"Cuma" lulus dari madrasah tsanawiyah di kota kecil Magetan membuat perasaan gamang. Pelajaran eksakta di madrasah (MTs)
pinggiran itu jauh dari memadai. Mampukah lulusannya ''selamat" di sekolah yang menampung para lulusan terbaik SMP itu? Mampukah sang alumnus mencerna pelajaran matematika, fisika, dan kimia di SMA
favourite itu sedangkan bekal keilmuan hanyalah landasan logika sederhana yang diajarkan lewat Aljabar yang sangat terbatas? Kegamangan, atau mungkin malah fobia, pada eksakta itu segera berbuah.
Hasil ulangan pertama matematika
jeblok, nilai kimia' mengerikan'. Tetapi alhamdulillah, hasil ulangan fisika terselamatkan. Kuncinya adalah sebuah buku lama dari awal 1960-an yang terwariskan dari kakak-kakak. Buku itu karya Widagdo!. Wujud fisiknya sudah mulai menguning. Cara menulisnya sederhana. Ilustrasinya sederhana pula dan dengan cara sederhananya Widagdo justru mampu membuat fisika menjadi pelajaran yang menarik. Widagdo berhasil membuat fisika terasa dekat dengan siswa. Sebab, fenomena fisika memang fenomena di sekitar manusia. Soal panas, cahaya, gerak, dan sebagainya.
Tetapi, keasyikan bersama buku Widagdo itu tidak lama. Entah mengapa, negara kemudian menggusur buku itu, menggantikannya dengan buku baru. Enerji, Gelombang, dan Medan (EGM). Sebuah buku fisika yang dianggap lebih modern karena banyak menggunakan rumus matematis ketimbang langsung berpijak pada realitas empiris. Buku ini tidak mengajak siswa mengenali lingkungannya. Buku itu lebih mengajak untuk
mengotakatik otak. Seolah itulah pendekatan yang lebih ilmiah dibanding yang berbasis realitas atau kenyataan sekitar secara langsung. Fisika menjadi begitu ''
ruwet", abstrak, dan sama sekali tidak menyasyikkan. Kecenderungan begini ternyata terjadi pada hampir setiap disiplin ilmu eksak dan lainnya !!.
Kebenaran yang diambil dari realitas di lapangan tidak lagi dipandang ilmiah oleh pemegang otoritas keilmuan di negeri ini (duh sedihnya !!). Ilmu punya logika sendiri. Tak boleh "
dicemari" dengan realitas empiris. Filsafat, yang katanya adalah ilmu mencari kebenaran, pun lebih merupakan hasil olah pikiran. Bukan hasil pemahaman terhadap kenyataan. Akibatnya, ilmu menjadi begitu berjarak dari keseharian siswa. Pendekatan demikian berimplikasi pada buku. Buku bukan lagi medium yang menyenangkan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Buku pelajaran justru beban. Sebuah keadaan yang kita semua tak pedulikan. Bahkan, bagi kita yang bergelut di dunia
pendidikan. Apalagi bagi kebanyakan penerbit dan pedagang buku. Buku pelajaran tak lebih dari komoditas pemberi keuntungan.
Buku-buku pelajaran akan menjadi produk yang serupa: Tanpa jiwa. Siapa pun Penulisnya, sekuat apa pun kecintaannya dan penguasannya pada ilmu. Iklim demikian tak akan pernah melahirkan penulis buku pelajaran yang benar-benar berkarakter, seperti Widagdo. Padahal,
karakterlah yang memiliki nilai mendidik.
Terabaikannya madrasah selama ini justru membuka kekeliruan mendasar itu. Tanpa beban, Menteri Agama mengakui pendidikan madrasah tertinggal. Terutama di bidang eksakta. Maka dibuatlah terobosan:
Science and Technology Equity Program (STEP). Fase kedua program ini berhasil melahirkan buku-buku pelajaran eksakta berbeda. Buku yang bukan produk mekanistis, melainkan berjiwa.
Nama-nama seperti Mutadi, Mohammad Ishaq, Agung Nugroho, Irwan Nugraha, apalagi duet sahabat Pipit Pitriana dan Diah Rahmatia pun mengemuka. Mereka bukan penulis buku pelajaran
copy-paste yang melahirkan buku sebagai komoditas. Mereka menulis dengan hati yang melahirkan buku pelajaran yang mengasyikkan sebagaimana buku Widagdo sebelum tahun 1975.
Sebuah harian nasional pernah menulis panjang soal buku-buku itu. Namun, menyimak secara langsung buku itu telah membangkitkan keyakinan: Era baru buku pelajaran bakal segera tiba.
Untuk semuanya untuk siapa saja bukan hanya bagi dunia madrasah, bagi dunia pendidikan secara luas. Karena dunia yang saat ini, masih terkungkung oleh cara pandang
kognitif yang linier dan mekanistis.
Masih terbuka peluang lebar karya-karya berjiwa dari pakar-pakar yang akan selalu bermunculan kini, semoga