Pendekatan MAP Era 30, 40
Summary rating: 4 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
39
kata:
300
Diterbitkan di: Januari 10, 2008
Antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1940 an terjadi depresi yang berdampak hebat sehingga bank-bank mengalami krisis likuiditas. Saat itu menggema asumsi semua kewajiban bank dari berbagai sumber digabung dan diperlakukan sebagai sumber dana tunggal mengabaikan karakteristik individual. Dan lantas dana tunggal dialokasikan berdaarkan prioritas penggunaan sesuai kebijakan serta strategi manajemen juga harus pula memenuhi ketentuan-ketentuan bank sentral. Prioritas pertama dialokasikan untuk cadangan primer, setelah cadangan primer barulah cadangan sekunder memperoleh perhatian sebagai anak tiri.
Bukan, bukan maksud menilai melainkan demi pengetahuan. Pendekatan yang telah dideskripsikan mengaburkan kenyataan bank mampu untuk memperoleh laba dari operasionalnya. Juga, mengabaikan peran interkasi aktiva dengan pasiva dalam penyediaan likuiditas musiman, memperkecil peranan cadangan sekunder, mengabikan likuiditas dari portfolio kredit lewat pembayaran cicilan dan bunga berkesinambungan, tidak terdapat pertimbangan perubahan giro deposito tabungan serta sumber-sumber lainnya. Akhirnya ditemukan adalah iya tidak terlupakan penghitungan biaya dana relative simple dilakukan dimana pengelolaannya pun tidak rumit membuat pusing kepala tujuh keliling. Tapi ini tidak berarti saat itu obat sakit kepala bintang tujuh tidak laku keras terjual. Emm.mh emangnya bintang tujuh ada karena apa pak Iman ? canda pak Hendra Wiguna sambil tetrsenyum. Ada karena bintang lima dan bintang kedjora dikenal.