Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Bagaimana Cara Menggunakan Bantuan & Swakarya>Akhlak Anak Terhadap Orang Tua Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Akhlak Anak Terhadap Orang Tua Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

oleh: Firin     Pengarang : Karsudin
ª
 
Akhlak Anak Terhadap Orang Tua  menurut Syekh Nawawi Al-Bantani
 
            Dalam menghadapi laju perkembangan zaman, pembaharuan dalam pemahaman agama perlu terus dilakukan sebagai upaya menggali hakikat kebenaran. Selain itu, umat Islam juga perlu dan dituntut untuk menguasai ragam keterampilan dan keahlian. Syeikh Nawawi memahami bahwa, “perbedaan umat adalah rahmat” dalam konterks keragaman kemampuan dan persaingan untuk kemajuan Umat Islam.
            Potret pemikiran Syeikh Nawawi terekam dalam karya-karyanya, yang pada umumnya menampilkan pikiran-pikiran tradisionalisme, sufisme dan asketisme. Tradisionalisme dalam banyak pandangan ditandai dengan kecenderungan-kecenderungan yang sangat kuat pada upaya-upaya mempertahankan kemapanan tradisi. Tradisi lebih lanjut memiliki makna yang sakral dan karena itu perubahan-perubahan atasnya dianggap sebagai ‘kesalahan’ dan keburukan. Ada ketakutan-ketakutan yang menghantui upaya-upaya perubahan dan pembaharuan. Argumen yang acap kali dikemukakan adalah bahwa tradisi yang sudah berjalan dan diamalkan adalah merupakan sesuatu yang pasti. Jika tradisi-tradisi tersebut dianggap sebagai kebaikan, maka harus dipertahankan, karena perubahan adalah spekulasi dan belum jelas baik buruknya.
            Meskipun tradisionalisme mewarnai pemikiran Syeikh Nawawi, namun dari sisi lain ia tercatat sebagai pembaharu tradisi pemikiran keagamaan di Indonesia. Dalam pengamatan Abdurrahman Wahid, pada abad 19 telah terjadi perubahan-perubahan yang cukup penting dalam tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Ini dimulai dengan pengiriman para pelajar Nusantara ke Timur Tengah terutama ke Mekkah. Sebagian dari mereka kemudian menjadi ulama besar seperti Syeikh Nawawi, Syeikh Mahfuz Termas, Kia Kholil Madura, Kiai Hasyim Asy-ari Jombang dan sejumlah ulama lain hingga tidak putus-putusnya sampai hari ini, mereka membawa orientasi baru pada manifestasi keilmuan di Indonesia, terutama dilingkungan pesantren. Sebelum munculnya para kiai tersebut, wacana-wacana keagamaan khususnya fikih adalah wacana-wacana sinkretisme kejawen.
            Di lihat dari konteks sejarah kehidupannya, Syeikh Nawawi hidup sezaman dengan tokoh pembaharu terkemuka Jamaluddin al-Afgani (1254 -1314 H/1839-1897 M) dan murid utamanya Muhammad Abduh (1266-1323 H/1849-1905 M), tetapi sulit bagi kita untuk dapat menemukan pikiran-pikiran baru dari Syeikh Nawawi. Satu hal mungkin dapat dijadikan alasan mengapa pikiran modern Syeikh Nawawi kurang menonjol dibandingkan dua tokoh modernis ini adalah karena negeri Hijaz, tempat Syeikh Nawawi bermukim, memang sangat berbeda dengan Mesir, tempat tinggal Jamaluddin dan Muhammad Abduh. Dibanding dengan negeri-negeri Islam yang lain, Hijaz adalah satu-satunya negeri Muslim yang tidak tersentuh oleh imperialisme Barat. Penjajahan Bangsa Barat ke negeri-negeri Muslim pada abad ke 19, meskipun pada satu sisi merupakan penindasan, juga dapat memperkenalkan peradaban rasional dan terknologi. Oleh karena itu, membandingkan Syeikh Nawawi dengan kedua tokoh tersebut boleh jadi memang tidak proporsional. Syeikh Nawawi mungkin dapat di pandang sebagai pembaharu atau paling tidak telah melakukan perubahan atas tradisi yang berkembang pada masanya termasuk tradisi yang ada di Indonesia tercinta ini.
            Pikiran-pikiran Syeikh Nawawi juga banyak di pengaruhi paradigma sufisme. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, Sufisme sering ditampilkan dalam aktifitas-aktifitas ritual  personal yang intens dalam rangka menyucikan diri guna mendekatkan diri pada tuhan. Aktiftas-aktifitas ini dipandang lebih utama daripada aktifitas lain yang bersifat sosial.
            Di dalam bidang fiqih, seperti halnya pendapat Syafi’i sebagai imam mazhab yang dianutnya, menurut Syeikh Nawawi, sumber rujukan dan dasar pandangan dalam hukum Islam adalah al-Qur’an, al- Hadits, al-Ijma’ dan al-kiyas. Perihal ijtihad dan taklid, ia berpendapat bahwa, yang termasuk mujtahid mutlak adalah imam mazhab empat.
            Dari penjelasan di atas sesungguhnya Syeikh Nawawi menguasai berbagai bidang agama yang tidak diragukan lagi terutama dalam bidang fikih, tauhid dan akhlak. Dari ketiga bidang tersebut penulis hanya akan membahas masalah akhlak, khususnya akhlak anak terhadap orang tua.
            Agama  Islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai anak untuk berbakti dan taat kepada ibu-bapak. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan perbuatan yang terpuji, cara berbakti dan sopan santun kepada orang tua ialah melaksanakan segala perintahnya dengan melakukan hal-hal sebagaimana Syeikh Nawawi sebutkan dalam kitab Maroqil ‘Ubudiyah bahwa akhlak anak terhadap orang tua adalah sebagai berikut:

Mematuhi perintahnya selama perintah itu bukan dalam mendurhakai Allah.
Tidak berjalan didepan keduanya, tetapi disamping atau dibelakangnya. Jika ia berjalan didepannya karena sesuatu hal, maka tidaklah mengapa ketika itu.
Menjawab panggilan mereka dengan jawaban yang lunak.
Berusahalah keras untuk mencari keridhaan kedua orang tua dengan perkataan dan perbuatan.
Bersikaplah rendah hati dan lemah lembut kepada kedua orang tua seperti melayani mereka, menyuapi makan dengannya bila keduanya tidak mampu dan mengutamakan keduanya diatas diri dan anak-anaknya.
Janganlah bermuka cemberut kepada keduanya.
Janganlah bepergian, kecuali dengan izin keduanya.
 
Selain dalam kitab Marokil ‘Ubudiyah Syeikh Nawawi juga menerangkan dalam kitab Tafsir al-Munir mengenai akhlak anak terhadap orang tua yang terdapat dalam surat al-isro’, ayat 23-25 bahwasannya Allah menegaskan agar kita sebagai manusia untuk menyembah hanya kepada-Nya saja. Karena manusia diciptakan Allah sebagai hamba sehingga diperintahkan Allah untuk selalu beribadah kepadanya dimanapun dan kapanpun berada.
Diterbitkan di: 15 Februari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    halo Sahabat facebook kan... gw tadi ngebaca tentang akhlak hidupkan akhlak di kalangan umat islam Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    adaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaawwwwwwww kurang lengkap choooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooyyyyyy ( 2 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    thnk you..... 13 April 2012
  1. Jawaban  :    atuuuuuuuuuuuu belejar nu bener mangkana broooooooow 16 Februari 2012
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.