Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel & Novela>Api Di Bukit Menoreh Buku 03

Api Di Bukit Menoreh Buku 03

oleh: SriMurni     Pengarang : SH. Mintardja
ª
 
Ketika Widura sedang berlatih dengan Agung Sedayu itulah datang orang aneh yang memakai topeng. Kiai Gringsing. Widura menjadi marah karena orang itu telah mengganggu latihan mereka berdua. Dengan bergurau Kiai Gringsing menyebut bahwa Agung Sedayu sedang mengajari Widura beberapa langkah gerak bela diri perguruan Ki Sadewa, ayah Agung Sedayu.

Widura yang curiga karena orang bertopeng itu mengetahui namanya dan hubungan keluarganya dengan Agung Sedayu segera menghubungkannya dengan hilangnya Untara dan jejak tiga ekor kaki kuda yang ditemuinya ketika mencari keponakannya yang sedang terluka parah itu. Akan tetapi ketika ia mempertanyakannya orang itu mengelak.

Widura menjadi semakin marah. Dengan sekuat tenaga dia mencoba menangkap Kiai Gringsing. Tetapi ternyata Widura tidak mampu berbuat apa-apa atas orang bertopeng itu. Dalam pada itu sebelum pergi meninggalkan mereka berdua, Kiai Gringsing sempat mengatakan sesuatu tentang Sidanti. Ia mengatakan bahwa Sidanti masih selalu ditempa oleh gurunya, Ki Tambak Wedi. Oleh karena itu dia menyarankan agar Widura bisa mengimbanginya agar tidak kehilangan wibawa di depan anak buahnya.

Widura memang terkejut mendengar berita itu. Tetapi dia masih berusaha berprasangka baik kepada Sidanti. Dia berpikir pastilah Sidanti melakukan itu agar dia bisa menghadapi Macan Kepatihan. Dalam pada itu Agung Sedayu kagum setelah melihat pertempuran antara Widura dengan Kiai Gringsing. Dia bertekad akan berlatih setiap malam untuk mengasah kemampuannya pula.

Sesampainya di rumah Ki Demang, Widura berusaha mencari kebenaran tentang Sidanti. Namun Sidanti tidak mau mengakuinya. Sidanti hanya mengatakan bahwa ia memang sering berlatih sendiri. Sidanti teringat pesan gurunya bahwa tidak boleh ada seorang pun tahu bahwa Sidanti bertemu gurunya setiap malam. Gurunya menginginkan hanya Sidantilah yang berhasil, bukan kelompok maupun pemimpinnya. Bahkan ternyata gurunya berambisi menjadikan Sidanti mempunyai kedudukan langsung di bawah Sultan Hadiwijaya sendiri.

Pagi harinya Agung Sedayu bersama-sama dengan Sekar Mirah pergi berjalan-jalan ke pasar. Sebenarnyalah mereka tidak sengaja bertemu di pasar. Kemudian dengan senang hati Sekar Mirah mengantar Agung Sedayu untuk melihat-lihat keadaan pasar. Sidanti yang kemudian mengetahuinya memperingatkan Sekar Mirah agar tidak terlalu dekat dengan Agung Sedayu. Sekar Mirah pun sadar bahwa agaknya Sidanti cemburu kepada Agung Sedayu. Akan tetapi Sekar Mirah merasa tidak punya hubungan apa-apa dengan Sidanti selain bahwa ia hanya mengagumi Sidanti. Oleh karena itu ia tidak mempedulikan peringatan Sidanti.

Ketika malam hari Widura dan Agung Sedayu berlatih lagi di Gunung Gowok, Widura berusaha untuk membesarkan hati Agung Sedayu tentang kemampuannya, agar dia tidak menjadi penakut lagi. Widura merasa senang karena dia melihat tekad di dalam dada keponakannya itu untuk berubah. Malam itu dan malam-malam berikutnya setiap kali mereka berdua berlatih, Kiai Gringsing selalu datang, dan seperti tanpa disengaja ia telah memberikan latihan-latihan yang berguna bagi Widura agar tidak kalah dari Sidanti.

