"Mengapa kita harusmendengarkan suara hati kita?"tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.
"Sebab
dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada."
Percakapan diatas terjadi antara sang Alkemis dan Santiago, anak gembala yang mengikuti suaranya hatinya seperti saran sang Alkemis dan berkelana mengejar mimpinya. Keduanya bertemu ketika si anak memutuskan untuk mengejar mimpinya.
Sebelumnya Santiago menemui seorang perempuan tua yang bisa menafsirkan mimpi, ia ingin tahu perihal mimpinya tapi perempuan itu hanya menyarankannya untuk pergi ke Piramida-piramida Mesir. Ia hanya bisa menafsirkan mimpi dan tugas si anak lah untuk mencari cara mewujudkannya.Bagi Santiago yang membuat hidup ini menarik adalah mengambil resiko dan kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.Dan ia memutuskan mengambil resiko dengan pergi ke Piramida-piramida Mesir seperti yang dilihatnya dalam mimpinya-mimpinya.
Perjalanannya itu yang membuatnya bertemu sang Alkemis yang terus menuntunnya menuju impiannya dan mengajarinya tentang jiwa dunia, cinta, kesabaran dan kegigihan. Ada saat dimana Santiago hampir menyerah dan berniat kembali ke kehidupan lamanya, bersama domba-domba mencari padang rumput segar dan mata air.Tapi suara hatinya terus memberitahunya untuk tidak berhenti. Suara hatinya selalu mengingatkannya bahkan ketika Santiago sedang tak ingin mendengarnya.Dan ia segera menyadarinya
bahwa keputusannya itu barulah permulaan saja. Akan ada banyak hal yang ditemuinya nanti.
Santiago bertemu tukang roti yang semasa kecilnya ingin berkelana seperti dirinya tapi kemudian menjadi tukang roti, karena ia tidak menyadari impian bisa dilaksanakan kapan saja. Baginya pendapat orang lain lebih penting daripada apa yang bisa diraihnya kalau mau mengejar impiannya.
Ada juga pedagang kristal yang memiliki impian pergi ke Mekkah. Tapi itu hanya sebatas impian. Impian itulah yang membuat si pedagang bertahan hidup tapi ia terlalu takut kalau impiannya menjadi kenyataan, ia jadi tidak punya alasan untuk hidup. Ternyata tidaksemua orang bahagia dengan keputusan yang diambilnya apalagi jika impian itu menjadi kenyataan.
Impian Santiago itu juga mengantarkannya menemukan cinta sejatinya, Fatima, gadis gurun yang setia menanti kepulangannya. Gadis itu merelakannya pergi untuk mengejar impiannya karena baginya cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau sampai ia melepaskan impiannya karena cinta, itu bukanlah cinta sejati.
Sang Alkemis juga mengajari Santiago agar jangan menyerah pada rasa takut, karena kalau itu terjadi maka ia tidak akan bisa bekomunikasi dengan hatinya.
Akhirnya Santiago menemukan impiannya, harta karunnya tapi bukan di Piramida-piramida Mesir. Itu hanya menjadi bagian dari perjalanannya dan cara Tuhan untuk menunjukkan harta karun itu padanya. Dia tidak akan bertemu sang Alkemis jika saja ia tidak memutuskan pergi kesana. Kadang orang tak perlu tak tahu semuanya bahkan tidak tahu apa-apa karena kalau tidak ia akan menyerah sejak semula melihat jalan-jalan yang harus dilaluinya. Yang penting adalah Orang harus tahu pasti mimpinya dan apa yang harus dilakukannya.
Santiago menemukan harta karunnya di tempat dimana ia biasa menghabiskan malam bersama domba-dombanya dulu. Tapi kali ini tanpa domba-dombanya, ia sendirian. Ia tersenyum mengingat perjalanannya dan sang Alkemis yang takkan pernah ditemuinya lagi. "Hidup ini sangat murah hati pada orang-orang yang mau mengejar takdir mereka."