Bab pertama Maryamah Karpov dengan
judul yang cukup puitis “Di Bungkus Tilam, di Atas Nampan Pualam”. Aku
pun mulai membacanya “Sebagaimana Kawan telah tahu. Aku ini, paling
tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat
baik, patuh pada petuah orangtua, sejak dulu. Rupanya, begitu pula
ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu menempatkan setiap kata
ayah bundanya di atas nampan pualam, membungkusnya dengan tilam”.
Begitulah paragraf pertama, bab pertama novel Maryamah Karpov.
Bab pertama ini, Andrea Hirata khusus
menceritakan tentang ayahnya yang juga berarti menceritakan kehidupan
masyarakat kelas bawah. Sebuah kebahagiaan orang yang menjadi buruh di
tanah sendiri, ketika mendapatkan sepucuk surat kenaikan pangkat
setelah ia bekerja selama tiga puluh satu tahun. Bayangkan saja, di
masa sekarang orang begitu mudahnya naik pangkat, dan akan semakin
mudah lagi apabila menggunakan cara lain agar pejabat yang lebih tinggi
dapat “mempermudah” urusan.
Setelah 31 tahun ayahnya Andrea Hirata
baru bisa naik pangkat, akibatnya orang itu benar-benar merasa tidak
percaya. “… Berkali-kali Ayah menerawang tanda tangan itu, benar basah
tinta pena biru, dari tangan yang dipertuan Mandor sendiri, adanya….. Naik pangkat tak
masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembar pun
ijazah. Kata-kata itu asing dan ganjil di telinganya. Bagi Ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta”
Begitulah persoalan naik pangkat adalah
perkara sulit. Dua hal yang terfikir olehku ketika membaca bab pertama.
Pertama, kesetiaan terhadap pekerjaan atau mungkin lebih tepat
ketidakberdayaan seorang buruh tambang yang bekerja di tempat sendiri
untuk meningkatkan status pekerjaan. Padahal mereka bekerja di tempat
sendiri, sedangkan pucuk pimpinan adalah orang lain yang barangkali
tidak mempunyai ikatan leluhur atas tanah yang mereka gali bahkan lebih
parah lagi tidak bertanggung jawab atas lingkungan dan masa depan
bawahan.
Kedua, sudah saatnya cerita semacam ini
terus kita angkat. Tak perlu menyembunyikan segala penderitaan, tapi
dijadikan sebagai pemicu untuk lebih maju. Sudah selayaknya buku
cerita, sinetron atau film yang menceritakan kehidupan orang yang
hidupnya bergelimang harta, makan berkecukupan, jabatan cepat naik
pokoknya segala pekerjaan yang tidak berkeringat diganti dengan cerita
perjuangan hidup.
Bab terakhir dari novel Maryamah Karpov berjudul Komedi Putar. Andrea Hirata menulis.
“Lama bergaul dengan orang-orang Ho
Pho, aku sedikit banyak paham metafora mereka. Jika seorang perempuan
Ho Pho meminta seorang lelaki mencuri dirinya dari keluarganya, itu
artinya ia bersedia dipinang”.
Tentu kita tahu perempuan Ho Pho itu
adalah Aling, sang kekasih Andrea Hirata. Luar biasa cinta seorang
lelaki yang tulus kepada perempuan itu, jarak yang jauh untuk berkelana
yang memungkinkan dia bertemu dengan banyak perempuan sekaligus banyak
godaan bukannya untuk memupus dan memutus ikatan cinta dalam hatinya.
Lebih dari itu, justru berusaha untuk melakukan pencarian dan menemukan
kekasihnya kembali yang lama terpisah. Bukti dari pencarian itu adalah
“Aku menatap Aling dalam-dalam. Ia melihatku dengan cara bahwa ia tahu
aku tak mungkin kehilangan dirinya, dan ia tahu, bahwa dalam matanya
itu, aku telah menemukan diriku sendiri, seorang lain yang pula telah
kucari-cari sepanjang hidupku”.
Tidak ada yang membahagiakan bagi
sepasang kekasih, kecuali bertemu kembali setelah lama berpisah. Cerita
tentang Adam dan Hawa yang terpisah sekian lama setelah mereka
diturunkan dari sorga, merupakan kisah pencarian yang luar biasa. Aku
yakin, Ikal telah merasakannya pula.
“Seminggu setelah A Ling mengatakan
agar aku mencurinya dari pamannya, malam itu, kami berjanji berjumpa di
pasar malam untuk naik komedi putar. Malam itu pula aku akan
menyampaikan rencanaku pada ayahku. Aku berjanji untuk menyampaikan
kabar gembira pada Aling nanti jika kamu bertemu di pasar malam.
Usai magrib yang senyap, Ayah duduk di
kursi malasnya. Sepi. Aku menghampirinya. Ia bangkit dari kursinya.
Hanya kami berdua di ruangan yang diterangi cahaya lampu minyak…”
Sengaja aku tidak meneruskan cerita
novel Maryamah Karpov hingga terakhir, karena kepuasan membaca sendiri
akan berbeda dengan mendengarkan cerita orang lain. Walaupun ketika
menulis ini timbul kesadaran bahwa aku telah menjadi relawan
mempromosikan Maryamah Karpov, tapi biarlah. Ini lebih baik dari pada
menggosipkan orang lain yang tak jelas kebenarannya. Lebih baik kita
bercerita tentang tema yang membangkitkan semangat hidup dan memperkuat
budaya membaca kita.
Terakhir, sedikit catatan atas novel
Marayamah Karpov. Secara pribadi novel ini dapat menjawab rasa
keingintahuan kita tentang kelanjutan cerita Arai, Lintang, Ikal, Aling
setelah novel Edensor tersebut. Namun, terasa agak berbeda ketika
membacanya. Membaca kalimat demi kalimat dalam Maryamah Karpov, saya
merasa sang penulis dalam menyampaikan ceritanya tidak sebebas ketika
ia menulis di tiga buku sebelumnya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan
Edensor. Namun, apapun saya kemukakan barangkali berbeda dengan
pendapat yang lain.
Selamat membaca.