'Kami seharusnya menjadi orang bahagia karena memiliki semua yang kami kehendaki tapi itu menjadi sebaliknya. Harta yang berlimpah tidak dapat memberikan kebahagiaan yang seharusnya kami dapatkan'
Demikian yang dinyatakan oleh Oei Hui Lan, setelah perjalanan panjang hidupnya. Seorang putri pria terkaya di Asia Tenggara, Oei Tiong Ham Raja Gula dari Semarang. Walaupun kisah tragis yang ditulis di sini tidak 'setragis' yang saya bayangkan, malah bergelimang dengan fakta begitu mudahnya keluarga ini mengatasi 'kekacauan emosi' mereka dengan kekayaan yang mereka punya.
Contohnya, Ibu Oei Hui Lan yang sakit hati karena ayahnya terus-menerus menambah gundik dan kenyataan bahwa dia tidak bisa melahirkan anak laki-laki, diobati dengan kepindahan mereka ke London. Hidup di masyarakat level atas dan menghabiskan hari-harinya untuk berpesta, menikmati hidup dengan apapun yang bisa dibeli dengan uang. Pergaulan papan atas tersebut melibatkan orang-orang penting pada jaman itu, salah satunya bersahabat dengan Putri dari kerajaan Monaco.
Demikian dengan Oei Hui Lan sendiri, pernikahannya yang tidak bahagia dengan suaminya Wellington Koo, meskipun dikaruniai anak-anak yang tumbuh menjadi anak-anak yang baik, dipenuhi dengan pelarian-pelarian yang 'mewah'. Suaminya yang kendati adalah pejabat tinggi China, sama sekali jauh dari kemewahan. Demi mempertahankan gaya hidupnya, Oei Hui Lan yang tidak terbiasa hidup 'biasa' pun membangun sendiri istananya menggantikan rumah dinas sederhana yang disediakan oleh pemerintah China.
Ketika kemudian Oei Tiong Ham, sang ayah, meninggal di Singapura dan hartanya menjadi rebutan antara 8 istri dan 42 anaknya, Oei Hui Lan seperti seorang penonton saja. Ia tetap dapat hidup mewah dengan peninggalan dari sang ayah yang sangat cukup untuk hidup sampai pada hari tuanya. Oei Hui Lan adalah anak kesayangan sang Ayah dan dianggap sebagai pembawa hoki. Sehingga walaupun anak perempuan ia mendapatkan warisan yang banyak, berbeda jauh dengan kakak perempuannya.
Tetapi, semua tidak mampu mengobati kekurangan hidup tanpa cinta dan perhatian dari seorang suami yang adalah seorang politisi besar dalam diplomasi internasional untuk China. Pedih memang, walaupun buat sebagian besar orang ini bukan kisah yang terlalu tragis.
Mungkin sisi tragisnya justru sebenarnya bisa digali dari apa yang terjadi pada seluruh kekayaan Oei Tiong Ham setelah saudagar terkaya di Asia itu meninggal. Ketika hartanya diperebutkan oleh 42 anak-anaknya yang menuntut lewat pengadilan. Kemudian ditambah lagi setelah Indonesia merdeka, pada masa pemerintahan Soekarno, perusahaannya dipaksa dijual murah dengan alasan nasionalisasi.
Perjuangan Oei Tiong Ham yang berhasil dalam bisnis yang memiliki jaringan di Asia, Eropa dan Amerika, dikontradiksikan dengan tradisi China yang masih kental mengalir di darahnya akan sangat menarik jika dirinci, direka ulang dan diceritakan kembali, jika memungkinkan. Bahkan, cerita mengenai dua anak laki-lakinya, walau dilahirkan dari seorang gundik, yang adalah orang-orang penting dalam pengembangan bisnis di Indonesia, bisa jadi menjadi cerita yang inspiratif.
Tetapi, kisah Oei Hui Lan ini tetap 'mengena' maknanya. Sehingga tanpa perlu merasakan sendiri kemewahan, siapa yang membacanya akan menancapkan dalam hati, bahwa; sudah terbukti harta tidak akan dapat membeli kebahagiaan (lagi). Dan sebuh makna penting lain seperti tertulis dalam sebuah pepatah cina; 'Tidak ada pesta yang abadi selamanya". Demikianlah harta, hanyalah setumpuk materi yang sebanyak apapun tidak mungkin tidak akan habis.