Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel & Novela>Kisah Mahasiswa Miskin Mendapat Beasiswa Pertukaran Pelajar ke Kanada

Kisah Mahasiswa Miskin Mendapat Beasiswa Pertukaran Pelajar ke Kanada

oleh: HaukilMartinez     Pengarang : A Fuadi
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; text-align :justify; text-indent:27.35pt; font-siz e:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";}

Ini adalah cerita inspiratif tentang seorang mahasiswa dari sebuah kampung di pelosok maninjau, Sumatera sana. Ia adalah anak yang ambisius, dan pantang mengorbankan mimpi bagaimanapun sulitnya rintangan yang harus dihadapi, sekeras apapun karang menghadang, semua akan ditendang. Hanya berbekal satu kata: mimpi.

Namanya Alif Fikri, setelah ia menyelesaikan SMA-nya di pondok Madani, di Jawa Timur, ia pulang ke kampung halamannya di Maninjau dan kembali memikirkan mimpi selanjutnya: ia ingin masuk sekolah umum. Tapi, ini sebenarnya sangat sulit baginya, sebab ia tidak punya ijazah SMA. Konon, di pondok Madani, memang tidak mengenal sistem ijazah, semua murid sekolah harus berdasarkan keinginan yang kuat untuk melawan kebodohan, dan kemudian berjuang di jalan Tuhan dalam hal membantu orang lain yang sedang membutuhkan pendidikan.

Tapi bukan alif namanya kalau ia harus patah semangat. Ada beberapa ungkapan inspiratif yang ia dapatkan di pondok Madani. Pertama, man jadda wajada, kedua, man shabara zhafira. Jadi jika kemaun ada, diberengi dengan usaha yang maksimal, didukung dengan kesabaran, maka semua masalah akan bisa diatasi. Dan memang benar, ayahnya mendaftarkan Alif untuk ikut persamaan untuk mendapatkan ijazah SMA. Masalah inipun akhirnya bisa diatasi, ia lulus ujian dan mendaptkan ijazah SMA-nya.

Mendapatkan ijazah SMA bukan berarti semuanya sudah beres, melainkan datang tantangan lain yang sangat menentukan bagi mimpi masa depannya. Ia harus berjuang kembali untuk menaklukkan Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPTN).

Awalnya Alif berkeinginan untuk masuk jurusan teknik ITB, ia ingin menjadi seperti BJ. Habibie. Tapi kali ini ia harus memikirkannya kembali. Sebab masuk ITB bukanlah perkara mudah, akan banyak saingan, ketat, dan membutuhkan pengetahuan yang lebih dibidang teknik tentunya. Sementara itu, Alif bisa dibilang tidak mempunyai pengetahuan di bidang itu. Di pondok Madani tidak diajari teknik, walaupun ada itu hanya sedikit dan tidak menjadi prioritas. Yang namanya pondokan, maka tentu prioritas utamanya adalah tafaqquh fi al-din (memahami agama).

Bagaimanapun, Alif tetap harus berpikir realistis. Masuk ITB sangat tidak realistis. Akhrinya ia memutuskan untuk memiliki jurusan sosial, dan ia memantapkan hati pada jurusan hubungan internasioal. Selamat tinggal ITB. Ia pun lulus UMPTN, di jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjajaran, Bandung, meski dengan nilai yang tidak terlalu bagus. Tapi ini adalah anegerah besar yang harus ia syukuri.

Semasa kuliah, berbagai cobaan tak kunjung berhenti. Mulai kekurangan uang sehinga ia harus numpang kos dulu di tempat Randai (ia lulus di ITB), meninggalnya sang ayah, kiriman yang tak kunjung datan dari Maninjau, bekerja menawarkan macam-macam produk dari pintu ke pintu yang membuatnya dirampok paksa, hingga sakit tifus yang mengharuskannya tidur hampir satu bulan. Tapi semua itu dijalaninnya dengan sabar, dan tetap bersungguh-sungguh dalam menggapai mimpinya untuk sampai ke Amerika. Ia selalu sabar, dan selalu menunggu keberuntungan yang dijanjikan oleah sang Pencipta.

