Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kappa

oleh: matamata     Pengarang : Ryunosuke Akutagawa
ª
 
Kappa, sebuah novel besutan sastrawan jenius Jepang yang hidup di zaman Meiji, Ryunosuke Akutagawa. Selain menjadi peraih nobel sastra, nama Akutagawa diabadikan menjadi sebuah penghargaan sastra bergengsi di jepang, yakni Anugerah Akutagawa.

Kappa ditulis dari sudut pandang orang pertama, seseorang di sebuah rumah sakit jiwa yang disebut sebagai Pasien no. 23. Dikisahkan oleh Pasien no. 23 bahwa dirinya tersesat di negeri Kappa dan tinggal beberapa lama di tempat tersebut. Kappa merupakan makhluk legenda Jepang, memiliki tinggi sekitar 1 meter dan memiliki lekukan cekung berisi cairan di kepala. Pasien no. 23 mempelajari bahwa tata kehidupan Kappa amat berbeda dengan aturan dan adat manusia. Sembari memaparkan perbedaan itulah, Akutagawa (lewat sudut pandang Pasien no. 23) menyindir tata kehidupan manusia, khususnya manusia Jepang pada zamannya.

Bayi Kappa yang akan lahir, dikisahkan secara ajaib memiliki kemampuan untuk berbicara. Menimbang untung-rugi dari kelahiran dan kehidupannya kelak. Hal-hal semacam kondisi ekonomi keluarga, nama baik dan reputasi dipikirkan betul oleh si jabang bayi demi memastikan bahwa ia tidak akan menyesal begitu lahir ke dunia. Jika dirasa hal-hal tersebut tidak menguntungkan, maka si jabang bayi boleh saja menolak untuk lahir. Lalu, lagi-lagi secara ajaib si jabang bayi bisa musnah begitu saja dari perut Kappa yang mengandungnya.

Dalam kehidupan manusia, proses semacam kelahiran Kappa itu cuma dongeng belaka. Manusia sejak lahir sudah menjadi obyek yang ditulisi identitas tertentu dan tentu saja tak bisa dipilih. Kemudian oleh kedua orangtua, manusia diberi nama yang sekiranya baik dan dibebani berbagai harapan. Lebih jauh lagi, proses tumbuh kembang manusia kemudian diarahkan. Terkadang berdalih demi kebaikan sang anak , orang tua akan memaksakan sesuatu. Alih-alih sebagai kebaikan sang anak, sebenarnya patut dicurigai bahwa manusia melakukan hal tersebut demi kebaikannya sendiri. Agar disebut sebagai orang tua yang berhasil misalnya.

Satire seperti hal di atas banyak dituangkan oleh Akutagawa dalam Kappa. Termasuk di dalamnya adalah sensor terhadap karya seni, kapitalisme serta hubungan antara laki-laki dan perempuan. Persoalan-persoalan tersebut masih saja dapat dijumpai berkelindan di tiap zaman. Meski ditulis pada tahun 1927, Kappa tetap bisa dibaca dan diapresiasi di zaman apapun, sebuah novel yang abadi.

Diterbitkan di: 18 Nopember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.