Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Para Priyayi

oleh: ZAZU     Pengarang : Umar Kayam
ª
 

Embah "Guru" Sastro Darsono yang memiliki nama kecil Sudarsono adalah cikal bakal sebuah keluarga besar yang nantinya mencuat menjadi golongan priyayi, sebutan untuk orang yang memilki status terhormat dalam tata masyarakat Jawa. Bahkan sejak mula, nama Sudarsono bagi Embah Guru saat baru lahir adalah sebuah karunia atau pertanda bahwa ia akan menjadi 'orang' nantinya. Pada masa tahun 1900-an itu, nama sebagus itu hanya mungkin menjadi milik anak priyayi . Berkat kebaikan Ndoro Seten sajalah ia yang anak petani kecil bisa menyandangnya. Ndoro Seten juga yang membuatnya bisa menjadi guru di Wanagalih dan mulai membangun dinasti kepriyayiannya sendiri dari sana.

Kompleksitas cerita terjalin begitu alami dan logis dalam novel setebal 308 yang ditulis Alm. Umar Kayam di Yale University, New Heaven ini. Salah satu bagian yang penting adalah pengungkapan borok perilaku saudara jauh Sastro Darsono yang memikat gadis desa dengan menumpang nama priyayinya. Kisah ini menjadi warna sekaligus kunci diskusi filosofis mengenai siapa sesungguhnya priyayi itu. Karena anak haram jadah hasil hubungan tak resmi, yang bernama Wage dan diubah menjadi Lantip itu, kelak akan menjadi tokoh paling berjasa dan bijaksana dalam keluarga besar Sastrodarsono. Pak Kayam sepertinya cenderung memilih Lantip sebagai representasi kepriyayian, keijaksanaan dan intelektualitas Jawa yang sesungguhnya.

Para priyayi benar-benar memotret tingkah laku priyayi-priyayi, meskipun kelemahannya adalah pemotretnya yang tak lain seorang priyayi juga. Tetapi kabar baiknya, priyayi yang satu ini cukup obyektif dan punya kepekaan terhadap cara pandang kaum biasa terhadap orang-orang dikelasnya. Bahasan mengenai judi, selingkuh, kecenderungan politik, gaya hidup, konsumerisme dan lain-lain terungkap sesuai dengan masanya dari jaman Belanda, Kemerdekaan, Revolusi hingga akhir orde lama. Bahkan diteruskan ketika tokoh-tokoh berikutnya bersentuhan dengan budaya barat kontemporer. Tetapi cerita ini baru diungkap dalam buku berikutnya yang berjudul Jalan Menikung.

Novel ini sungguh kaya. Bahasa dan istilah, ilmu psikologi, isu gender, politik, humor, humaniora, budaya, militer sampai dialog agama ada dalam novel yang penulisannya dibiayai oleh Ford Foundation dan Henry Luce Foundation. Dua yang disebut terakhir ini, membuat Pak Kayam pernah disindir sesama sastrawan sebagai ayam petelur yang diberi makan untuk bertelur saja. Tetapi menilik kekayaan novel ini, Pak Kayam pasti telah memotret kehidupan priyayi hampir sepanjang hidupnya dan menuliskannya dengan seksama selama setahun itu.

Sastro Darsono memiliki anak Nugroho, Hardoyo dan Sumini. Anak-anak priyayi yang bakal menjadi golongan menengah atas nantinya di jaman kemerdekaan. Nugroho menjadi tentara yang berpangkat Kolonel karena masa remajanya menjadi anggota Tentara Pelajar. Keluarganya kaya, modern dan metropolis. Hardoyo menjadi guru, dan setelah gagal menikah dengan pacarnya yang beragama katholik akhirnya menyunting murid SD-nya sendiri. Sementara, Sumini bersuami seorang priyayi sekaligus darah biru yang mapan.

Hardoyo yang terpelajar memiliki anak Harymurti yang menjadi aktivis dan simpatisan PKI saat beranjak remaja. Lantip si haram jadah, diangkat anak oleh keluarga Hardoyo menjadi abang Harymurti. Lantip, sesuai namanya yang bermakna pintar atau cerdas atau tajam dalam pemikiran, menjadi karakter penolong tanpa pamrih. Ia tak pernah merasa lelah, supel dan berani berkata jujur. Meskipun dalam budaya sopan santun jawa terus terang itu bisa berisiko.

Tragisnya, ia menjadi pahlawan meski hidupnya sendiri tak pernah menjadi sejahtera secara materi. Perkawinannya dengan Halimah yang asli Padang menggambarkan sebuah kisah cinta yang indah, namun sampai akhir cerita mereka hidup sederhana berdua saja tanpa dikaruniai keturunan.

Novel ini, singkat kata, adalah buku yang indah. Tak cukup dinikmati dengan sekali atau dua kali baca. Terimakasih Pak Kayam.***

Diterbitkan di: 27 Maret, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.