Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Ideologi

oleh: timwacana     Pengarang : Bryan Magee
ª
 
Ideologi sebagai wacana, hakikatnya merupakan kesatuan gagasan, keyakinan, dan pemikiran yang terus ada menyejarah dan tak pernah hilang. Sebaliknya, dalam tataran praksis, ideology (politik atau ekonomi) telah mengalami berbagai interpretasi dan pengertian. Dalam tataran modern, ideologi memiliki makna negatif atau jelek (perioratif) sebagai teorisasi atau spekulasi dogmatik, khayalan kosong, dan tidak realistis. Ideologi juga memiliki makna positif (melioratif) sebagai setiap sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal yang filosofis dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Dalam ranah implementatif, berbagai macam ideologi (liberal klasik, neoliberalisme, marxis, sosialis, atau Pancasila sekalipun) mengalami dekonstruksi dan interpretasi yang beragam sesuai pengalaman dan kesadaran serta nilai-nilai yang diyakini individu sebagai sesuatu yang benar. Demikian juga ideologi suatu negara, yang dipandang terbaik oleh para elitenya, belum tentu akan sama dimaknai oleh rakyatnya. Kenyataannya suatu ideologi tentu akan sangat tergantung dari sejauhmana ideologi mampu menjawab berbagai kepentingan praktis para penganutnya. Contoh ekstrem, banyak orang meragukan kemampuan neoliberalisme sebagai kelanjutan modernisme untuk menjawab sistem ekonomi Indonesia. Begitu juga halnya dengan sosialisme, padahal keduanya bertujuan sama yang substantif yakni menyejahterakan rakyat dengan cara yang berbeda. Demikian juga kehadiran Pancasila dengan segala indikator dan metode sosialisasi, penataran yang begitu masif pada rezim penguasa terdahulu, ternyata tak memiliki relevansi dengan berkurangnya perilaku KKN yang membuat negeri ini terjebak dalam lingkaran keterpurukan dalam berbagai dimensi. Sungguh suatu dialektika ideologi yang sulit dipahami dengan logika dan nurani yang umum.
Menurut Marx, karena superstruktur ditentukan oleh nilai dasar, maka bisa dipastikan ia menyokong ideologi-ideologi nilai dasar tersebut. Ideologi-ideologi adalah beberapa ide, gagasan dan kecenderungan yang merubah dan didapat individu melalui kehidupan
bermasyarakat. Ia menampilkan nilai-nilai dan gagasan dominan sebagai sistem kepercayaan masyarakat secara keseluruhan, dan juga mencegah individu memandang bagaimana sebenarnya fungsi masyarakat. Literatur, sebagai produk budaya, adalah suatu bentuk ideologi, yang memperkuat kekuasaan kelas atas. Sebagai contoh, pada abad ke-18, literatur telah digunakan oleh sekelompok golongan berbahasa Inggris kelas atas untuk menunjukkan dan memperlihatkan sistem nilai dominan kepada golongan yang lebih rendah.
Budaya dan ideologi tentu saling berhubungan dan mempengaruhi di mana apabila ideologi suatu bangsa (masyarakat) mengalami degradasi(penurunan) dan dekadensi (kerusakan), maka jati diri bangsa itu termasuk ciri khas, perilaku budayanya juga akan tererosi, akibatnya tidak stabilnya situasi dan kondisi di masyarakat sebagai akibat- akibat dari kebuntuan saluran- saluran normatif di masyarakat. Misal, kebudayaan politik dan kesadaran politik di Indonesia yang merosot akan menimbulkan masalah ”keadilan sosial” kaitannya dengan kebudayaan dan sistem politik berada di dalam struktur masyarakat yang sangat merugikan masyrakat. Ini berakibat melunturkan nilai- nilai ideologi bangsa Pancasila.

Diterbitkan di: 22 April, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Apa literatur yang memuat tentang ideologi Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    sebutkan macam-macam ideologi beserta nama negaranya Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mantap broo Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa literatur yang memuat ideologi ? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.