlatih
lagi di Gunung Gowok, Widura berusaha untuk membesarkan hati Agung Sedayu
tentang kemampuannya, agar dia tidak menjadi penakut lagi. Widura merasa senang
karena dia melihat tekad di dalam dada keponakannya itu untuk berubah. Malam
itu dan malam-malam berikutnya setiap kali mereka berdua berlatih, Kiai
Gringsing selalu datang, dan seperti tanpa disengaja ia telah memberikan
latihan-latihan yang berguna bagi Widura agar tidak kalah dari Sidanti.
Demikianlah hari berganti hari di Sangkal Putung.
Agung Sedayu, Widura dan anak buahnya sibuk dengan latihan-latihan olah
kanuragan. Para prajurit bawahan Widura semaikin menjadi jemu tinggal di
Sangkal Putung, tapi tidak demikian dengan Agung Sedayu. Hubungannya dengan
Sekar Mirah semakin lama semakin dekat. Hal ini juga semakin menimbulkan
kemarahan di dada Sidanti. Agung Sedayu menyadarinya dan berusaha untuk
menjauhi Sekar Mirah. Tetapi agaknya Sekar Mirah tidak mempedulikannya dan
terus mendatangi Agung Sedayu.
Widura yang melihat bahwa persoalan itu akan meledak
mencoba untuk mengingatkan Agung Sedayu. Dia menyadari bahwa Agung Sedayu tidak
akan mampu menghadapi Sidanti. Bukan karena dia tidak punya keahlian, tetapi
karena jiwanya yang kerdil. Agung Sedayu pun menurutinya. Akan tetapi dia
memang tidak bisa menghindari pertemuan dengan Sekar Mirah.
Pada suatu pagi ketika dia pergi ke padasan, Sekar
Mirah menemuinya. Sidanti yang melihatnya langsung marah dan menyuruh Sekar
Mirah menjauhinya. Akan tetapi Sekar Mirah tidak mau karena dia merasa Sidanti
tidak berhak menyuruh-nyuruhnya. Swandaru yang ikut campur kemudian ditampar
oleh Sidanti. Hati Agung Sedayu memang menjadi kecut. Untunglah kemudian Widura
muncul untuk meredakan perselisihan itu. Untuk sementara waktu suasana telah
mereda, karena ternyata Sidanti masih tetap mendendam.
Di sore harinya Sidanti telah meminta ijin kepada
Widura untuk menantang Agung Sedayu berperang tanding. Akan tetapi Widura tidak
mengijinkannya. Sidanti yang marah dan menuduh
Widura berusaha melindungi Agung Sedayu, berbalik menantang Widura.
Sidanti yakin bahwa kemampuan Widura masih berada di bawahnya. Oleh karena itu
dia berani membantah perintah Widura dan bahkan berani menantangnya.
Demikianlah malam itu Sidanti dan Widura berperang
tanding di sebuah bagian pategalan yang agaknya sering dipakai oleh Sidanti dan
gurunya untuk berlatih. Demikian terdengar suara bilalang sadarlah Widura bahwa
guru Sidanti, Ki Tambak Wedi ada di situ pula. Oleh karena itu Widura harus semakin
berhati-hati. Ternyatalah Sidanti yang selalu ditempa oleh gurunya itu tidak
mudah mengalahkan Widura yang juga mendapatkan tempaan dari orang yang
bertopeng, meskipun seperti tidak disengaja oleh orang bertopeng itu sendiri.
Akan tetapi Sidanti tidak mau surut. Widura harus
berhasil dikalahkannya karena ia ingin mengendalikan Widura, tidak hanya
tentang persoalan Agung Sedayu, tetapi juga dalam persoalan-persoalan
keprajuritan. Setelah sekian lama mereka bertarung, kedua-duanya menjadi
kehabisan nafas. Ternyata keduanya memang mempunyai kemampuan yang seimbang.
Selagi mereka berdua kehabisan nafas, muncullah Kiai Tambak Wedi yang segera
disambut dengan gembira oleh Sidanti.
Kiai Tambak Wedi meminta Widura untuk memberikan
kepemimpinan prajurit Sangkal Putung kepada Sidanti, agar kemudian Sidanti
dapat segera memanjat naik ke tahap-tahap berikutnya. Tetapi Widura menolaknya,
karena ia merasa bukan wewenangnya untuk memberikan jabatan itu kepada Sidanti.
Bahkan ia pun mendapatkan jabatannya dari Panglima Wiratamtama, Ki Gede
Pemanahan, sehingga Ki Tambak Wedi semakin marah dan berniat untuk memaksakan
kehendaknya atas Widura.