Di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan beberapa
hewan yang terdapat dalam
kisah para nabi. Yang menarik dari buku ini ialah karena pengarang mengangkat hewan-hewan
tersebut untuk berkisah tentang dirinya
dan bagaimana keterlibatan
mereka dalam kehidupan para nabi. Buku ini mengajak kita untuk memandang dari sudut pandang hewan-hewan tersebut. Pada beberapa bagian, hewan-hewan ini juga mengungkapkan bagaimana mereka memandang manusia. Salah satu hewan yang diceritakan adalah
gagak. Disini dikisahkan bagaimana hakim gagak yang adil akan menghukum gagak yang bersalah. Gagak yang bersalah dinyatakan akan dihukum mati sesuai hukum gagak, setelah itu mereka menguburkannya. Hakim gagak berkata “…Kami telah membunuhnya dengan keadilan, walau begitu kami tahu bahwa jasadnya berhak untuk dimuliakan..”. Kisah ini terkait dengan kisah Qabil dan Habil putra Adam. Qabil melihat peristiwa penguburan itu dan mencontoh cara kawanan gagak menguburkan mayat gagak yang bersalah. Kisah lain adalah tentang
serigala nabi Yusuf. Nama itu melekat padanya ketika saudara-saudara nabi Yusuf bersekongkol untuk membuang Yusuf ke sumur dan mengatakan kepada ayah mereka bahwa Yusuf dimakan serigala. Didalam cerita ini serigala tersebut bersumpah bahwa dia tidak pernah melihat Yusuf sepanjang hidupnya, tidak memakannya, tidak mencabik-cabiknya dan tidak mendekatinya. Hal itu merupakan tragedi dari awal hingga akhir. Penuturan serigala sebagai tokoh utama yang mendengarkan persekongkolan tersebut dan terjebak didalamnya disampaikan dengan sangat menarik, sangat menggugah hati. Ternyata tidak hanya manusia yang berfikir, hewan pun melakukannya. Dan ketika manusia sebagai makhluk yang paling mulia melupakan fitrahnya, maka tingkatan kita jauh dibawah hewan-hewan tersebut.