.
Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda - Indonesia
Proses peralihan kekuasaan di Papua dari Belanda ke Indonesia di mata elit-elit Papua tampak begitu
panjang dan tersirat menekan perasaan. Ketika kekuasaan Indonesia hadir,sebagaia Pamong Praja yang di didik Belanda secara modern untuk membangun politik dan pemerintahan dengan etos kerja keras,bagaikan anaka ayam kehilangan induk yang didadak rajawali.
Buku ini menguak perjumpaan yang asing antara Indonesia dan Papua. Indonesia selalu melihat para elit terdidik Papua sebagai orang-orang yang pikirannya telah diracuni "Bahaya laten Separatisme Belanda". Oleh karena itu harus perlu diwaspadai dan kapan perlu dihancurkan. Sementara para elit terdidik Papua,meskipun telah diinkoporasi kedalam birokkrasi Indonesia tetap memandang pihak Indonesia sebagai pihak yang tidak ramah,selalu melecehkan dan tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Semua itu tersirat dalam buku ini melalui kesaksian 17 orang pionir pemerintahan di Papua sejak era pemerintahan Belanda. Oleh karena itu,penulis buku ini pantas menrima acungan jempol karena berhasil menggali "harta karun" yang disembunyikan selama ini (Maaf menurut pendapat saya). Harta karun yang dimaksud adalah kesan dan sikap dari para elit-elit generasi pertama Papua ketiek peralihan kekuasan di Papua berpindah tangan dari Belanda ke Indonesia. Akibat kesan dan sikap Pamong pionir itu diabaikan,bahkan dipaksa dihilangkan,Indonesia gagal belajar dari dalam mengelola Papua samapi sekarang.
Dalam khazanah ilmu Politik selalu dipandang bahwa peran elit jauh lebih menentukan ketimbang peran khalayak umum. Hal itu terjadi karena elit benyak terlibat dalam proses ploitik dan memiliki akses terhadap sumber daya kekuasaan sekaligus mengontorlnya. Maka dari itu,persepsi dan sistem nilai yang diyakini oleh elit jauh lebih berpengaruh terhadap jalannya politik dan pemerintahan daripada nilai yang berkembang di khalayak umum.
Secara metode.penulisan buku ini membawa angin segar dan baru dalam melihat dan menuliskan sejarah poltik dan kepemerinyahan di Papua. Dalam situasi kelangkaan dokumen dan terbatasnya orang yang mau buka suara,metode wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh kunci merupakan pilihan yang sangat tepat. Seluruh wawancara atas 17 orang pionir pamong Papua diuraikan dalam 17 bab yang sangat memikat,dimana setiap bab memaparkan pengalaman setiap orang. Ke-17 orang tersebut hampir satu generasi,yaitu generasi yang mengenyam pendidikan calon pegawai pemerintahan Belanda di OSIBA (Opleiding School voor Inheemse Bestuurs Amtenaren) di Jayapura. Dari 17 pamong pionir ini,ketiek diwawancara untuk penulisan buku ini,berusia rata-rata diatas 65 tahun,yang termuda adalah BARNABAS SUEBU (Gubernur sekarang). Sementara yang lainnya pensiunan dari pegawai pemerintahan Indonesia dengan posisi camat sampai eselon satu di pemerintahan Propinsi dan Kabupaten. Pengalaman berharga yang pantas menjadi contoh adalah tentang turne para pejabat ke kampung-kampung,penguasaan dan penggunaan bahasa daerah yang baik,adanya laporan yang rutin tentang pelaksanaan tugas dan perkembanga keadaan serta dihargainya inovasi dan kreativitas pelaksana lapangan. Hal-hal baik ini amburadul selama dalam birokrasi Indonesia.
Terlepas dari segala kekurangannya,buku ini sungguh luar biasa. Yang mana buku ini adalah buku pertama yang memaparkan kesaksian orang Papua sendiri tentang pengalaman mereka dalam menjalankan roda pemerintahan di era Belanda sampai Republik Indonesia ada di tanah Papua. Inilah buku pertama mengenai sejarah pemerintahan dan politik di Papua yang dilakoni sendiri oleh orang Papua.
Menurut hemat saya buku ini sangat perlu dibaca dan dicerna oleh para peneliti dan Intelektual Papua dan luar Papua agar dalam melihat dan menyimpulkan masalah-masalah Papua tidak terperangkap dalam simplifikasi yang merugikan. SELAMAT MEMBACA.
Diterbitkan di:
Mei 26, 2009
Lainnya tentang Novel Sejarah