Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti
apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum
perubahan itu ada?
Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum
orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com
yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini.
Semoga kita makin menghargai ibukota ini.
Saya sering berpikir seperti apa Jakarta jaman dulu. Menulis
Kronik Betawi lebih
banyak membuka memori tentang Jakarta ketika saya masih kecil. Betapa
semua berbeda ketika beberapa waktu lalu saya kembali ke Pondok Gede,
rumah di mana saya dibesarkan. Rumah Sakit Husni Tamrin bukan lagi
sebuah klinik bersalin kecil seperti ketika adik saya yang paling kecil
dilahirkan. tanah pekuburan di depan gang masuk menuju rumah saya kini
telah diratakan dan konon tulang belulang manusia sudah dipindahkan
dari situ. Jalan gang yang dulu besar, kini serasa pendek dan sempit,
sedangkan kebun kecapi yang dulu luas dan penuh nyamuk telah disulap
jadi rumah bertingkat.Buku saya keempat,
Kronik Betawi , bercerita
tentang Jakarta dari jaman penjajahan Jepang (tahun ‘40-an) hingga awal
era Reformasi (1998). Tiga tokoh yang merupakan anak daerah, yaitu
Jaelani, Jarkasi dan Juleha (beserta garis keturunan keluarga mereka)
tiba-tiba tergusur dan tergeser. Novel ini sengaja saya tulis dengan
sangat ringan dan sederhana, jauh dari kesan “high-literature” yang
jelimet. Ini adalah persembahan saya untuk kota kelahiran saya,
Jakarta. Selamat membaca dan selamat makin mencintai Jakarta.