LAHAN SEMPIT, RUMAH BESAR
Summary rating: 5 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
88
kata:
600
Diterbitkan di: Januari 24, 2008
Lahan Sempit, Rumah Besar
Lahan sempit tidak membatasi seseorang untuk membangun hunian nyaman
yang menyiasati rumahnya supaya terlihat lebih luas sesuai dengan
komposisi ruang dan bangunan. Hal ini terlihat dari kediaman Noval
Arsyad yang berada di kawasan Cibubur. Tanah yang hanya seluas 144
meter persegi dapat dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menampung luas
bangunan 200 meter persegi. Ada baiknya kiat-kiat dalam membangun rumah
berikut Anda simak.
Rumah tersebut terdiri dari dua lantai, di lantai dasar hanya
terdiri dari satu ruangan yaitu ruang tidur utama yang didalamnya juga
terdapat kamar mandi; sementara di bagian atas adalah kamar tidur
anak-anak dan ruangan yang cukup luas untuk menonton TV, bermain, atau
lebih praktis sebagai ruang keluarga. Sebenarnya di bagian bawah juga
terdapat ruang yang bisa berfungsi sama, namun lebih banyak digunakan
sebagai ruang tamu/duduk.
Langkah pertama pemilik rumah adalah memotong serong tembok di kamar
utama (yang bentuk aslinya lurus) supaya ruang duduk lebih luas. Selain
itu, ruang kamar mandi dan kamar tidur juga sedikit diperkecil.
Pemotongan tersebut tidak berpengaruh banyak, apalagi kamar mandi hanya
memuat tempat pancuran dan wastafel. Ruang yang tercipta di bekas
tembok pemotongan akhirnya digunakan sebagai lemari, sebuah taktik
cerdik untuk mengatasi keterbatasan ruang.
Rumah berbentuk unik ini menghadap ke barat, yang berarti tidak
mendapat sinar matahari pagi. Karena kenyataan itu, di bagian depan
rumah tidak terdapat jendela berventilasi. Pintupun hanya satu, yang
berfungsi sebagai pintu utama. Sirkulasi udara terjadi antara pintu
depan dan belakang yang berada dalam posisi sejajar.
Akibat bentuk rumah yang unik dan memenuhi lahan, praktis tidak
banyak ruang tersisa di bagian belakang. Untuk menyiasati, tanah sempit
dijadikan taman dengan. Sebelumnya tanah lebih dulu digali sedalam 40
cm, di lapisan paling bawah diisi pasir, kemudian kerikil kasar, pasir
lagi, ijuk, dan terakhir barulah batu koral putih. Selain untuk
memperindah, batu tersebut juga berfungsi sebagai penyerap air hujan
supaya gak tampias, mengingat pintu bagian belakang nyaris selalu
dibuka.
Dalam memilih interior, sang pemilik menyesuaikan barang-barang
hiasan tersebut dengan warna cat tembok yang dipilih secara bersama.
Hasilnya, warna kuning-oranye yang mendominasi terlihat begitu serasi
dengan ornamen-ornamen yang diletakkan di rak yang terbuat dari besi
tempa. Pemilihan besi tempa itu sendiri dilakukan supaya barang-barang
nampak lebih menonjol, mengingat warna besi yang kusam dan tidak
menyolok.