Demikianlah hari berganti hari di Sangkal Putung. Agung Sedayu, Widura dan anak buahnya sibuk dengan latihan-latihan olah kanuragan. Para prajurit bawahan Widura semaikin menjadi jemu tinggal di Sangkal Putung, tapi tidak demikian dengan Agung Sedayu. Hubungannya dengan Sekar Mirah semakin lama semakin dekat. Hal ini juga semakin menimbulkan kemarahan di dada Sidanti. Agung Sedayu menyadarinya dan berusaha untuk menjauhi Sekar Mirah. Tetapi agaknya Sekar Mirah tidak mempedulikannya dan terus mendatangi Agung Sedayu.

Widura yang melihat bahwa persoalan itu akan meledak mencoba untuk mengingatkan Agung Sedayu. Dia menyadari bahwa Agung Sedayu tidak akan mampu menghadapi Sidanti. Bukan karena dia tidak punya keahlian, tetapi karena jiwanya yang kerdil. Agung Sedayu pun menurutinya. Akan tetapi dia memang tidak bisa menghindari pertemuan dengan Sekar Mirah.

Pada suatu pagi ketika dia pergi ke padasan, Sekar Mirah menemuinya. Sidanti yang melihatnya langsung marah dan menyuruh Sekar Mirah menjauhinya. Akan tetapi Sekar Mirah tidak mau karena dia merasa Sidanti tidak berhak menyuruh-nyuruhnya. Swandaru yang ikut campur kemudian ditampar oleh Sidanti. Hati Agung Sedayu memang menjadi kecut. Untunglah kemudian Widura muncul untuk meredakan perselisihan itu. Untuk sementara waktu suasana telah mereda, karena ternyata Sidanti masih tetap mendendam.

Di sore harinya Sidanti telah meminta ijin kepada Widura untuk menantang Agung Sedayu berperang tanding. Akan tetapi Widura tidak mengijinkannya. Sidanti yang marah dan menuduh Widura berusaha melindungi Agung Sedayu, berbalik menantang Widura. Sidanti yakin bahwa kemampuan Widura masih berada di bawahnya. Oleh karena itu dia berani membantah perintah Widura dan bahkan berani menantangnya.

Demikianlah malam itu Sidanti dan Widura berperang tanding di sebuah bagian pategalan yang agaknya sering dipakai oleh Sidanti dan gurunya untuk berlatih. Demikian terdengar suara bilalang sadarlah Widura bahwa guru Sidanti, Ki Tambak Wedi ada di situ pula. Oleh karena itu Widura harus semakin berhati-hati. Ternyatalah Sidanti yang selalu ditempa oleh gurunya itu tidak mudah mengalahkan Widura yang juga mendapatkan tempaan dari orang yang bertopeng, meskipun seperti tidak disengaja oleh orang bertopeng itu sendiri.

Akan tetapi Sidanti tidak mau surut. Widura harus berhasil dikalahkannya karena ia ingin mengendalikan Widura, tidak hanya tentang persoalan Agung Sedayu, tetapi juga dalam persoalan-persoalan keprajuritan. Setelah sekian lama mereka bertarung, kedua-duanya menjadi kehabisan nafas. Ternyata keduanya memang mempunyai kemampuan yang seimbang. Selagi mereka berdua kehabisan nafas, muncullah Kiai Tambak Wedi yang segera disambut dengan gembira oleh Sidanti.

Kiai Tambak Wedi meminta Widura untuk memberikan kepemimpinan prajurit Sangkal Putung kepada Sidanti, agar kemudian Sidanti dapat segera memanjat naik ke tahap-tahap berikutnya. Tetapi Widura menolaknya, karena ia merasa bukan wewenangnya untuk memberikan jabatan itu kepada Sidanti. Bahkan ia pun mendapatkan jabatannya dari Panglima Wiratamtama, Ki Gede Pemanahan, sehingga Ki Tambak Wedi semakin marah dan berniat untuk memaksakan kehendaknya atas Widura.

Diterbitkan di: 26 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.