Judul Resensi :Meniru
Kreativitas Tuhan
Nama Peresensi : Ferry Djajaprana Nama Asli : Verri Jaya Priyana
Judul Buku Asli : The Artist Way : A Spritual Path To Higher Creativity Penerjemah : Rina S.Marzuki Penyunting : Haris Priyatna, Agung Prihantoro Penerbit : Kaifa Cetakan : I, Juni 2004 Tebal : 392 halaman
Ukuran : 15 x 23,5 cm Tuhan telah menciptakan alam raya dan kehidupan yang ada di dalamnya dengan dibalut beragam keindahan. Setiap sudut yang terlihat adalah keserasian dan keseimbangan karya cipta dari Yang Maha Agung. Tidak ada detail yang tercecer dari keindahan yang Tuhan ciptakan. Inilah yang patut kita syukuri
sebagai hamba yang beriman. Melihat alam ciptaan Tuhan, berkesan bahwa Tuhan setiap saat sibuk untuk mencipta dan mencipta, tidak pernah sedetikpun kehabisan kreatifitias untuk mencipta. Sebaliknya kita manusia sering kali terhenti, kehilangan ide dan tak tahu harus berbuat apa, sementara waktu terus bergulir.
Apa yang bisa menolong kita mengatasi
kreativitas yang mandek?
Julia Cameron datang membawa buku “Meniru Kreativitas Tuhan”, untuk membantu kita. Menurutnya, hambatan kreativitas dapat disingkirkan apabila kita melibatkan Sang Kreator dalam pemulihan kekuatan kreatif kita. Ketika kita membuka diri kita terhadap Tuhan, berarti kita telah membuka pintu yang lapang bagi kreativitas dan akibatnya perubahan besar akan segera terjadi.
Tuhan adalah Energi Kreatif. Ketika kita menemukan kata Tuhan di dalam buku karya Cameron tersebut, maka Tuhan bisa dimaknai sebagai pengarahan atau aliran yang teratur dan baik. Memahami Tuhan bukan berakhir pada nama, melainkan diurai bagaimana konsep itu mewarnai hidup. Bagi pembaca pada umumnya, bisa mengumpamakan aliran tersebut sebagai listrik spiritual yang sangat bermanfaat sebagai landasan berpijak sebelum kita melompat. Kreativitas adalah fitrah manusia, sementara hambatan tidak bersifat alamiah, karena menghalangi suatu proses normal, sebagai contoh kasus yang sederhana adalah bagai bunga yang mekar di ujung tangkai suatu pohon yang berwarna hijau, prosesnya begitu sederhana dan langsung.
Jika kreatifitas kita terhambat, maka untuk melepaskannya mudah saja, salah satu contohnya adalah dengan menulisnya sambil bermain. Dengan melalui menulis dan bermain , maka akan terjadi sebuah “
gebrakan” - terlepas bisa disebut sebagai kebangkitan spiritual ataupun bukan. Pendek kata, teori tidak sepenting praktik itu sendiri. Apa yang akan dilakukan adalah menciptakan jalan-jalan dalam kesadaran agar dapat dilalui oleh daya kreatif yang sedang bekerja. Begitu kita bersedia meretas jalan-jalan ini, maka kreativitas akan muncul. Bagi kebanyakan orang, gagasan bahwa Sang Pencipta menyukai dan mendorong kreativitas adalah pemikiran yang radikal. Kita cenderung berfikir bahwa impian kreatif itu menandakan sifat sombong, sebuah sifat yang dilarang oleh Tuhan. Bagaimanapun, seniman kreatif dalam diri kita adalah sosok batiniah yang masih muda bahkan cenderung kekanak-kanakan. Potensi yang masih rapuh ini jangan sampai mati hanya karena kekhawatiran yang tidak tepat. Padahal kenyataannya yang sedang dibicarakan adalah pengalaman spiritual yang sengaja diundang. Dengan melakukan pelatihan spiritual tertentu untuk mewujudkan keselarasan dengan energi kreatif alam semesta. Menurut penulis, konsep yang disodorkan oleh Julia Cameron ini sebenarnya suatu hal yang sederhana apabila dibahas melalui kaidah sufisme, yaitu kemanunggalan kreativitas antara manusia dengan Dzat Sang Pencipta itu sendiri. Saat kita bergerak berdasarkan keyakinan untuk berkreasi, alam semesta akan mengembangkannya lebih jauh, contoh sederhananya seperti membuka katup penutup irigasi, apabila ulir krannya dibuka maka air akan mengalir dengan deras mencari tempatnya sendiri yang lebih rendah. Sebagaimana semua ziarah, di jalan seniman kita kerap dibantu sesama peziarah dan tangan-tangan yang tak kasat mata. Orang biasa menyebutnya dengan suara bathin atau ilham. Intinya adalah anda akan mendengarkan sesuatu jika memperhatikannya secara seksama. Siapkan jiwa anda untuk menerima bimbingan.
Penulis,
Verri Jaya Priyana