Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Karyawan Racun: Kiat Menghadapinya

oleh: RGiovanie     Pengarang : Anthony Dio Martin
ª
 
Melihat judulnya, buku ini cukup seram: karyawan beracun! Apakah memang ada karyawan yang layak disebut seseram itu, serta bagaimana cara menghadapinya?

Dalam buku setebal 185 halaman ini, Anthony menjelaskannya secara gamblang. Beracun yang dimaksud Anthony ternyata tak ada kaitannya dengan pembuat onar di tempat kerja. Juga tak berhubungan dengan mereka yang malas dan suka mangkir. Bahkan seorang karyawan yang cerdas, produktif, rajin bekerja dan tak pernah mangkir sekalipun bisa menjadi racun.

Lantas? Ternyata yang dimaksud dengan toxic employee adalah berkaitan dengan sifat, mentalitas dan cara berpikir karyawan, bukannya perilaku. Sifat, mentalitas dan cara berpikir yang merusak bisa menjadi racun membahayakan yang bisa menyebar ke lingkaran sekitarnya.

Itulah sebabnya, untuk mengetahui karyawan semacam ini sama sekali tidak bisa dikenali dari penampilan luar. Karena itu seorang pemimpin perlu senantiasa mewaspadainya. Bila tidak, maka racun itu akan menjalar bak kanker yang akan terus menggerogoti dan akhirnya bisa mematikan.

Menurut Anthony, karyawan yang bersifat ‘racun’ ini cenderung berpikir negative dan pesimistis. Meskipun cerdas, tapi justru seringkali menimbulkan masalah dalam sebuah tim. Ciri-ciri lainnya adalah sifatnya yang egosentris, emosional, dan suka menyebarkan isu.

Karena sulitnya mengenali karyawan yang berjiwa merusak ini, menurut Anthony, dibutuhkan adanya kejelian dalam mengenalinya. Pertanyaannya kemudian, apakah karyawan beracun ini bisa diterapi?

Meski tidak mudah, namun ada cara untuk mengatasinya. Hanya saja, lagi-lagi dibutuhkan adanya kejelian. Pasalnya munculnya karyawan beracun ini karena berbagai sebab. Kekecewaan yang menumpuk dan tak mendapatkan penyaluran pun bisa melahirkan penyakit ini.

Kunci solusinya adalah komunikasi dan pendekatan dengan karyawan. Hubungan yang lebih dekat, dari hati ke hati, antara pimpinan dengan karyawan bisa menyembuhkan. Sedangkan untuk menghindari penyebarannya, mereka yang ‘suspect’ pengidap ‘racun’ harus dibatasi ruang geraknya. Karena pengidap penyakit ini lazimnya lebih sigap dan lebih up date.

Selain itu, pemimpin yang sudah mencium aroma ‘racun’ di kantor juga semestinya sejak dini melakukan bimbingan. Kalaupun tidak menyembuhkan, namun mampu menghindari terjadinya penyebaran virus ‘racun’ itu. Selanjutnya, lakukan langkah komunikasi yang lebih intensif dan mendalam.

Bila semua langkah telah dilakukan tetapi tak membuahkan hasil? Solusi terakhir terpaksa harus dilakukan, yakni lakukan amputasi. Kehilangan satu orang atau beberapa orang lebih baik daripada kehilangan perusahaan.(*)

Diterbitkan di: 15 Mei, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.