Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Wo ai ni Allah

oleh: AllahuAkbar     Pengarang : Vanny Christi W.
ª
 

   
Semua yang ada pasti ada yang mengadakan dan semua yang tercipta ada yang menciptakan. Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, dan tidak ada sesuatau yang ada dengan sendirinya, semua direncanakan dan diciptakan.
Hidup tanpa ber-Tuhan, itu bararti hidup tanpa tujuan. Dan itu (baca: tidak ber-Tuhan) sangat tidak mungkin bagi seorang hamba yang memang diciptakan untuk menyembah yang mencipta (baca: Tuhan). Novel karya Vanny Chrisma ini berusaha mengungkapkan akan ke-wujud-an Tuhan bagi semua ummat atheis–tidak bertuhan--, dan adanya alam ini merupakan salah satu buktinya. Amei Chan, belia empat belas tahun, terlahir dari keluarga keturunan China yang atheis merupakan tokoh utama dalam novel ini. Dia termasuk anak yang pendiam dan penurut. Di tempat tinggalnya dia tidak disukai oleh teman-teman sebayanya, karena dianggap sebagai anak orang gila. Hal itu –dianggap anak orang gila—karena ayahnya mengalami kelainan jiwa semenjak dia–ayahnya—memutuskan untuk mencari Tuhan, setelah beberapa saat sebelumnya dia selalu dihantui mimpi-mimpi aneh yang dipercayainya sebagai petunjuk dari Tuhan. Namun, keluarganya tidak menyetujui keputusan itu --ingin bertuhan--, karena hal itu dianggap menyalahi kepercayaan nenek moyang mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan beranggapan bahwa semua yang ada di dunia ini ada dengan sendirinya. Ameilah satu-satunya orang yang mengatakan bahwa ayahnya tidak gila dan setuju akan keputusannya. Sampai pada akhinya dia tewas terbunuh, sebelum berhasil menemukan Tuhan yang akan dia sembah. Namun sebelum meninggal, dia sempat berwasiat pada Amei, anaknya, untuk melanjutkan misinya dalam mencari Tuhan.
Amei berusaha melanjutkan misi ayahnya, walaupun dia harus dibuang oleh Ibu kandungnya di jalanan dan mengalami gangguan jiwa yang akut. Hari-hari dia jalani bersama seorang mahasiswa psikologi Semester akhir bernama Husain, yang menjadikannya sebagai volunter (baca: pasien) dalam menggarap skripsi yang bertemakan tentang Obsesif Komplusif (hlm. 66).
Husain berusaha menguak latar belakang pasiennya yang ternyata begitu kelam dan menakutkan itu dengan telaten, sampai-sampai dia lupa bahwa gadis kecil yang malang itu adalah pasiennya.
Dalam novel ini terdapat banyak lakon yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang muslim dewasa seperti Husain. ’Husain terkejut seketika, dan memeluk Amei untuk menenangkannya’. (hlm. 227). Selain itu, ada salah satu narasi yang memaparkan bahwa, ada perbedaan antara orang muslim yang taat dan tidak untuk melakukan hal-hal yang jelas dilarang agama. Seperti kutipan berikut; ”Jangan menyentuhku, ini tidak boleh!” ujarnya sedikit tidak enak. Husain khilaf. Dia lansung teringat bahwa Shafiyah adalah seorang muslimah yang taat dalam menjalankan hukum Islam. (hlm. 227).
Meskipun terdapat beberapa kekurangan yang sedikit mengganggu, hal itu dapat ditutupi dengan berbagai peristiwa berantai yang seru dan seakan-akan mengajak pembaca untuk terus mengikuti ceritanya. Dan tidak dapat dipungkiri pula, kepiawaian penulis dalam menciptakan karakter tokoh-tokoh yang buta akan pengetahuan tentang keagamaan.
Pengarang juga piawai mempreteli novel beraroma religi ini, sehingga ceritanya terasa ngalir dan enak dibaca. Dengan menyelipkan beberapa bahasa Mandarin dan dialog-dialog keagaman, khususnya, agama Budha dan Nasrani kita dapat mengetahui banyak hal tentang agama lain. Selain itu novel ini juga menyuguhkan beberapa referensi tentang penyakit kelainan jiwa, obsesif kompulsion dan skizofrenia, yang mungkin memang akan dimiliki bagi mereka yang sering mengalami halusinasi.
Novel yang sarat dengan dialog-dialog ke-tuhan-an ini, sangat cocok bagi kaum kita—remaja, yang menurut Salim A. Fillah dalam bukunya Nikmatnya pacaran setelah pernikahan bahwa masa remaja merupakan masa kelembapan, karena pada masa-masa itulah berbagai karakter seseorang mulai tumbuh dan berkembang—. Dengan novel kita bisa mempertanyakan kembali keislaman kita. Apakah kita sudah mencapai Islam yang kaffah (baca: sempurna), dan benar-benar percaya semua syari’atnya dari hati. Marilah kita renungkan bersama, karena hawatir selama ini kita terpaksa jadi muslim. Jika benar begitu, sia-sialah semua apa yang kita perbuat selama ini.

Diterbitkan di: 17 Agustus, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mau dong resensi nya dari data editorial sampe dengan amanat khusus nya pleaseeeeee Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 2. Sri

    wd

    Keren abiz

    1 Nilai 02 Nopember 2012
  2. 1. qotrun naila

    suka

    aku sangat suka membacanya selain itu isinya pun sangat menarik sanyang aku ngak punya bukunya tapi isinya kereeeeeeeeeeeeeeen.................100%

    1 Nilai 07 Mei 2012
X

.