Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Mitologi & Sastra Kuno>Latar Belakang Perlawanan Rakyat Melawan Penjajahan Belanda di Kota Pa

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Melawan Penjajahan Belanda di Kota Pa

oleh: Firin     Pengarang : Mansur
ª
 
Latar Belakang Perlawanan Rakyat Melawan Penjajahan Belanda di Kota Padang

Awal dari kedatangan Belanda di Kota Padang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu mendapat simpati dari masyarakat. Hal ini karena Belanda menjalin hubungan perdagangan dengan masyarakat di daerah tersebut dengan memberikan hadiah dan janji-janji kepada pedagang dan pembesar kerajaan. Mendapat simpati dari masyarakat menyebabkan Belanda merasa betah tinggal di daerah tersebut, apalagi ketika mendapatkan berbagai keuntungan dari perdagangan rempah-rempah di Bengkulu.
Semakin lama tinggal di Kota Padang Bengkulu, Belanda semakin berkeinginan untuk menduduki daerah tersebut. Keinginan ini menimbulkan Belanda melakukan berbagai taktik penjajahan. Dalam hal ini, Belanda berusaha untuk ikut serta atau mencampuri berbagai urusan di Kota Padang misalnya dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan pemerintahan Kota Padang. Latar belakang terjadinya perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda di Kota Padang ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Campur tangan Belanda pada bidang ekonomi dan perdagangan
Pada bidang ekonomi, Belanda tidak hanya menguasai perdagangan rempah-rempah, tetapi juga menguasai semua hasil dari perkebunan lainnya. Belanda juga menyita pabrik-pabrik dan prusahaan-perusahaan vital seperti pertambangan, listrik, telekomunikasi, perusahaan transport dan lain-lain yang kemudian dijadikan hak milik Pemerintahan Kolonial Belanda.
Akibat dari perlakuan Belanda ini menyebabkan penderitaan yang dalam bagi masyarakat di daerah Kecamatan Kota Padang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Keparahan ekonomi dan kesehatan melumpukan daya dan kemauan rakyat untuk berkebun dan berdagang dengan Belanda. Lebih-lebih lagi kekecewaan masyarakat di daerah Kecamatan Kota Padang ini akan harapan-harapan yang didambakannya semula sedikitpun tidak menemui kenyataan, malahan hampir di tiap daerah mulai terjadi pencurian, penggelapan, dan perampokan.
Selain itu, Belanda juga melakukan pungutan pajak dan penjualan hasil perkebunan bagi pemerintah dan rakyat di Kota Padang, akibatnya pemasukan dari keuangan pemerintah Kota Padang semakin terbatas. Indikasi akhir dari semua ini adalah menyebabkan “kehidupan perekonomian masyarakat semakin kacau dan tidak berkembang keseluruhan. Tata perekonomian masyarakat diantar dalam suatu sistem yang ketat. Sehingga, pemerintahan Kolonial Belanda sangat berperan dalam monopoli, mengatur, membeli, hasil-hasil produksi yang diperolehnya dari rakyat.”
2. Campur tangan Belanda pada bidang pemerintahan
Pada bidang pemerintahan, Belanda selalu ikut campur dalam urusan dalam daerah dan dalam pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu. Belanda ingin menyingkirkan para pembesar-pembesar kerajaan untuk menguasai sistem pemerintahan di Kota Padang Bengkulu. Untuk melakukan taktik penjajahannya ini, “Belanda melakukan pendekatan kepada pembesar kerajaan dengan cara memberikan berbagai hadiah dan menjanjikan berbagai harapan kepada masyarakat.”
Selain itu, Belanda mencopot satu demi satu kekuasaan dan lembaga pemerintahan tradisional rakyat Bengkulu, bertahap tetapi cepat dan pasti bagaikan ahli gigi membikin ompong kekuasaan perlawanan rakyat kota Padang melawan penjajahan Kolonial Belanda. Tindakan Knoerle sebagai gebernur Belanda yang semena-mena terhadap rakyat akhirnya mengalami kegagalan, karena selama bertindak Knoerle terburu nafsu. Tindakannya juga banyak menimbulkan perlawanan dimana akhirnya Knoerle sendiri menemui ajalnya. Akibat perlawanan Dusun Parati terhadap Knoerle.
Terjadinya pemberontakan kapal tujuh pada tanggal 4 Februari 1933, bermula dari pemberontakan dari seluruh rakyat Kota Padang, dimana mereka bahu membahu saling bantu untuk melawan Kolonial Belanda dan membumi hanguskan seluruh pos-pos yang dianggap rawan dan membahayakan yang terletak sangat strategis tempatnya. Tujuan pembakaran tersebut adalah supaya menghambat jalan Kolonial Belanda untuk menguasi daerah pedalaman.
3. Campur tangan Belanda pada bidang sosial dan kemasyarakatan
Pada bidang sosial dan kebudayaan, Belanda juga ikut melakukan penjajahan dengan cara melakukan berbagai pendekatan kepada para tokoh-tokoh masyarakat. Belanda mencampuri urusan sosial dan kemasyarakatan serta budaya Provinsi Bengkulu. Dalam hal ini, Belanda melakukan berbagai perubahan terhadap adat, bahasa dan sistem kebudayaan yang berlaku di masyarakat. Belanda juga melakukan politik tanam paksa kepada rakyat di Kota Padang. Hal ini mengecewakan rakyat Kota Padang yang menganggap bahwa Belanda terlalu ikut campur dalam urusan daerah Kota Padang, padahal Baru saja 7 tahun peralihan kekuasaan antara Inggris ke tangan Belanda. Indikasi dari semua ini, “meluaplah rasa sakit hati rakyat dan memuncak sampai dibunuh matinya Asisten Residen Belanda Knoerle tahun 1832.” Knoerle yang dikenal dengan sistem tanam paksanya atas lada kopi dan karet, serta merusak sendi-sendi pemerintahan rakyat dan hukum adat, serta menyikat habis hak azazi dan keadilan rakyat di Kecamatan Kota Padang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.
4. Campur tangan Belanda pada bidang keagamaan
Pada bidang keagamaan, Belanda ikut campur dengan melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh agama setempat. Belanda memanfaatkan keadaan masyarakat yang memegang kehidupan beragama yang kental. Tidak jarang Belanda juga mempengaruhi tokoh agama untuk mendapatkan simpati dari masyarakat demi menjalankan penjajahannya.
Campur tangan Belanda pada berbagai urusan dalam daerah, kota serta pada berbagai kerajaan di Kota Padang menyebabkan kemarahan rakyat. Sehingga, masyarakat yang tadinya menaruh simpati kepada pemerintah Belanda berubah menjadi membenci Belanda dan ingin mengusir Belanda dari tanah Kecamatan Kota Padang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda pun kemudian terjadi.
Jadi, latar belakang perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda adalah campur tangan Belanda pada bidang ekonomi dan perdagangan, Campur tangan Belanda pada bidang pemerintahan, campur tangan Belanda pada bidang sosial dan kemasyarakatan dan campur tangan Belanda pada bidang keagamaan.

Diterbitkan di: 16 Februari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    dua penyebab penyimpangan sosial dalam masyarakat Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa sebab perlawanan pattimura terhadap belanda Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    KAPAN AKU MEMPUNYAI PACAR ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    1 detik lagi 20 Mei 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa dampak kolonialisme terhadap perkembangan budaya dan pendidikan di indonesia? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    dampaknya i dont no 20 Mei 2012
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.