Ringkasan Buku
Pembantaian 10.000
Orang Tionghoa
INILAH drama yang diilhami sejarah pembantaian 10.000 orang Tionghoa di Batavia (sekarang: Jakarta) oleh VOC pada tanggal 9 Oktober 1740. Dialog-dialognya menggugah. Lebih daripada itu, drama yang ditulis
dengan gaya novel ini dilengkapi catatan lengkap hingga pembaca dapat memahami konteks persoalannya.
Remy Sylado, pengarangnya, memang punya pengetahuan luas tentang berbagai macam hal. Ditambah kefasihannya
terhadap banyak bahasa, antaranya tentu saja Mandarin dan Belanda (dalam beragam dialek), yang dipamerkan dengan leluasa lewat dialog-dialog para tokoh. Sekaligus juga hal ini mempersulit untuk menggelar drama ini karena taburan dialog Belanda dan Mandarin yang sungguh tidak gampang pengucapannya kalau hanya mengandalkan hapalan belaka.
Drama terbagi menjadi enam babak. Judul setiap babak mengambil nama kota yang menjadi lokasi peristiwa, dari Batavia, Amsterdam, Kartasura, Tangerang, Lasem, sampai Semarang. Plus Catatan Akhir yang mengisi 17 halaman terakhir dari buku setebal 198 halaman ini. Termasuk daftar 68 Gubernur Jendral Belanda, sejak yang pertama, Pieter Both (1610-1614) sampai pemungkasnya, Mr. W.F.L, Graaf van Bijlandt (1953).
Settingnya sendiri pada saat kekuasaan Gubernur Jendral ke-25, Adriaan Valckenier (1737-1741), ke-26, Johannes Thedens (1741-1743), dan ke-27, Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750).
Tokoh utamanya, Hein de Wit, adalah putra Jan de Wit. Ia bercinta dengan Ni Hien Nio, putri Ni Bou San. Padahal Belanda sejak lama sirik pada keberhasilan bisnis orang Tionghoa. Bahkan Gubernur ke-22, Dirk Durven (1729-1731), terus memeras harta orang Tionghoa. Kekejaman Durven menanamkan benih kebencian yang membuat kalangan Tionghoa merancang pemberontakan. Untuk menindas orang Tionghoa, Pemerintah Belanda mengharuskan setiap orang Tionghoa memiliki surat khusus. Yang tak memiliki surat ditangkap dan dikirim ke Ceylon. Tersiar desas-desus, mereka sebenarnya ditenggelamkan di tengah laut. Itulah awal pemberontakan orang Tionghoa di Batavia yang kemudian meluas ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Belanda menumpas dengan kekejaman luar biasa. Puncaknya, 9 Oktober 1740, kawasan Kota dibakar, orang Tionghoa dibantai. Ribuan mayat dibuang ke sungai (itulah asal-usul nama Kali Angke, artinya air sungai menjadi merah karena darah). Diperkirakan lebih dari 10.000 orang Tionghoa menjadi korban, termasuk pemimpinnya, Ni Hu Kong.
Nah, Hien Nio adalah putri Ni Bou San, adik Hu Kong, yang lari ke Tang Lang (sekarang Tangerang), kampung permukiman orang Tionghoa warga Tang di barat Batavia. Di sini ia memimpin rencana pergerakan pembalasan. Sementara di Jawa Tengah, ada dua pemimpin, Tan Pan Ciang dan Uy Ing Kiat. Sayang, Pakubuwono II mengkhianati perjuangan mereka hingga Perang Kuning, penyerbuan ke Sam Bao Lung (sekarang Semarang), berakhir dengan kekalahan pihak Tionghoa.
Nasib Hein de Wit sendiri mengingatkan pada tokoh Hamlet (dari dramanya Shakespeare). Ayahnya dibunuh oleh Oomnya yang licik, Wouter Ruyter, yang mengguna-guna ibu Hein, Marianne Valentijn. Ruyter menikam Jan dari belakang. Ia juga merupakan tangan kanan Gubernur Adriaan Valckenier, dalang pembantaian orang Tionghoa.
Sebelum huru-hara berkecamuk, Hein telah dibuang ke Belanda. Namun Hein pulang ke Batavia dan bertemu mertuanya, Ni Bou San, di Tangerang. Lalu mencari Hien Nio yang memimpin pergerakan bersama Tan dan Uy di Lasem. Dua sejoli inilah yang menghabisi Ruyter. Menyadari sulit hidup bagai di tengah bara, pasangan ini kelak mengungsi ke Manado, Celebes utara (Sulawesi).
Penggambaran langsung peristiwa pembantaian itu sendiri memang tak ditampilkan, hanya lewat penuturan Ni Bou San pada Hein. Bagaimana punini merupakan sebuah novel yang difiksikan dari sejarah. Tentu berbeda dengan buku non-fiksi/dokumenter Pembantaian 10.000 Orang Tionghoa di Batavia karya Dr Hembing Widjayakusuma yang terbit nyaris berbarengan (Oktober 2005).
Rumitnya pengadegan yang direka Remy membuat naskah ini terasa sulit diangkat ke panggung yang berkapasitas serba terbatas, jauh lebih leluasa untuk dilayarlebarkan. Jadi tokoh Srikandi Tionghoa yang lihai bersilat, Hien Nio, bisa diusulkan diperani oleh Michelle Yeoh atau Zhang Ziyi, hingga filmnya bisa diharapkan berkualitas internasional dan mampu menembus pasar dunia. - Iway.
Judul Buku: 9 OKTOBER 1740
Karya: Remy Sylado
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan Pertama: Oktober 2005
Tebal: 198 halaman
Resensi lain tentang 9 OKTOBER 1740