Batam Seks In The City
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
91
kata:
900
Diterbitkan di: Februari 11, 2008
Batam memang terlanjur menjadi sebuah pentas kehidupan yang dengan
segala sisi kontradiktif yang berjalan iring-beringan. Barisan dakwah
dan panji-panji moralitas didengungkan, berdampingan dengan perilaku
yang meludahinya. Meskipun yang dominant muncul dan terasa adalah
sebuah keruwetan dari segala segi. Mau dilihat dari segi manapun
keruwetan itu memang selalu menyertai. Terutama perilaku. Dan ironisnya
kedinamikaan keruwetan itulah yang terus berlangsung.Keruwetan
itu pula yang “dipotret” Markus, lalu dipaparkan dalam rangkaian
tulisan dalam buku ini. Keruwetan yang berpangkal soal tentang perilaku
yang bercirikan secara tegas, nilai-nilai sacral seksualitas digerus
oleh nilai-nilai materi, hasrat biologis, dan pencarian kepuasaan yang
tak ada ujung. Maklum, buku “Batam Seks In The City” memang
mengfokuskan pengutaraannya soal itu.Saya sempat berpikiran,
buku ini imitasi dari ide Moamar Emka ”Jakarta Under Cover”. Namun
setelah membacanya, saya keliru. Keduanya berbeda, sekalipun bidang
sorotnya sama: degradasi sacral nilai seksualiatas. Namun ada plusnya
lagi dari Markus, yakni sisipan gugatan tentang kesejatian manusia
dengan pendekatan filosofis humanisme, moralitas dan agama. Bagi Markus
kesejatian manusia adalah rangkuman ketiga makna filosofi itu. Lalu
digugatnya dengan memaparkan parade degradasi nilai-nilai sacral
seksualitas di Batam.Perbedaannya lainnya, jelas-jelas dalam
bentuk tulisan. Jika Moamar Emka berupa suguhan fiksi dengan bentuk
novel. Mengambil setting kota metropolis Jakarta, sedangkan Markus
menyajikan artikel ringan bernas, berasal dari observasi dari realitas
daerah yang tergapai-gapai menjemput “metropolis” bernama Batam.Membaca
tulisan pertama, “Tatkala Apek-apek Jadi Raja Semalam” telah langsung
mengungkap realitas nilai materi begitu harum dan menggulung nilai
sacral seksualitas. Karena terlanjur menjadi komoditi. Ada jual, ada
beli lalu transaksi kemudian “beraksi.” Apalagi dalam “Putih Abu-abu”
serta “Samyong Memori Sebuah Lokalisasi.” Terasa nuansa
“geram” yang dalam pemaparan Markus yang menggunakan nilai moralitas
dan spritualitas agama, sebagai bingkainya untuk menelaah realitas
tersebut. Karenanya itu Markus begitu menukikkan pemaparannya detil
demi detil perilaku para “raja-raja “ yang dijelmakan oleh dolar dan
ringgit yang dibawa para lelaki dari Singapura dan Malaysia.Jika
dalam judul-judul di atas transaksi ‘jual-beli’ seksualitas dalam
bentuk jelas tegas komoditi bisnis, ‘jual-beli” seksualitas dalam
bentuk kemasan sebuah perkawinan, juga dilirik Markus untuk kemudian
dipaparkan dalam “Panggung Sandiwara Isteri Simpanan”. Sekaligus pula
kita tidak bisa mengelak, dalam kaitan ini, tidak hanya poligami yang
berlangsung di ranah pulau ini, melainkan juga poliandri! Meskipun
tidak terlegitimasi oleh hokum yang pasti tidak akan memberikan
justifikasinya. Tapi fakta ada.Dan fakta ini dipaparkan Markus dengan
mengangkat kisah seorang yang sangat mungkin representasi dari beberapa
orang, atau banyak orang? Lalu Markus beralih pada paparan
tentang orientasi seksualitas yang ‘berbeda’ atau bersegmen khusus.
Memang telah pula menjadi bagian fenomena bisnis seksualitas di Batam,
sekalipun hanya kelas kecil-kecilan di pinggiran jalan, ataukah
simpanan dari pelanggan tetap. Ibarat sebuah supermarket, tersedia
untuk semua selera. Penjabaran seksualitas konsumen dengan selera
khusus ini, dipaparkan Markus dengan apik dalam “Ketika Sugi menjadi
Susan.” Markus menjadi lebih bergairah memaparkannya dalam pandangan
keingintahuan serta mencoba memahami sebagai perilaku yang memang
terlanjur ada dan wajar saja untuk ditolerir, seperti yang
dituliskannya. ”Kendati demikian, memaklumi perilaku mereka dalam
batas-batas pendekatan humanisme adalah sesuatu yang tidak salah.” Dormitori,
yang dijabarkan Markus dalam bentuk paradoks suci dan najis, memang ada
benarnya.Karena di sana sudah terbangun persoalan yang memang sisi
bersisian antara dengungan mora