Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel & Novela>Kerudung Merah Kirmizi

Kerudung Merah Kirmizi

oleh: katanka     Pengarang : Remy Sylado
ª
 
Membaca coretan-coretan Remy Sylado dalam novel Kerudung Merah Kirmizi ini kita dibawa ke dalam kehidupan nyata sehari-hari yang sering kita alami. Tarlihat jelas bahwa Remy ingin mengatakan dengan jujur bahwa peristiwa yang terjadi adalah hal biasa yang sering dialami oleh semua orang. Dengan mengambil tema cinta biasa, Remy ingin memberi kepada pembaca sebuah cerita sederhana yang “biasa” dan apa adanya.
Dengan latar sosial kehidupan reformasi yang kekinian Remy ingin memberikan sindiran pada tata kehidupan saat ini, dimana banyak orang berharap adanya perubahan prilaku, tabiat dan kebiasaan lampau yang kotor dan penuh dengan kebiasaan-kebiasaan korupsi sedangkan tanpa sadar kita semua tejebak untuk melestarikan dan melakukan hal itu pula.
Dengan sejujurnya Remy ingin pembaca menilai bahwa perubahan itu adalah hal yang di idamkan oleh banyak kalayak. Dia juga ingin memberi kesan bahwa kebobrokan rezim tidak serta merta menyeret seluruh manusia yang ada dalam system itu ikut bobrok dan kotor. Hal ini digambarkannya dalam karakter Winata sebagai polisi yang sanggup bertindak dan berbuat benar sesuai dengan sumpahnya sebagai abdi negara.
Tetapi Remy tidak selamanya bisa mempertahankan alur yang mempesona itu terus-menerus. Pada akhirnya dia terenggah-enggah dan terjebak dalam ketidak wajaran karena harus terpaksa atau memaksakan diri untuk memberikan kritik-kritiknya. Sehingga pada akhirnya alur yang terjalin terlihat seperti pussle yang jelas guratan-guratan batas antara tema cinta dan tema sosial. Bahkan pada akhirnya harus dikatakan cinta yang dibangun oleh Remy lewat tokoh-tokohnya seperti khayalan anak-anak ABG yang selalu menuntut kondisi happy ending dalam setiap penyelesaian konflik, bahkan cinta Myrna dan Luc Sondak hanyalah seperti cerita roman picisan ataupun kalau ditulis dengan serius terlihats seperti novel yang ditulis oleh penulis pemula yang selalu ingin menyenangkan pembacanya, hampir persis dengan alur cerita-cerita sinetron yang ironisnya juga dikritik oleh Remy. Selain karakter-karakter yang dia bangun harus terus jalin melindan seperti rotan yang tidak pernah terjamah manusia di hutan belukar yang lebat. Serba kebetulan. Si A kenal dengan Si B yang kebetulan Keponakan Si C yang ternyata juga adik dari Si C dst-dst.
Kritik-kritik Remy juga terkesan asbun alias asal bunyi, tanpa kewajaran dan penuh pemaksaan. Hal ini tidak sulit kita temui, bagaimana seorang “bu Purwo” perempuan yang digambarkan norak-pesolek dan mata duitan harus mengkritik rupiah yang terseok-seok terhadap kuatnya dollar, dan hal ini terlihat waktu memeras Om Sam? Bagi kita, melihat tokoh dengan karakter seperti itu-mata duitan dan sangat senang dengan penderitaan orang lain- yang penting toh tetap nilai duitnya, bukan karena rupiah atau dollar.
Ketidak wajaran terus saja menjalari ritme novel ini, apalagi pada puncak konflik yang terbangun, bagaimana Om Sam yang digambarkan sangat berkuasa pada awal cerita harus kehabisan amunisi dan harus membuang mayat Dela sendirian dan untuk itu dia harus bertemu dengan Martinus Noya-si pembuat bom, yang akhirnya harus membuat berpuluh bom di Bali, setelah mendapat-maaf-pantat si Om. Kelucuan yang tidak wajar terlihat jelas disini, sekali lagi dengan kaliber kejahatan seperti Om Sam, dengan konyolnya dia harus membuang mayat Dela dengan menggunakan sebuah feri penyeberangan Merak-Bakauheni. Tidak usah tokoh sekaliber Om Sam, seorang preman kampung pun tidak akan dengan bodohnya membuang mayat ke laut dengan menumpang sebuah feri penyeberangan. Dengan kekayaan yang melimpah tidak sulit seharusnya om Sam menyewa sebuah kapal, bahkan seharusnya dia pun harusnya juga memilikinya seperti trend orang-orang kaya Jakarta sekarang. Ada juga seorang tokoh LSM-Emha Isa Ibrahim-yang lolos dari pembunuhan yang dirancang Om Sam. Hanya ngumpet dan tidak berani keluar dari tempat persembunyiaannya, tanpa sekalipun berusaha menghubungi teman-temannya. Padahal kita tahu bahwa tokoh-tokoh LSM dan pergerakan selalu mengandalkan jaringan yang luas untuk menhadapi kekuatan senjata dan kekuasaan yang otoriter.
Pada akhirnya harus kita akui bahwa Remy seperti terpaksa kejar tayang atas terbitnya novel tebal yang bersampul sangat menarik ini, cerita ditutup happy ending dengan peristiwa April Mop-perkawinan Myrna dengan Luc Sondak dan berubahnya cinta sejati Winata dengan ‘mau dipaksa kawin’ dengan Nia-sang sekretaris. Sebuah ending lucu, ataukah memang Remy sedang mengisengi kita dengan April Mop-nya. Siapa ingin baca hayo?! Anda tentu senang membaca puisi-puisi mistik sufi yang keluar dari mulut Dela. Dari semua kondisi diatas novel ini cukup menarik dan berhasil memenangi hadiah sastra khatulistiwa 2001-2002.

Diterbitkan di: 27 Oktober, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.