Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Misteri & Thriller>Misteri Kolam yang Dangkal

Misteri Kolam yang Dangkal

oleh: LisMaulina     Pengarang : S. Mara Gd
ª
 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun 2000

TRAGEDI terjadi di rumah yang diberi nama Weltevreden, terletak di Desa Ngadisari, lereng Gunung Bromo. Ketika itu, Kakek Sosro, pemilik rumah besar tersebut merayakan ulangtahun ke-83 sehingga anak-cucunya berkumpul. Apalagi, Kakek Sosro mengatakan, akan mengumumkan surat wasiat mengenai pembagian harta warisan.
Penghuni tetap rumah tersebut selain Kakek Sosro adalah Hadi, putra sulungnya yang menduda tanpa anak, serta Menik, putri bungsunya yang tidak menikah karena pernah patah hati, dan Amelia, cucunya yang yatim-piatu dan bisu tuli. Dia anak Dewi, putrinya yang meninggal dalam kecelakaan bersama suaminya, sementara Amelia, anak mereka selamat tapi cacat. Sejak itu dirawat Menik dan tinggal bersama mereka.
Untuk melayani mereka, bekerja 5 pembantu; Bik Rum yang pintar memasak, serta suami istri, Pak Zahlan dan Bik Tiah. Mereka sudah puluhan tahun bekerja dan tinggal di sana. Selain itu masih ada Pak Min, tukang kebun yang tinggal di desa, dan datang ke rumah tersebut pagi dan pulang sore, serta Warni yang paling muda dan baru bekerja dua tahun.
Anak-anak Pak Sosro yang lain adalah Lestari Kuncoro, janda beranak satu, Andreas, kemudian Sri yang menikahi Hartono dan punya 2 anak, Agnes dan Anton, serta Budi yang menikahi Monik, punya anak 3; Siswoyo, Ningsih dan Martopo. Mereka semua berkumpul di Weltevreden. Saat itu juga ada Herman Salim, pengacara yang bertugas membacakan surat wasiat, serta Bambang, kawan Anton yang sengaja diundang untuk berlibur bersama.
Ketika acara pembacaan surat wasiat, Bambang dan Amelia tidak ikut. Sebagai putra sulung, Hadi mendapat bagian paling banyak. Sementara di antara sisanya, keluarga Budi yang mendapat bagian paling sedikit, hanyat 10 persen saham, dan ketiga anaknya tidak mendapat apa-apa seperti cucu Kakek Sosro yang lain.
Sempat terjadi insiden setelah pembacaan surat wasiat. Hadi menggugat mengapa Menik mendapat warisan juga, padahal bukan saudara kandung mereka. Dia memastikan hal ini karena tidak melihat ibunya hamil menjelang kelahiran Menik. Kakek Sosro kemudian membongkar rahasia yang terpendam puluhan tahun, bahwa dia menikahi ibu Menik sebagai istri kedua yang kemudian meninggal. Karena merasa bersalah, istri pertamanya membawa Menik masuk rumah tersebut dan mengakui sebagai putri kandungnya. Jadi, meski tidak satu ibu, Menik tetap saudara mereka satu ayah. Penjelasan ini sulit diterima Hadi sehingga membuatnya bertengkar hebat dengan Menik yang membeberkan niat Hadi yang selama ini terpendam, yakni ingin menikahi Menik yang dianggap bukan adiknya.
Usai kejadian itu, beberapa lama kemudian, Hadi ditemukan tewas di sebuah kolam di tengah kebun oleh Bambang dan Anton. Karena kolam tersebut terlalu dangkal untuk menenggelamkan lelaki dewasa seperti Hadi, meskipun dia sulit berjalan akibat encok sehingga selalu menggunakan tongkat. Sertu Imam Sukendra yang diperintahkan atasannya, Kapolsek Ngadisari, Kapten Suratman melaporkan kejanggalan ini. Sementara itu, Bambang yang putra sulung Kapten Kosasih yang bertugas di bagian pembunuhan Polda, juga mengabarkan masalah ini kepada ayahnya sebagai alasan mundurnya rencana kepulangannya. Kesempatan ini digunakan Kapten Suratman meminta bantuan Kapten Kosasih yang lebih berpengalaman memecahkan kasus pembunuhan. Kapten Kosasih setuju. Dia mengajak Gozali, sahabat setianya yang selalu membantunya menyelesaikan berbagai kasus.
