Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Maryamah Karpov

oleh: sigith     Pengarang : Andrea Hirata
ª
 
Bab pertama Maryamah Karpov dengan judul yang cukup puitis “Di Bungkus Tilam, di Atas Nampan Pualam”. Aku pun mulai membacanya “Sebagaimana Kawan telah tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orangtua, sejak dulu. Rupanya, begitu pula ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu menempatkan setiap kata ayah bundanya di atas nampan pualam, membungkusnya dengan tilam”. Begitulah paragraf pertama, bab pertama novel Maryamah Karpov.

Bab pertama ini, Andrea Hirata khusus menceritakan tentang ayahnya yang juga berarti menceritakan kehidupan masyarakat kelas bawah. Sebuah kebahagiaan orang yang menjadi buruh di tanah sendiri, ketika mendapatkan sepucuk surat kenaikan pangkat setelah ia bekerja selama tiga puluh satu tahun. Bayangkan saja, di masa sekarang orang begitu mudahnya naik pangkat, dan akan semakin mudah lagi apabila menggunakan cara lain agar pejabat yang lebih tinggi dapat “mempermudah” urusan.

Setelah 31 tahun ayahnya Andrea Hirata baru bisa naik pangkat, akibatnya orang itu benar-benar merasa tidak percaya. “… Berkali-kali Ayah menerawang tanda tangan itu, benar basah tinta pena biru, dari tangan yang dipertuan Mandor sendiri, adanya….. Naik pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembar pun ijazah. Kata-kata itu asing dan ganjil di telinganya. Bagi Ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta”

Begitulah persoalan naik pangkat adalah perkara sulit. Dua hal yang terfikir olehku ketika membaca bab pertama. Pertama, kesetiaan terhadap pekerjaan atau mungkin lebih tepat ketidakberdayaan seorang buruh tambang yang bekerja di tempat sendiri untuk meningkatkan status pekerjaan. Padahal mereka bekerja di tempat sendiri, sedangkan pucuk pimpinan adalah orang lain yang barangkali tidak mempunyai ikatan leluhur atas tanah yang mereka gali bahkan lebih parah lagi tidak bertanggung jawab atas lingkungan dan masa depan bawahan.

Kedua, sudah saatnya cerita semacam ini terus kita angkat. Tak perlu menyembunyikan segala penderitaan, tapi dijadikan sebagai pemicu untuk lebih maju. Sudah selayaknya buku cerita, sinetron atau film yang menceritakan kehidupan orang yang hidupnya bergelimang harta, makan berkecukupan, jabatan cepat naik pokoknya segala pekerjaan yang tidak berkeringat diganti dengan cerita perjuangan hidup.

Bab terakhir dari novel Maryamah Karpov berjudul Komedi Putar. Andrea Hirata menulis.

“Lama bergaul dengan orang-orang Ho Pho, aku sedikit banyak paham metafora mereka. Jika seorang perempuan Ho Pho meminta seorang lelaki mencuri dirinya dari keluarganya, itu artinya ia bersedia dipinang”.

Tentu kita tahu perempuan Ho Pho itu adalah Aling, sang kekasih Andrea Hirata. Luar biasa cinta seorang lelaki yang tulus kepada perempuan itu, jarak yang jauh untuk berkelana yang memungkinkan dia bertemu dengan banyak perempuan sekaligus banyak godaan bukannya untuk memupus dan memutus ikatan cinta dalam hatinya. Lebih dari itu, justru berusaha untuk melakukan pencarian dan menemukan kekasihnya kembali yang lama terpisah. Bukti dari pencarian itu adalah “Aku menatap Aling dalam-dalam. Ia melihatku dengan cara bahwa ia tahu aku tak mungkin kehilangan dirinya, dan ia tahu, bahwa dalam matanya itu, aku telah menemukan diriku sendiri, seorang lain yang pula telah kucari-cari sepanjang hidupku”.

Tidak ada yang membahagiakan bagi sepasang kekasih, kecuali bertemu kembali setelah lama berpisah. Cerita tentang Adam dan Hawa yang terpisah sekian lama setelah mereka diturunkan dari sorga, merupakan kisah pencarian yang luar biasa. Aku yakin, Ikal telah merasakannya pula.

“Seminggu setelah A Ling mengatakan agar aku mencurinya dari pamannya, malam itu, kami berjanji berjumpa di pasar malam untuk naik komedi putar. Malam itu pula aku akan menyampaikan rencanaku pada ayahku. Aku berjanji untuk menyampaikan kabar gembira pada Aling nanti jika kamu bertemu di pasar malam.

Usai magrib yang senyap, Ayah duduk di kursi malasnya. Sepi. Aku menghampirinya. Ia bangkit dari kursinya. Hanya kami berdua di ruangan yang diterangi cahaya lampu minyak…”

Sengaja aku tidak meneruskan cerita novel Maryamah Karpov hingga terakhir, karena kepuasan membaca sendiri akan berbeda dengan mendengarkan cerita orang lain. Walaupun ketika menulis ini timbul kesadaran bahwa aku telah menjadi relawan mempromosikan Maryamah Karpov, tapi biarlah. Ini lebih baik dari pada menggosipkan orang lain yang tak jelas kebenarannya. Lebih baik kita bercerita tentang tema yang membangkitkan semangat hidup dan memperkuat budaya membaca kita.

Terakhir, sedikit catatan atas novel Marayamah Karpov. Secara pribadi novel ini dapat menjawab rasa keingintahuan kita tentang kelanjutan cerita Arai, Lintang, Ikal, Aling setelah novel Edensor tersebut. Namun, terasa agak berbeda ketika membacanya. Membaca kalimat demi kalimat dalam Maryamah Karpov, saya merasa sang penulis dalam menyampaikan ceritanya tidak sebebas ketika ia menulis di tiga buku sebelumnya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Namun, apapun saya kemukakan barangkali berbeda dengan pendapat yang lain.

Selamat membaca.

Diterbitkan di: 02 Februari, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    maryamah karpov adalah novel karangan dari mana ? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    berapa harga novel ini ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    mangibu mangatus 27 April 2013
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.