Buku ini dengan cermat memotret kondisi masyarakat
desa di Indonesia
pada umumnya
dan petani pada khususnya. Sempitnya kepemilikan
lahan--rata-rata kurang dari dua hektare--adalah masalah utama petani
Indonesia. Selain itu, di luar Jawa, terutama di pedalaman, sarana
prasarana seperti jalan, listrik, telekomunikasi, air bersih tidak
memadai. Biaya produksi terus meningkat, perubahan iklim tidak menentu,
bencana banjir dan tanah longsor, dan pasar yang tidak bersahabat kian
menambah beban petani. Ini berakibat pada menurunnya ketahanan pangan
nasional. Belum lagi alih fungsi lahan
pertanian ke non-pertanian. Di
tengah kesulitan itu, buku ini juga menawarkan terobosan solusi
alternatif. Untuk meningkatkan
kesejahteraan, penduduk desa mesti
kreatif mencari alternatif sumber daya alam, seperti pemanfaatan
potensi lahan kering dan pengelolaan lahan rawa-rawa. Tentang yang
terakhir ini, buku ini menceritakan sebuah kelompok tani di tepi Sungai
Mahakam di pedalaman Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Sebuah kelompok peternak kerbau di sana memanfaatkan rawa-rawa untuk
beternak kerbau rawa. Unik memang tapi mereka berhasil. Selain itu,
buku terbitan Yayasan Bina Usaha
Lingkungan 2007 ini juga menampilkan
pahlawan lokal yang dengan gigih berjuang untuk kesejahteraan
masyarakat desa seraya memperbaiki kualitas lingkungan. Siti Aminah,
misalnya, perempuan pelestari hutan
bakau dari Sumbawa, Nusa Tenggara
Barat, itu berjuang dengan gigih untuk menanam bakau di pesisir kritis
agar tidak terus tergerus. Setelah bertahun-tahun, ia berhasil, dan
melanjutkan proyeknya di pesisir lain di Tanah Air. Kemudian ada
Jazimah yang berjuang di bukit tandus, di Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Bersama petani di desanya, Jazimah memanfaatkan bukit
tandus hingga bisa menghasilkan tanaman pangan dan meningkatkan
kesejahteraan penduduk. Tak lupa buku ini juga mengisahkan pertanian
organik, sebuah sistem pertanian berbasis keluarga yang ramah
lingkungan, tanpa pestisida, tanpa bahan kimia yang merusak lingkungan.
Kisah tentang pertanian NIETSA yang dilakukan seorang petani di Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, cukup menarik untuk disimak. Sebagai
perbandingan, pada Bab V disajikan kisah pertanian organik di India dan
pemberdayaan perempuan desa di negeri Gajah Putih itu. Pada tiap bab
disertakan kutipan dari tokoh-tokoh dunia, seperti mantan presiden
Amerika Theodore Roosevelt, Soekarno. "Tindakan kecil ketika
dilipatgandakan berjuta-juta orang akan mengubah dunia", demikian salah
satu kutipan yang diambil dari ucapan sejarawan Howard Zinn.
Resensi lain tentang Menempuh Langkah Meraih Harapan