Pertemuannya dengan pimpinan redaksi majalah kampus (Kutub), yang bernama Togar Perangin-Angin, memberikan harapan baru bagi Alif untuk tetap bertahan di kota Bandung. Togar adalah seorang penulis terkenal, tulisannya sering nongkrong di media regional maupun nasional. Togar mengajari Alif menulis dengan gaya gertak, keras. Tapi Alif tetap melayaninya, karena sesuai janjinya pada Togar, bahwa ia akan siap dengan segala kemungkinan, yang penting ia bisa belajar menulis. Ia pun menulis, dan beerapa saat, berkat ketekunan dan kesabarannya menulis, tulisannya mulai di muat di koran lokal, dengan honor Rp. 15.000.

Alif mulai bangkit, ia mulai menemukan jalan baru yang penting. Tulisannya terus menghiasi media massa, ia selalu mendapatkan pujian dari para dosennya. Ada semangat baru yang ia rasakan, hingga akhrinya ia ketemudengan seseorang yang memberinya informasi tentang beasiswa pertukaran pelajar ke Kanada. Kesempatan ini tidak disiasiakan oleh Alif, ia langsung applay. Ia sangat kuat memegang mimpinya: Belajar sampai ke Amerika! Dan, kesempatan itu hampir ia dapatkan. Ia harus lulus seleksi.

Selain materi tulis dan wawancara dengan menggunakan bahasa Inggris, ada seleksi penting lainnya yaitu kesenian tradisional yang berupa lagu daerah dan tarian daerah. Alif bisa melewati seleksi tulis dan wawancara, dan ia merasa kesulian pada dua tahap seleksi terakhir, yaitu menyanyi dan menari. Ia paling tidak bisa menari dan menyanyi. Tapi, dengan semangat pantang menyerah, ia tetap maju, menyanyi, lalu menari. Suaranya terdengar sumbang dan membuat tim penyeleksi geleng-geleng kepala. Menyadari kelemahannya dibidang ini, Alif meminta kesediaan tim penyeleksi untuk mendengarkan alasannya yang lain mengapa ia pantas dipilih sebagai duta bangsa ke Kanada. Ia menunjukkan semua copy tulisannya yang telah dimuat di media, setebal sekitar 5 cm. Dan ternyata ini menjadi pertimbangan penting tim penyeleksi.

Masalah demi masalah ia hadapi, hingga akhirnya ia dinyatakan lolos seleksi dan berhak ke Kanada, tepatnya di kota/provinsi Quebec, di pelosok Kanada yang rata-rata masyarakatnya berbahasa Perancis. Ada sepuluh anak negeri yang akan ke Kanada, salah satunya adalah Alif Fikri.

Sebelum ke Kanada, rombongan pertukaran pelajar tersebut masih singgah di Yordania, menikmati keindahan kota Amman, dan puing-puing bangunan megah masa lalu. Selain di Kanada nantinya, Yordania adalah tempat yang memberikan sejarah tersendiri bagi kehidupan Alif. Dari Indonesia, ke Yordania, dan akhirnya sampai ke Kanada, disebut Alif sebagai ranah tiga warna, yang menjadi judul buku karya A. Fuadi ini, yang tak lain adalah Alif Fikri. A Fuadi mengangkat pengalaman pribadinya menjadi sebuah novel apik dengan anggitan bahasa yang memukau.

Akhrinya, barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan sukses. Dan barang siapa yang sabar, ia akan beruntung. Kisah perjalanan letih seorang Alif menjadi bukti dari ungkapan-ungkapan tersebut. Untuk menjadi orang sukses, tak harus kaya. Tapi yang terpenting adal bersungguh-sungguh dan pandai bersabar.
Diterbitkan di: 31 Maret, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    amazing....sangat menginspirasi n me-refill kembali kemauan kita untuk lebih semangat menggapai mimpi2... Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    ini batu namanya bacaan inspiratif. penuh vitamin. mantap gan..! Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    menarik!! bner juga ya kalo kita tkun, kita pst dptin pa yg kta cita2kn. jika blum dpet, kta musti brsbar, dng begtu akan beruntg. masuuuukkkk!! Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.