Penggabungan teknik penulisan sastra dan fakta jurnalistik yang kini diikuti oleh pers Indonesia, di AS sudah ada sejak tahun 1965. Sampai saat ini praktek peminjaman teori sastra dalam penulisan berita masih terus berlangsung. Majalah Tempo yang mempelopori teknik penulisan berita baru ini segera diikuti oleh berbagai media lain , motonya “enak dibaca dan perlu”, melekat dibenak pembaca.
Meski buku ini terbit dua puluh lima tahun lalu, sampai sekarang masih menjadi pegangan para wartawan dalam menuliskan beritanya, karena hasilnya enak dibaca dan tidak mengerutkan kening pembacanya.
Term Jurnalisme Baru dan novel nonfiksi menjelaskan genre baru kontemporer dimana materi jurnalistik dihadirkan dalam bentuk fiksi. Sejak tahun 1965 karya Tom Wolfe “Kandy-Kolored Tangerine-Flake Streamline Baby dan karya Truman Capote “In Cold Blood” menimbulkan debat setelah diterbitkan dan mengawali babak Jurnalisme Baru atau dalam istilah Capote novel nonfiksi melampaui perdebatan ada mengubah konvensi jurnalistik yang ada.
Dasar premise dalam kajian ini adalah bahwa jurnalisme baru merupakan suatu genre fiksi baru yang kewajiban utamanya memenuhi kebutuhan pembacanya. Ada dua bentuk teori untuk menjelaskan jurnalisme baru. Pertama, teori realismenya Tom Wolfe . Jurnalisme baru menerapkan rencana khusus fiksi yang realistik untuk mengumpulkan bahan melalui reportase yang sistematik, sebagai berikut: Construction of scenes (1), dialoque (2), interior point of view (3), the recording of significant details of dress and milieu (4), mysteries behind the appearance (5), mirror the whole of reality (6), activelly select (7), transform (8), interpret (9). Media cetak dan televisi setiap hari menciptakan paket persiapan buat event fiksi yang menjadi realitas nasional untuk orang Indonesia. Pengarang secara individual menulis fiksi dimulai dari gagasan, kemudian mencari bentuk dan maknanya yang pas. Seterusnya pengarang yang secara energik menghadirkan perpektifnya dalam kalimat-kalimatnya. Sedangkan jurnalistik menghadirkan fakta secara monolitik menurut kebenarannya sendiri.
Jurnalisme sastra merupakan siasat seperti siasat lain-lainnya (investigative news, in-depth reporting) dalam menghadapi pesatnya pertumbuhan televisi. Jurnalisme sastra memang baru berkembang di Amerika pada tahun 1960-an melalui majalah The New Yorker. Media ini berkembang karena pergulatan gagasan pengelolanya, sebagai sebuah tuntutan profesi untuk dinilai dan dihargai. Artinya, pers diyakini sebagai kerja kreatif dalam mengemas 5W+1H melalui beragam eksplorasi tetap terbuka.