Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

The Kite Runner

oleh: LisMaulina     Pengarang : Khaled Hosseini
ª
 
Penerjemah : Berliani M Nugrahani Penerbit : Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka Tahun 2008

SEJAK kecil, satu-satunya teman baik Amir adalah Hassan, putra Ali, pembantu keluarganya. Mereka sama-sama tidak punya ibu. Ibu Amir meninggal dunia. Sementara Ibu Ali meninggalkannya bersama Ayahnya untuk tinggal bersama pria lain. Amir mengajari Hassan baca tulis. Sementara Hassan selalu membantu Amir dalam segala hal, termasuk sebagai pemegang gulungan benang saat mereka main layangan.
Ketika Festival layangan berlangsung, Amir yang jago ikut berlomba. Amir ingin memenangkannya demi menyenangkan ayahnya. Entah mengapa, selama ini dia merasa perhatian dan kasih sayang ayahnya terbagi untuknya dan utuk Hassan. Itu yang Amir tak habis mengerti karena Hassan hanyalah anak pembantu. Amir berhasil memutus semua laying-layang lawannya. Agar menjadikannya juara sejati, dia harus mendapatkan laying-layang yang putus tersebut. Hassan mengejarnya lebih dulu, dan berjanji pada Amir untuk mendapatkannya. Amir menyusul di belakang.
Hassan berhasil mendapatkan laying-layang. Namun dia harus mempertahankannya dari Asep dan kawan-kawan yang hendak merebutnya. Mereka mencelakai Hassan. Amir melihatnya. Dia ingin menolong, tapi takut. Dia memilih bersembunyi dan pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi. Bahkan ketika Hassan memberikan layang-layang kepadanya dan Amir berhasil membuat Ayahnya bangga dengan kemenangannya.
Sejak itu, Amir dihantui perasaan berdosa. Perasaan itu begitu menyiksanya sehingga menganggap Hassan sebagai penyebabnya. Agar perasaan itu hilang, dia berusaha mengusir Hassan dari kehidupan mereka. Dia menuduhnya mencuri. Ayahnya tidak percaya. Tapi Hassan mengakuinya untuk melindunginya. Ayahnya memaafkannya, sikap yang dibenci Amir karena menganggap Ayahnya terlalu menyayangi Hassan. Tapi Ali tahu diri, dia memilih pergi dengan membawa Hassan. Ayahnya tak bisa mencegah mereka.
Politik di Afganisthan bergolak. Amir dan Ayahnya terpaksa mengungsi. Rumah dititipkan kepada teman dekat Ayahnya, Paman Rahim Khan. Berdua mereka berimigrasi ke Amerika dan mencari penghidupan di sana. Ayahnya bekerja di POM bensin. Amir melanjutkan sekolah dan kuliah. Dia memilih menjadi penulis, walau Ayahnya semula tidak setuju. Tapi tekatnya bulat dan akhirnya berhasil. Ayahnya bangga.
Amir dewasa mulai jatuh cinta pada seorang gadis turunan Afganisthan juga, Soraya. Mereka menikah, namun lama tidak dikarunia anak. Sementara kesehatan ayahnya mulai menurun, sakitnya semakin parah, kemudian meninggal dunia.
Tiba-tiba, Amir mendapat kabar dari Paman Rahim Khan. Dia sangat menghormati teman ayahnya ini karena sering memberikannya buku sehingga menginspirasikannya menjadi penulis. Rahim Khan juga yang dititipi ayahnya rumah mereka di Afganisthan. Namun Amir sama sekali tidak menyangka pertemuannya dengan Rahim Khan justru membuka lagi lembar masa lalunya, Hassan.
Rahim bercerita, sepeninggal mereka, dia kembali bertemu Ali dan Hassan. Dia minta tolong mereka untuk kembali tinggal di sana sekaligus untuk menjaga rumah tersebut, karena dia sendiri sering keluar kota untuk berobat. Hassan menikah dan punya anak lelaki diberi nama Sohrab. Paman Rahim memperlihatkan foto mereka. Ketika Ali meninggal, ibu yang pernah meninggalkan keluarga kembali dan tinggal bersama mereka.
Tapi tragedy datang ketika tentara mendatangi rumah tersebut dan tidak percaya mereka ditugasi menjaganya. Mereka menuduh Hassan yang dari kasta rendah telah merebutnya. Dalam perselisihan, tentara menembak Hassan dan keluarganya, kecuali Sohrab, anaknya. Mereka menahannya. Paman Rahim meminta Amir mencari Sohrab dan menyelamatkannya.
Semula Amir menolak keinginan ini. Tapi Paman Rahim membuka rahasia besar yang terpendam sekian lama. Hassan sesungguhnya adalah saudaranya satu ayah. Pasalnya, Ali tidak mungkin punya anak karena sudah divasektomi.
Sekarang jelaslah bagi Amir, mengapa dia merasa Ayahnya sangat menyayangi Hassan, sampai dia merasa kasih sayang dan perhatian ayahnya terbagi untuk Hassan. Mengetahui hal ini, semakin besar perasaan berdosa yang pernah dipendamnya bertahun-tahun, mengingat buruknya perlakuannya kepada Hassan, terutama sejak kejadian buruk yang diterima Hassan dan disaksikan di persembunyinya. Akhirnya, Amir memenuhi permintaan Paman Rahim kembali ke Afganisthan untuk menyelamatkan Shorab, putra Hassan. Apalagi Soraya mendukungnya karena mereka lama tidak punya anak.
Perjuangan Amir bertemu dengan Sohrab sangat berat karena Afganisthan masih dalam kondisi perang. Dia harus bertarung mati-matian dengan Asep, teman kecil yang pernah mencelakakan Hassan. Ketika berhasil melarikan Sohrab, dia dikejar tentara karena Asep adalah komandang mereka. Berhasil masuk ke Pakistan, Amir mendapati Paman Rahimnya sudah meninggal. Mau tak mau, dia harus membawa Sohrab ke Amerika untuk tinggal bersamanya.
Setelah melalui proses adopsi yang tidak mudah, mereka berhasil membawa Sohrab. Soraya sangat menyayanginya. Tapi Sohrab yang banyak menjalani penderitaan masih trauma. Dia sama sekali tak mau bicara walaupun tidak bisu. Dia tak menaruh perhatian atau tertarik dengan apapun. Kecuali satu, permainan layang-layang. Amir melihat kesempatan itu. Teringat bagaimana dia bermain laying-layang bersama Hassan, Amir mengajak Sohrab untuk bermain bersamanya. Untuk pertama kalinya dia melihat senyum Sohrab.

Diterbitkan di: 14 September, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.