Struktur kekayaan sebuah perusahaan erat kaitannya
dengan struktur modal. Dengan
cara menghubungkan komponen-komponen
aktiva disatu pihak dengan elemen-elemen pasiva di lain pihak, alhamdulillah kita kita dapat memperoleh banyak deskripsi tentang keadaan finansiil sebuah perusahaan. Salah satunya, ialah likuiditas yang tercermin
dalam hasil perhitungan current ratio. Keberadaan likuiditas yang baik sudah tidak terbantahkan lagi penting untuk eksistensi perusahaan.
Besarnya current
ratio menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi. Ini berarti, current ratio dimaksudkan sebagai perbandingan antara jumlah aktiva
lancar dengan kewajiban lancar. Namun, ambiguitas muncul dalam maksud demikian. Toh pengeluaran-pengeluaran untuk menyelenggarakan proses produksi seperti membeli bahan mentah, membayar upah juga bukanlah merupakan kewajiban lancar. Terlepas dari kewajiban lancar kepada pihak luar atau sendiri, kewajiban lancar tersebut tetap berada sebagai pembagi untuk aktiva lancar. Sehingga cara-cara memperbesar current ratio yang akan dikemukakan tetap eksis dalam keberadaannya.
Secara teoritis menggaung dikatakan bahwa perusahaan bukan perusahaan kredit dengan current ratio kurang kurang dari dua berbanding satu adalah kurang baik. Adalah tentu mengapa dipertanyakan? Demikian karena andai aktiva lancar berkurang lebih dari 50% maka kewajiban lancar pun marah tak terbayar. Kewajiban lancar yang dijamin paling sedikit oleh dua aktiva lancar tidak ain sebatas keamanan berpegang pada prinsip kehati-hatian. Dan juga mewabah pikiran dalam kenyataan saking besarnya current ratio adalah iya menyeret profitabilitas. Dengan demikian current ratio pas penting dikeola melalui cara-cara yang menuntut keputusan orientasi tujuan terlebih dahulu. Aman dan atau keuntungan optimal.
Current ratio dapat dikelola dalam dua area. Area pertama, ialah area aktiva ancar, dan area kedua yaitu kewajiban lancar. Aktiva lancar diperbesar dengan cara mensual aktiva tetap dimana perolehannya dipergunakan untuk menambah aktiva ancar, mendapatkan tambahan modal sendiri untuk menambah aktiva lancar, dan dengan cara memperoleh tambahan utang jangka panjang untuk menambah aktiva lancar. Sedangkan pada area kewajiban lancar dikelola lewat cara yang sama pada aktiva lancar dengan perbedaan penggunaan untuk mengurangi kewajiban lancar. Terbersit satu lagi area mengelola current ratio yaitu area aktiva lancar dan kewajiban lancar. Pada area yang terakhir dikatakan tersebut, memerlukan cara yang melibatkan transaksi di kedua wilayah. Seperti dengan cara mengurangi aktiva lancar untuk mengurangi kewajiban lancar. Cara demi cara mengelola current ratio telah dikemukakan, mampu menyesuaikan diri pada keputusan current ratio yang ditetapkan preusan yang daam keberadaannya tidak terabaikan sebagai alternatif pilihan. Yang bukan alternatif pilihan hádala current ratio mesti dikelola.
Resensi lain tentang Cara-Cara Mengelola Current Ratio