Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Harga Seorang Wanita

oleh: JakaTarub     Pengarang : Ngarto Februana
ª
 
Bagaimana jika seorang istri digadaikan oleh suaminya sendiri untuk menjadi pelacur? Setelah jatuh tempo lima tahun kemudian, Jono, sang suami, tak mau menebus kembali istrinya, malahan berselingkuh dengan Suti, seorang ronggeng desa. Bahkan Jono tega mencuri uang tabungan istrinya hasil jerih payah melayani para pelanggan yang tidak hanya sekadar dipijat tapi juga minta berhubungan seks. Ya, Anda akan menemukan kisah memikat dalam novel terbitan Dastan Books, November 2006 itu. Melalui bahasa yang lugas tapi cermat dan tajam, cerita mengalir lancar. Dibuka dengan monolog Tini—tokoh perempuan dalam novel ini--di dalam ruang tahanan, mengingat cerita Simbok, ibunya, tentang kesengsaraan hidup di Gunungkidul yang tandus. Tentang tragedi kelaparan massal di masa lalu. Tentang orang-orang PKI yang ditangkap, dibunuh, dan mayatnya dibuang ke gua. Tentang orang-orang yang gantung diri setelah ketiban pulung gantung. Juga tentang bapaknya yang akhirnya gantung diri--pun setelah melihat pulung gantung. Kisah pun terus bergulir. Ya, Tini, kembang desa yang malang itu, seperti mengulang kegetiran nasib ibunya sendiri. Ketika Tini berpamitan hendak pergi ke kota, untuk menjadi tukang pijat—yang sebenarnya menjadi pelacur, Simbok sebenarnya sudah mendapat firasat buruk. Simbok teringat masa lalunya: “Ya, sudah kalau memang kamu sudah niat. Simbok hanya bisa berdoa, semoga kamu tidak bernasib seperti Simbok dulu. Lihat wajah Simbok, Nduk. Lihatlah. Gara-gara mijitin Ndoro Raden Mas, wajah Simbok jadi begini.” Firasat Simbok jadi kenyataan. Di kota, di panti pijat tempatnya “dikaryakan”, Tini diperkosa oleh Parman—germo tempat pelacuran berselubung panti pijat itu. Tini pun akhirnya pasrah. Ia toh tak bisa lari dari panti karena perjanjian gadai itu lima tahun. “Sebelum waktunya, aku tak boleh lari. Di sana aku belum satu tahun. Akhirnya aku pasrah. Aku jalani saja kerjaku sebagai tukang pijat. Mulai saat itu aku tak peduli lagi. Sekalian saja nyemplung jadi pelacur. Terpaksa, Mbok. Aku jadi lonte. Pertahananku sudah jebol. Untuk apa lagi dipertahankan. Bila ada tamu yang minta begituan setelah dipijat, aku lakukan juga. Dapat uang tips. Istilahnya uang ekstra. Aku kantongi sendiri. Aku tak peduli siapa pun yang datang. Lelaki muda, tua, jelek, atau tampan, pokoknya duit.” Lalu bagaimana akhir kisah Tini? Anda perlu membaca novel ini. Seperti tertulis di back-cover: “Februana tidak sekadar menyajikan kisah jual-beli perempuan. Novel ini tak akan mudah Anda lupakan, bahkan amat mungkin mengubah hidup Anda.... Dunia Februana dalam novel ini tak lain merupakan cerminan tegas dari dunia kita. Ya, sadar ataupun tidak, kini kita tengah menghirup udara laki-laki, hidup di dunia laki-laki." Rieke Diah Pitaloka, dalam sebuah ulasannya di VHRMedia.com, mengatakan: “Di saat para pengarang kita sibuk membungkus cerita dengan aneka kemasan yang mengkilat, kinclong, sedap dipandang mata (tapi abai isi), pengarang buku itu justru mencibirkan segala macam permainan bentuk yang mengasyikkan itu. Ia justru menukik di kedalaman sumur kemelaratan di dusun-dusun Gunungkidul.”
Diterbitkan di: 24 Januari, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. Wiku_Pulangasih

    HAM

    Ya, paling tidak denganbaca buku ini HAM terutama perempuan bisa lebih terlindungi. Amin.

    0 Nilai 27 Januari 2008
X

.