Halaman Utama Shvoong > Buku > Bintang Surga, Cinta tak Berbatas Waktu (Bab 3)

.

Bintang Surga, Cinta tak Berbatas Waktu (Bab 3)

Summary rating: 1 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Wedyanto Hanggoro
Review by : DragonWei
Kunjungan : 150  kata: 900   Diterbitkan di: September 20, 2007
BAB 3


              Sementara itu, di dalam sebuah
biara kecil, ratusan mil dari ibukota kerajaan Bukit Surga, seorang biarawan
tua membuka matanya setelah selesai dari sebuah meditasi yang dalam. Tasbih di
tangannya telah berjatuhan di lantai dan hanya menyisakan beberapa butir di
telapak tangannya. Biarawan itu dikenal dengan nama Rahib awan Putih. Dia
menyadari bahwa sebentar lagi waktunya akan tiba. Dengan tenang, dia beranjak
dari tempatnya bermeditasi dan kemudian berjalan perlahan menuju pintu.
Tangannya kemudian menggenggam gagang pintu dari kayu itu dan membukanya.
Terdengar derit kecil. Kemudian tetap dengan ketenangan yang luar biasa, Rahib
Awan Putih kemudian beranjak keluar.


              Malam itu, suasana di biara sudah
begitu sepi. Semua biarawan sedang beristirahat di kamarnya masing-masing.
Rahib Awan Putih berjalan perlahan menuju arah dapur. Tiba di depan pintu
dapur, Rahib Awan Putih seakan tidak mau membuang waktunya, segera ia membuka
pintunya. Meski diburu waktu, namun Rahib Awan Putih melakukannya dengan sangat
halus agar tidak membangunkan para penghuninya. Rahib Awan Putih kemudian
menuju ke kamar para juru masak yang terletak di bagian dalam dapur. Sesampainya
di bagian kamar, Rahib Awan Putih seakan mencari sesuatu. Ada empat juru masak
yang bekerja di biara itu, untuk membantu tugas para biarawan. Tidak semua yang
tinggal di situ adalah biarawan. Mata Rahib Awan Putih kemudian tertuju kepada salah
satu pemuda yang tampak sedang tertidur begitu pulas. Rahib Awan Putih segera
menghampiri pemuda tadi dan dengan tanpa suara sedikitpun dia mengerahkan
sedikit gelombang energi dari tubuhnya lalu kemudian mengarahkan ujung jarinya ke
arah kening pemuda tersebut. Pemuda tersebut kemudian bangun. Mata pemuda itu
kemudian menatap wajah Rahib Awan Putih & langsung merasa bahwa ada sesuatu
yang tidak beres sedang terjadi. Perlahan ia beranjak bangun dari tempat tidur
dan segera berjalan mengikuti Rahib Awan Putih keluar dari dapur tersebut.


              Tanpa sepatah kata pun yang
terucap diantara mereka, mereka kemudian berjalan beriringan menuju ke ruang
meditasi Rahib Awan Putih. Dalam keheningan malam, pemuda itu bisa merasakan
sebuah peristiwa yang luar biasa sedang terjadi, karena tidak biasanya Rahib
Awan Putih membangunkannya di tengah malam buta seperti ini. Pemuda itu bernama
Bintang Salju. Dari semua penghuni biara itu, Rahib Awan Putih terkesan begitu
percaya kepadanya. Sesampainya di ruang meditasinya, Rahib Awan Putih kemudian
masuk ke dalamnya yang kemudian diikuti oleh Bintang Salju.


              “Bintang Salju, aku sudah tidak
mau berbasa-basi lagi saat ini. Aku ingin kau berjanji untuk melaksanakan
sebuah tugas untukku” ucap Rahib Awan Putih lembut tapi tegas.


              Bintang Salju tidak segera
menjawab. Sesaat dia memandang wajah gurunya. Wajah teduh yang dihiasi alis dan
janggut tipis panjang berwarna putih nampak menyiratkan sebuah kekuatiran.


