• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel Sejarah>Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda - Indonesi

.

Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda - Indonesi

oleh : GALOTE16     

Pengarang: LEONTINE E VISSER; AMAPON JOS MAREY
Proses peralihan kekuasaan di Papua dari Belanda di mata elit-elit Papua tampak begitu panjang dan tersirat menekan
perasaan. Ketika kekuasaan Indonesia hadir,sebagai pamong Praja yang di ddidk Belanda secara modern untuk membangun politik dan pemerintahan dengan etos kerja keras,bagaikan anak ayam kehilangan induk yan didadak rajawali.
Buku ini menguak perjumpaan yang asing antara Indonesia dan Papua. Indonesia selalu melihat para elit terdidik Papua sebagai orang-orang yang pikirannya telah diracuni "Bahaya laten Separatisme Belanda". Oleh karena itu harus perlu diwaspadai kapan perlu dihancurkan. Sementara para elit terdidik Papua,meskipun telah diinkoporasi kedalam birokrasi Indonesia tetap memandang pihak Indonesia sebagai pihak yang tidak ramah,selalu melecehkan dan tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Semua itu tersirat dalam buku ini melalui kesaksian 17 orang pionir pemerintahan Belanda. Oleh karena itu,penulis buku ini pantas menerima acungan jempol karena berhasil menggali "harta karun" yang disembunyikan selama ini (Maaf menurut pendapat saya). Harta karun yang dimaksud adalah kesan dan sikap dari para elit-elit generasi pertama Papua ketika peralihan kekuasaan di Papua berpindah dari Belanda ke Indonesia. Akibat kesan dan sikap Pamong pionir itu diabaikan,bahkan dipaksa dihilangkan,Indonesia gagal belajar dari dalam mengelola Papua samapai sekarang.
Dalam khazanah Ilmu politik,selalu dipandang bahwa peran elit jauh lebih menentukan ketimbang peran khalayak umum. Hal itu terjadi karena elit banyak terleibat dalam proses politik dan memiliki akses terhadap sumber daya kekuasaan sekaligus mengontrolnya. Maka dari itu,persepsi dan sitem nilai yang diyakini oleh elit jauh lebih berpengaruh terhadap jalannya politik dan pemerintahan daripada nilai yang berkembang di khalayak umum.
Secara metode,penulisan buku ini membawa angin segar dan baru dalam melihat dan menuliskan sejarah politik dan kepemerintahan di Papua. Dalam situasi kelangkaan Dokumen dan terbatasnya orang yan mau buka suara,metode wawancara yang mendalam dengan tokoh-tokoh kunci merupakan pilihan yang sangat tepat. Seluruh wawancara atas 17 orang pionir pamong Papua diuraikan dalam 17 bab yang sangat memikat,dimana setiap bab memaparkan pengalaman setiap orang. Ke-17 orang tersebut hampir satu generasi,yaitu generasi yang mengenyam pendidikan calon pegawai pemerintahan Belanda di OSIBA (Opleiding School voor Inheemse Bestuurs Amtenaren) di Jayapura. Dari 17 pamong  pionir ini,ketika diwawncarai untuk penulisan buku ini,berusia rata-rata diatas 65 tahun,yang termuda adalah BARNABAS SUEBU (Gubernur sekarang). Sementara yang lainnya pensiunan dari pegawai pemerintahan Indonesia dengan posisi camat sampai eselon satu di pemerintahan Propinsi dan Kabupaten. Pengalaman berharga yang pantas menjadi contoh adalah tentang turne para pejabat ke kampung-kampung,penguasaan dan penggunaan bahasa daerah yang aik,adanya laporan yang rutin tentang pelaksanaan tugas dan perkembangan keadaan serta dihargainya inovasi dan kreativitas pelaksana lapangan. Hal-hal baik ini amburadul selama dalam birokrasi Indonesia.
Terlepas dari segala kekurangannya,buku in sungguh luar biasa. Yang mana buku ini adalah buku pertama yang memaparkan kesaksian orang Papua sendiri tentang pengalaman mereka dalam menjalankan roda pemerintahan di era Belanda samapai Republik Indonesia ada di tanah Papua. Inilah buku pertama mengenai sejarah pemerintahan dan poltik di Papua yang dilakoni sendiri oleh orang Papua.
Menurut hemat saya,buku ini sangat perlu dibaca dan dicerna oleh para peneliti dan intelektual Papau dan luar Papua,agar dalam melihat dan menyimpulkan masalah-masalah Papua tidak terperangkap dalam simplifikasi yang merugikan. SELAMAT MEMBACA.
 
Diterbitkan di: Mei 27, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.