Dalam bidang pemasaran terkenal empat model portfolio,yaitu: Boston Consulting Group, General Electric, Arthur D Little, dan kebijakan terarah Shell. Model-model portfolio tersebut, telah berhasil membantu manajemen berfikir lebih strategis, memahami arus keuangan bisnis, memperbaiki komunikasi manajemen unit
bisnis dengan manajemen bisnis, menunjukan gap informasi maupun problem yang dihadapi, dan memperkuat investasi mereka
pada bisnis yang bergaransi.
Dibalik berbagai kontribusi telah dikemukakan. Penggunaan model portfolio mesti ekstra hati-hati. Model tersebut, mampu membuat bisnis teralu focus pada pertumbuhan pangsa pasar dan terjebak masuk ke bisnis yang tumbuh cepat
atau mengabaikan bisnis yang eksis saat ini. Output model tersebut, rentan terhadap ordinalitas dan pembobotan yang dapat diotak atik demi memperoleh lokasi yang diinginkan di
Dalam matriks.
Juga bias terungkap, karena model portfolio menggunakan proses perata-rataan, maka berpeluang dua atau ebih bisnis duduk di kursi sel yang sama padahal ordinalitas dan dasar pembobotan berbeda. Akan banyak unit bisnis yang duduk di tengah matriks dari mean pemeringkatan, dan itu membuat sukar penentuan strategi yang tepat. Diujung opini
kritik ini, model portfolio gagal menyajikan sinergi dua atau lebih bisnis. Bisnis penting berfokus pada segmen konsumen efektif dari beberapa unit bisnis, dan bukan pada unit bisnis penderita sakit yang sesungguhnya memberikan kompetensi inti fundamental atau tawaran pasar yang dibutuhkan oleh beberapa unit bisnis lainnya. Kritik ini, dalah tidak untuk mendiskreditkan melainkan mendukung dan mendorong kontribusi optimal penerapan model portfolio dalam bisnis yang kita sayangi dan bisnis yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan dimana kita hidup didalamnya. Bisnis adalah sawah untuk para petani.
Resensi lain tentang Kritik Untuk Model Portfolio