Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Berpikir, Apa dan Bagaimana

oleh: ishak_zainal     Pengarang : KH Jamaluddin Kafie
ª
 

Fungsi akal adalah berpikir. Akal mengandung potensi ruhaniah yang memiliki kesanggupan berpikir, menyadari, menghayati, mengerti dan memahami. Kegiatan akal berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut intelengensi (sifat kecerdasan jiwa).

Intelegensia memiliki kemampuan menghasilkan pemikiran atau penemuan dan menciptakan pemikiran yang cepat dan tepat (teori). Selain itu, mempunyai kesanggupan memecahkan problem (praktek). Intelengensi mengalami proses pengembangan dan peningkatan berpusat di otak. Meski pengembangannya berpusat di otak, namun kesadaran bukan terletak di otak tetapi di hati.

Berpikir secara metodis (yang disadari) merupakan kerja dari dua unsur, yaitu otak dan hati. Otak adalah alat berpikir dan hati alat menghayati. Otak dan hati berhubungan erat. Itulah sebabnya tidak bisa dipisahkan kerja otak dan hati dalam istilah sehari-hari disebut akal-budi.

Tujuan berpikir sebenarnya untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui agar bisa diketahui khususnya mengetahui kebenaran. Dalam berpikir tersebut, ada metode berpikir biasa, berpikir logis, berpikir ilmiah, berpikir filsafat, berpikir theologis.

Untuk memudahkan memahami metode berpikir ini, dapat dilihat dari contoh seperti di bawah ini jika bertanya:

Apakah hujan itu?
Berpikir Biasa menjawab : Hujan adalah titik air yang jatuh dari langit setelah mendung dan awan menebal hitam,.dst…. (Berdasarkan pengalaman indrawi)

Berpikir Logis Menjawab : Awan adalah kumpulan uap air. Apabila makin menebal sehingga menutup matahari, hari menjadi mendung dan menemukan suhu yang membalikkan uap kembali menjadi air…dst (Berdasarkan hasil penalaran)

Ilmu Pengetahuan Menjawab : Terjadinya hujan adalah karena hukum alam, peristiwa alamiah yang sudah serba tetap (low of nature). Dan air itu terdiri dari H (zat hidrogenium) dan O (Oxygenium) yang bersenyawa dengan perbandingan 2-1 (Berdasarkan teori ilmiah)

Dari sini kemudian Filsafat mengembangkan dari pertanyaan tadi: Apakah hukum alam itu?

Filsafat menjawab : Hukum alam itu adalah hukum materi atau zat. Zat adalah hakikat segala sesuatu yang ada. Ia adalah hakikat dst.
Filsafat bertanya lagi : Siapakah zat itu? Siapakah yang menciptakan hukum alam? Siapakah yang mengatur hujan? Apakah hukum alam bisa melakukan hukum alam? dst.

Filsafat hanya mampu memberikan jawaban sebatas yang dijangkau akal pikirannya. Akal filsafat berhenti bila pertanyaan memasuki Penciptaan (Al Okhtira’), Pembinaan (Al inayah) dan Keteraturan (An Nidlam). Selanjutnya yang memberi jawaban adalah agama atau wahyu yang mengandung nilai kebenaran mutlak (Annahul Haq)

Sementara fungsi berpikir juga untuk pemecahan problem. Namun sebelum memasuki itu yang perlu diketahui apa itu problem? Problem adalah persoalan yang dihadapi seseorang dan tidak diketahui jawabannya tetapi ia perlu segera mendapatkan jalan keluarnya.

Contoh problem yang dihadapi Nabi Ibrahim dalam Al Qur’an surat Al An’am : (74-79) yang artinya.

Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapanya Azar : “Pantaskah bapa menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan yang disembah? Sesungguhnya Aku melihat bapak dan kaum bapak itu berada dalam kesesatan nyata”. Ayat (74).

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda Keagungan Kami di langit dan di bumi, dan Kami memperlihatkannya agar dia termasuk orang-orang yang yakin (75).

Ketika malam telah menjadi gelap dia melihat bintang, lalu berkata “Ini Tuhanku”. Tetap tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata : Aku tidak suka kepada yang tenggelam. (76)

Kemudian, tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (77)

Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata :”Inilah Tuhanku, ini lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku terlepas diri dari apa yang kalian persekutukan”. (78)

Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (79)

Berdasarkan kisah di atas, maka dapat dianalisa:
Sikap. Nabi Ibrahim menaruh perhatian terhadap perbuatan bapanya dan kaumnya (problem), selanjutnya ada dorongan kuat untuk mencari pemecahan masalah (minat), sebagai seorang berjiwa agama, dia mengadakan penelitian dan pembuktian tentang kebenaran adanya tuhan (sikap ilmiah).

Berdasarkan ayat di atas, langkah-langkah berpikir yang ditempuh Nabi Ibrahim diantaranya

1. Memahami masalah terdapat pada ayat 74
2. Mengumpulkan data-data atau informasi berkenanaan problem yang dihadapi pada ayat 75
3. Menyusun hipotesa-hipotesa : “Inilah tuhanku” pada ayat 76
4. Menilai hipotesa: ”Sesungguhnya aku tidak suka kepada yang tenggelam”. (76) Hipotesa yang tidak  tepat dibuang dan diganti dengan hipotesa baru, dinilai dan dibuat lagi atau mengabstrasikannya (77-78)
5. Menguji kebenaran hipotesa melalui pengamatan baru. “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku orang-orang yang sesat.
6. Menyimpulkan dan menyatakan pendapatnya :”Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi… dst (79). Secara logis dengan mencapai kebenaran yang menyakinkan dirinya (teori tauhid
 
Catatan : Sklik foto atau ishak_zainal untuk mencari kaitan tulisan di atas pada tulisan  sebelumnya.

Diterbitkan di: 09 April, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.