Hasil penyelidikan menyimpulkan kematian Hadi bukan kecelakaan atau bunuh diri, melainkan dibunuh. Kosasih dan Gozali mengetahui, ternyata banyak yang tidak menyukai Hadi. Selain Menik yang sempat bertengkar hebat dengannya, Amelia juga sangat membencinya karena Hadi memukul anjing kesayangannya sampai mati. Amelia bahkan sempat hendak memukul Hadi dengan alu saking marahnya, tapi berhasil direbut sehingga justru dia ditempelengi pamannya. Selain itu, Hadi ternyata menjalin hubungan gelap dengan Warni. Lalu masih ada Budi yang menjadi tersangka karena apabila Hadi mati, dialah yang akan mendapatkan bagian warisannya.
Semula Kakek Sosro tidak mengijinkan penyelidikan karena tidak ingin ada anggota keluarganya dipenjara. Tapi tragedy terus berlanjut. Warni tiba-tiba menghilang bersama sebagian besar perhiasan Menik. Dia tewas terjerat selendangnya sendiri di hutan dekat rumah. Sebelumnya, Warni sempat memperingati Agnes dan mengungkapkan kecurigaannya terhadap seseorang.
Kematian Warni membuat Agnes ketakutan. Dalam kekhawatiran, dia menyebutkan Warni pernah mengatakan Menik juga mengetahui seperti dirinya. Tak disangka, setelah kejadian itu, Menik ditemukan tak berdaya di kamarnya dengan pergelangan tangan berlumuran darah. Semua mengira dia bunuh diri karena merasa bersalah dan terdesak penyelidikan polisi.
Tapi kesigapan Herman menyelamatkan Menik tepat pada waktunya, meski harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Saat itu, Gozali mulai berhasil merangkai berbagai fakta yang berhasil dikumpulkannya dan dicatat rapi oleh Sertu Imam Sukendra. Kemudian pengakuan muncul dari Kakek Sosro yang menemukan pisau cukur bertulis nama Andreas Kuncoro di kamar Menik. Meski Kakek Sosro sangat menyayangi Andreas, namun dia tidak bisa memaafkannya karena berusaha membunuh Menik yang selama ini melayaninya bila berlibur ke Ngadisari. Dengan sedih, Kakek Sosro menyerahkan pisau cukur itu kepada Gozali untuk dijadikan barang bukti.
Saat berkumpul, Gozali mengungkap satu persatu fakta. Dia mengatakan Warni yang memiliki hubungan terlarang dengan Hadi sempat melihat kejadian di kolam sebelum Hadi ditemukan tewas. Dia melihat Amelia mendorong Hadi dan membuatnya tercebur ke kolam. Amelia terus berlari dan menangis mendapati Menik yang kemudian membawanya ke dapur. Warni mengira Amelia yang membunuh Hadi. Dia mengatakan hal ini kepada Menik dengan maksud memerasnya, karena tahu Menik sangat menyayangi Amelia dan pasti akan melindunginya. Dan memang itulah yang dilakukan Menik, memberikan perhiasaannya agar Warni tutup mulut.
Warni dibunuh demikian juga Menik karena dikira pembunuhnya benar-benar mengetahui jati dirinya. Padahal mengira mengira pelakunya Amelia yang menceburkan Hadi. Sementara yang membuat Hadi terbunuh justru pukulan di kepalanya sebanyak 4 kali yang mengakibatkan tulang tengkoraknya retak. Jadi, ada orang lain yang melakukannya setelah Amelia menceburkan temannya. Siapa orang itu? Apa benar Andreas yang pisau cukurnya ditemukan di kamar Menik?
Diterbitkan di: 14 September, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.