Bisnis Seks di Singapura
Summary rating: 4 stars
24 Tinjauan
Kunjungan:
960
kata:
900
Diterbitkan di: September 17, 2007
BUKU hasil reportase investigasi ini, atau yang oleh penulisnya disebut
sebagai eksplorasi jurnalistik, benar-benar mengungkap hipokrisi atau
kemunafikan Singapura. Selama ini Negeri Singa itu kerap disebut-sebut
sebagai negara paling bermoral. Boleh dikatakan juga sebagai negara
yang serba tidak. Tidak boleh menjual permen karet, tidak boleh
membuang sampah sembarangan dan juga jelas-jelas tidak dengan
pornografi dan pornoaksi.
Tetapi buktinya? Pusat-pusat pelacuran dari yang kelas bawah
hingga yang elite, berkembang sesuai dengan karakteristik pasar
masing-masing. Dari mulai pelacuran kelas gurem seperti di Geylang
hingga pelacuran di kawasan Orchard Road. Buku ini juga menujukkan
ternyata jumlah sentra pelacuran di Singapura lebih banyak ketimbang
Jakarta yang dianggap "kurang bermoral". Fantastis!
Kemunafikan ini juga ditunjukkan oleh Menteri Perdagangan dan Industri
Singapura George Yeo, seperti dalam pernyataannya kepada Asiaweek
(April, 2000): "Kami tak mengiklankan prostitusi. Tapi semua orang
Singapura tahu tentang Geylang dan apa yang terjadi di sana...." (hal.
3). Pernyataan ini tidak tegas. Padahal dalam kenyataannya, pelacuran
di Singapura sekarang ini tak ada bedanya dengan konsep pada zaman
Raffles. Demi duit, uang, dan fulus!. Kalau begini masih pantaskah
sebagian orang Singapura mengatakan: "Jangan mesumlah, kita ini orang
Singapura!"
Dirunut dari sejarahnya, prostitusi di Singapura sudah menjadi
lahan bisnis sejak Stamford Raffles memerintah pada 1819. Saat itu
Raffles sudah berpikir bahwa pulau kecil itu akan menarik perhatian
lelaki petualang dari Asia. Dengan dalih untuk mengentaskan kemiskinan
dan mencari keuntungan, pelacuran pun legal sejak saat itu.(hal 1)
Data paling mutakhir menyebutkan sedikitnya ada 6.000 pelacur
di Singapura. Mereka tidak hanya warga domestik tetapi para pendatang
dari Thailand, Malaysia, Filipina, India, Vietnam dan Indonesia. Mereka
ini punya tempat dan pasar berbeda. Pelacur Thailand misalnya, target
yang dibidik adalah para pekerja konstruksi dari Negeri Gajah Putih.
Tak jauh berbeda, para pelacur dari India juga membidik pasar laki-laki
hidung belang keturunan atau pebisnis India.
Namun, David Brazil tidak menjelaskan target pasar para
pelacur asal Indonesia yang cukup dikenal mangkal di Geylang tepatnya
di antara Lorong 10/12 dan sepanjang Talma Road. Para pelacur Indonesia
yang datang ke Singapura adalah mereka yang berangkat dari Batam.
Mereka biasanya berangkat ke Singapura memanfaat izin berkunjung selama
tiga hari.
Penghasilan pelacur Indonesia sejatinya adalah sangat kecil
hanya 1.000 dolar Singapura. Namun, penghasilan itu akan menjadi besar
ketika dikonversikan ke rupiah. Dalam analisisnya, David Brazil
mengutip laporan The Jakarta Post bahwa pelacuran di Indonesia
membludak termasuk di Singapura, Batam, dan Bintan karena terpuruknya
perekonomian Indonesia pasca runtuhnya rezim Soeharto.
Dalam buku yang dilengkapi puluhan foto hitam putih dan 16
halaman foto warna ini, David Brazil menelusuri pusat-pusat pelacuran
di Singapura seperti Geylang, Orchard Road, Orchard Towers, Desker
Road, Flanders Square, dan Keong Saik Road. Wilayah ini oleh pemerintah
Singapura disebut kawasan lampu merah.
Para lonte selain mangkal di kawasan zona merah, juga mereka
dapat ditemukan di panti pijat, klab malam, lobi hotel atau escort
agencies (biro teman kencan) yang iklannya marak di buku telepon.
Mungkin kalau di Indonesia iklannya mirip dengan iklan-iklan party line
di media cetak gurem yang memperlihatkan perempuan cantik dengan
pakaian minim berikut nomor telepon genggam yang bisa dihubungi kapan
pun.
Melacur demi uang dalam hasil penelusuran David Brazil
ternyata tidak hanya dilakukan para pendatang tetapi juga wanita
simpanan, remaja, mahasiswi, artis dan model lokal. Namun, tentang
keterlibatan model dan artis dalam kegiatan prostitusi, David Brazil
tidak bisa memastikannya. Ia lebih menduga pemberitaan tentang artisyang bisa dibayar untuk diajak tidur hanya sensasi untuk popularitas
sang artis.
Dalam satu bab khusus, David Brazil memuat 12 tulisan hasil
wawancara dengan pelacur yang mewakili asal, suku dan pasar
masing-masing. Dari mulai pelacur kelas Geylang, wanita panggilan,
hingga mahasiswi yang butuh biaya untuk kuliah atau untuk sekadar
belanja barang mewah seperti produk Gucci, Luis Vuitton, atau Chanel.Wartawan senior Bondan Winarno dalam pengantar
buku ini meyakinkan bahwa laporan jurnalistik David Brazil berbeda
dengan tulisan para pewarta Indonesia yang melaporkan sex-for-sale.
Penulis buku ini tidak terjebak menulis hal-hal seronok tentang dunia
pelacuran. Jurnalis kelahiran Dublin ini tahu benar bahwa menulis
laporan pelacuran itu harus menyingkirkan imajinasi seksual jauh-jauh.
Bila Anda sebelumnya telah membaca Jakarta Undercover (sex n the city)
karya Moammar Emka, saya jamin Anda akan melihat sesuatu yang beda.
Kendati sebagai wartawan hiburan--FHM Singapura--David Brazil menulis
dengan konsep dan bukunya menjadi penting dibaca karena kaya dengan
data hasil riset. Ia tidak terjebak untuk mengeksploitasi selera rendah
(low taste) pembacanya.