Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Bagaimana Cara Menggunakan Bantuan & Swakarya>Dalil Hadis Larangan Yang Berhubungan Dengan Ttm, Pacaran Dan Tunangan

Dalil Hadis Larangan Yang Berhubungan Dengan Ttm, Pacaran Dan Tunangan

oleh: Firin     Pengarang: DALIL HADIS LARANGAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN TTM; PACARAN DAN TUNANGAN II
ª
 
DALIL HADIS LARANGAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN TTM, PACARAN DAN TUNANGAN II
3. LARANGAN BERSALAMAN, BERSENTUHAN BUKAN MUHRIM
Dari Ma'qil bin Yasar Radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Andaikan ditusukkan ke kepala salah seorang diantara kalian dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada dia harus menyentuh wanita yang tidak diperbolehkan baginya". [Thabrani dalam Kitab Al-Kabir, Bab XX No. 211 dengan isnad hasan]
Dari ‘Aisyah ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membai’at para perempuan dengan perkataan. Tidak pernah tangan Rasulullah SAW memegang tangan para perempuan, kecuali tangan perempuan yang telah menjadi miliknya (artinya perempuan yang telah dinikahinya = istri Nabi). [Bukhari]
4. LARANGAN BERKHALWAT
• Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpidato: “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. Tiba-tiba seorang lelaki bangkit berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteriku pergi untuk menunaikan ibadah haji, sedangkan aku terkena kewajiban mengikuti peperangan ini dan itu. Beliau bersabda: “Berangkatlah untuk berhaji bersama isterimu”. [Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad]
• Dari Uqbah bin Amir, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah olehmu mendekati orang-orang perempuan”. Kemudian ada seorang sahabat Anshar bertanya: Bagaimana kalau mendekati kerabat isteri? Beliau SAW menjawab: “Mendekati kerabat isteri adalah berarti mati”. [Bukhari dan Muslim]
Yang dimaksud kerabat isteri antara lain: kakak ipar, adik ipar, ibu mertua, dan sepupu isteri, kemenakan dan lainnya.
5. LARANGAN CINCIN EMAS BAGI LAKI-LAKI
Bukan rahasia lagi dalam masyarakat kita bahwa setiap kali terjadi pertunangan, maka pihak laki-laki dan pihak perempuan akan saling bertukar cincin. Dan umumnya cincin itu adalah sepasang, artinya ia memiliki bentuk yang sama untuk laki dan perempuan itu. Namun keburukan yang dilakukan oleh manusia adalah mereka menghalalkan cincin emas bagi laki-laki, padahal sudah nyata pengharamannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa cincin tunangan ini akan membawa pasangan ini kedalam dua dosa yaitu dosa menyerupai perbuatan orang kafir (tasyabbuh) dan dosa karena cincin emas itu. Belum lagi termasuk dosa yang mungkin terjadi sebelum mereka bertunangan seperti pernah bersentuhan atau yang lainnya.
Orang-orang Islam yang awam beranggapan bahwa dengan pertunangan atau pertalian, maka calon suami isteri ini boleh berjalan bersama atau urusan lainnya yang berhubungan dengan persiapan mereka menikah, misalnya; membolehkan mereka berduaan mengurus surat nikah ke KUA. Padahal sudah sangat jelas larangan berduaan dengan bukan muhrim. Tunangan bukan berarti sudah nikah dan halal. Tunangan masih dalam status haram.
• Dari Barra bin Azib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk melaksanakan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, melaksanakan sumpah dengan benar, menolong orang yang dizhalimi, memenuhi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami memakai cincin emas, minum dengan wadah yang terbuat dari perak, hamparan (selimut/kasur) sutera, pakaian buatan Qas (berbahan sutera) serta mengenakan pakaian sutera baik yang tebal maupun tipis. [Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]

Diterbitkan di: 21 Januari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Asslkm, sy mau bertanya bgm hukumnya klo dalam pekrjaan ada tgs luar,seorang suami mengajak / janjian dg seorang teman perempuan utk pergi dan pulang bersama ke tempat tujuan? Mohon jwbannya.. Lihat semua
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.