Perspektif Eksperiential Keputusan Pembelian
Summary rating: 3 stars
3 Tinjauan
Kunjungan:
149
kata:
300
Diterbitkan di: Oktober 10, 2007
Proses decision making yang berbasis perspektif eksperiential melandaskan diri pada perasaan dan emosi konsumen. Hal ini berbeda dengan perspektif rasional yang notabene bersumber pada pikiran. Perspekif eksperiential berpegang pada filosofi untuk membangkitkan emosi dan perasaan konsumen dalam keputusan pembeliannya.
Dalam perspektif eksperiential, tahap pengenalan kebutuhan timbul dari perbedaan kondisi nyata dengan kondisi ideal yang diharapkan. Kondisi pencarian informasinya lebih focus untuk informasi yang mampu mempengaruhi afeksi. Sedangkan dalam tahap evaluasi informasi, konsumen juga membuat kriteria berdasarkan perasaannya dimana setelah pembelian komparatif kinerja produk pun dilakukan terhadap kesesuaiannya dengan perasaan. Jika produk tidak mampu memenuhi harapan perasaannya maka konsumen mencari kembali produk lain yang cocok. Ini berarti produk kita menjadi penghuni keranjang sampah.
Berbasis perspektif eksperiential dikenal purchase impulse, dan variety seeking. Purchase impulse terjadi sewaktu konsumen mengambil keputusan secara mendadak, konsumen tidak lagi berpikir rasional karena dorongannya begitu kuat, dan akibat dari letupan-letupan emosinya yang kompleks. Lain purchase impulse, variety seeking merupakan pembelian yang dilakukan ketika konsumen membeli secara spontan dan bertujuan untuk mencoba merek baru dari suatu produk.
Memang sedikit redup perbedaannya namun adalah jelas variety seeking tidak didorong oleh ketidak puasan sebelumnya melainkan konsumsi yang bersifat rekreasi. Bukan, bukan produk-produk rekreasi dalam artinya, tetapi seperti seorang ibu rumah tangga yang membeli merek sabun cuci lain sekedar ingin mencoba padahal sama sekali ia tidak kecewa dengan sabun mandi yang telah biasa digunakannya. Seperti juga perselingkuhan antar selebriti di lokasi shooting. Jadi, pendek kata mereka bilang yang penting ennak..HuH.