              “Apa yang harus kulakukan untuk Guru?”
tanya Bintang Salju kemudian. 


              Rahib Awan Putih kemudian
menyerahkan sebuah tabung bambu kepada Bintang Salju sambil berkata,


              “Di dalam tabung ini terdapat semua
rahasia kemampuan gaibku. Aku ingin kau menyimpan ini semua dengan baik, sampai
suatu saat kelak kau harus menyerahkan ini semua kepada seseorang....”


              “Boleh aku bertanya Guru? Mengapa
Guru mempercayakan semua ini kepadaku? Padahal aku sendiri sama sekali tidak memiliki
kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Bagaimana nanti aku bisa melindungi
warisan guru yang sangat berharga ini,” tanya Bintang Salju lagi.


              “Bintang Salju, kau memang tidak
memiliki kemampuan untuk melindungi dirimu, namun pencapaianmu di dalam hal
spiritual sungguh sangat baik. Oleh sebab itulah aku mempercayakan tugas ini
kepadamu. Tugas ini memang sangat berat, namun aku yakin bahwa kau tidak akan
mengecewakanku. Biarlah takdirmu yang akan menuntunmu,” jawab Rahib Awan Putih
sambil tersenyum bijak.


              “Terima kasih atas kepercayaan
Guru kepadaku. Aku berjanji untuk melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya”
jawab Bintang Salju kemudian.


              “Bintang Salju, aku ingin kau
segera meninggalkan biara ini sekarang juga. Waktumu tidak banyak. Pergilah ke
arah barat & jangan berhenti sebelum kau mencapai desa Empat Kebajikan.
Carilah seseorang yang bernama Kaki Baja dan serahkan suraku ini kepadanya,
maka dia pasti akan membantumu,” kata Rahib Awan Putih lagi, sambil menyerahkan
sebuah kotak kayu kecil yang tidak terlalu tebal.


              Kemudian Rahib Awan Putih
bergegas mengambil sesuatu di lemarinya yang kelihatannya seperti sebuah
perbekalan. Rupanya Rahib Awan Putih sudah mempersiapkan segala sesuatunya
untuk tugas bagi Bintang Salju.


              “Aku mempersiapkan semua ini
karena aku begitu kuatir peristiwa malam ini akan terjadi. Di dalam bekal ini
ada beberapa pakaian, uang, peta ke arah desa tersebut dan juga beberapa ramuan
obat yang bisa kau pergunakan,” kata Rahib Awan Putih.


              Bintang Salju kemudian menerima
bekal itu dari tangan Rahib Awan Putih.


              “Baiklah Bintang Salju, adakah
yang ingin kau tanyakan lagi kepadaku sebelum kau berangkat?” tanya Rahib Awan
Putih.


              Bintang Salju mengangguk perlahan
sambil berkata,


              “Ada Guru. Kepada siapakah isi
tabung ini kelak harus kuserahkan?”


              “Anakku... aku rasa kau tidak
perlu mengetahui hal itu sekarang karena... dialah yang nanti akan
menemukanmu...” jawab Rahib Awan Putih dengan lembut.


              Bintang Salju tidak mau membuang
waktunya lagi. Dia segera membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada
gurunya untuk yang terakhir kalinya sambil berkata,


              ”Baiklah Guru, aku mohon pamit
sekarang. Jagalah diri Guru baik-baik.”


              Rahib Awan Putih kemudian
menyentuh kepala Bintang Salju dengan lembut dan berkata,


              ”Pergilah anakku dan
berhati-hatilah. Doaku selalu bersamamu. Temuilah Pak Tua di ujung desa, aku
sudah mempersiapkan sebuah kuda terbaik untukmu.”


              Di tengah kegelapan
malam, Bintang Salju meninggalkan biara tempat ia dibesarkan selama ini demi
sebuah tugas. Sebuah t

Resensi lain tentang Bintang Surga, Cinta tak Berbatas Waktu (Bab 3)
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------