Buku ini hadir pada masa yang tepat , karena ditulis dalam bahasa Indonesia dengan kata kata keseharian yang mudah di
pahami , hadir mengisi kekosongan informasi tentang kegiatan Budaya Tionghoa , membahas beragam tradisi dan serta adat istiadatnya yang umum masih dilakukan masyarakat Tionghoa , khusunya di Kalimantan Barat sampai saat ini , dimana umumnya dari golongan generasi muda maupun masyarakat peminat budaya sudah tidak tahu dan tidak mengerti asal usul tradisi serta adat istiadat beserta makna yang di kandungnya ,sedangkan literatur tentang hal hal itu sebahagian besar masih asli di tulis dalam bahasa mandarin , yang juga hampir tidak di pahami mereka karena situasi politik orde baru masa itu .
Diawali dengan menceritakan sedikit gambaran asal mula kedatangan suku Tionghoa yang majemuk di Kalimantan Barat , juga menggambarkan masyarakatnya yang aslinya agraris , sehingga dalam merayakan tradisi dan budayanya sangat dipengaruhi dengan perhitungan kegiatan musim bercocok tanam yang mendasarkan penanggalan peredaran Bulan / Imlek .
Di gambarkan asal usul perayan tahun baru Imlek yang sebenarnya adalah perayaan penuh kegembiraan menyambut datang nya musim semi , dilanjutkan dengan cerita tentang seni budaya perarakan naga dan seni budaya permainan Barongsai ,terus menceritakan kegiatan CapGomeh serta sebutan lain di belahan dunia lainnya yang mengakhiri perayaan Tahun baru Imlek .
Pada musim yang cerah ini dilakukan prosesi sembahyang ziarah kubur leluhur yang dikenal dengan sembahyang Ceng Beng , yang memiliki makna berbakti dan menghormati orang tua dengan membersihkan makam .
Pada musim panas ada kegiatan makan kue Bakcang , dengan latar belakang sejarah yang mengiringinya sehingga sampai di kenang sampai saat ini
Kematian yang merupakan akhir dari kehidupan di dunia fana , maka untuk perjalanan terakhir ini , semuanya ada prosesi yang harus dilakukan ,yang semuanya penuh dengan makna .
Pada Musim gugur masih ada perayaan makan kue bulan , rupanya ini memilki ceritera legenda yang diturunkan turun temurun .
Memasuki musim dingin dimana kegiatan masyarakat agraris tak bisa bercocok tanam lagi , di musim ini hampir semua keluarga berlindung dari cuaca yang ekstrim , juga merupakan saat yang di nanti nanti untuk bisa berkumpul dengan seluruh keluarga induk , maka biasanya juga adalah masa yang baik bagi yang akan melakukan perkawinan sekaigus untuk menyambut datangnya musim semi , musim pengharapan .
Juga dibahas tentang seputar kegiatan adopsi yang jarang di bahas dalam komunitas Tionghoa dan dengan alasannya .
Marga memang unik di Komunitas Tionghoa yang majemuk , karena dengan ini akhirnya bisa menjelaskan bahwa mereka tidak saja berbeda suku / dialeg , bahkan bisa berbeda kebangsaan / warganegara , tetapi setelah di telusuri ternyata satu akar keluarga yang sama , karena di buktikan dengan bermarga yang sama .
Buku budaya ini diharapkan menjadi awal pendorong bagi penulis penulis lainnya untuk menulis dan menggali lebih dalam dan lebih luas atas adat istiadat / tradisi budaya Tionghoa yang majemuk , sebagai upaya menambah wawasan pengetahuan bagi para peminat kebudayaaa serta untuk lebih memahami dan memperkaya khasanah budaya kita .
.