Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Syekh Siti Jenar - Makna Kematian

oleh: adiguna     Pengarang : Achmad Chodjim
ª
 
Memahami Makna Kematian untuk menjadi Manusia Hakiki
Bermacam ajaran agama yang ada didunia mempunyai pandangan berbeda tentang kematian. Dari reinkarnasi, kebangkitan, hingga alam barzah. Tetapi intinya mengindikasikan satu tujuan yang sama, yaitu kembalinya diri, jiwa, roh ke Haribaan Tuhan, meninggalkan alam jasmaniah dibumi. Sangat berbeda dengan pendapat dan ajaran Syekh Siti Jenar, yang menyatakan bahwa “dunia ini adalah alam kematian”. Dunia adalah alam kubur dan raga adalah sebuah terali besi yang menahan jiwa berada didunia dan merasakan kesusahan didunia, haus, lapar, dan kesedihan. hidup sekarang hanya sebuah persiapan untuk memasuki hidup yang sebenarnya. dan jika tidak siap, jiwa akan terperangkap ke dalam alam kematian kembali yang bersifat bangkai.. Hakikat hidup adalah kekal selamanya dan tak tertimpa kematian. Analogi hidup dan mati adalah perputaran bumi pada porosnya, atau terjadinya siang dan malam. Ketika manusia lahir, dia sebenarnya “born to die”. Lahir untuk menuju kematian. Dunia bukan jalan hidup tetapi jalan menuju kematian. Hidup yang sebenarnya adalah tanpa raga, telanjang dalam wujud frekuensi murni. Dalam konteks Jawa dikenal dengan “manunggaling kawula Gusti”, bersatunya diri dengan Tuhan. Kebutuhan kita didunia akan sandang, pangan, papan (pakaian, makanan dan tempat tinggal) selama didunia hanya sarana untuk menunda kematian dan menemukan jalan hidup yang sesungguhnya, karena kematian tidak bisa dihentikan. Meskipun pendapat Syekh Siti Jenar ini semua bersumber serta dilandasi pada ayat-ayat Al Qur’an, tetapi universal untuk semua agama umat manusia. Konsep filsafat inilah yang ingin diterapkan oleh Syekh Siti Jenar karena lebih rasional dalam menggambarkan keaslian kultur masyarakat Jawa. Islam yang dipahami sesuai dengan realita, menekankan pada budi pekerti tanpa kebohongan maupun symbol-simbol yang menipu dan melepaskan kebiasaan hidup yang berdasarkan opini ataupun pendapat. Pancaindrapun tidak bisa kita jadikan pedoman dalam hidup untuk mencari kebenaran. Indra hanyalah alat. Materi. Begitu juga dengan akal budi yang masih bisa diartikan sebagai ego karena sifatnya yang bias dan kemungkinan menyimpang. Luar biasa pendapat Sang Syekh ini, karena 250 tahun mendahului pandangan seorang filsuf besar Immanuel Kant (1724-1804).
Syekh Siti Jenar ingin mengajarkan Islam yang sesuai dengan tatanan kehidupan, kondisi dan budaya masyarakatnya. Berdasar pada akal budi yang terpimpin, melepaskan diri terlebih dulu dari hawa nafsu, kepalsuan dan dusta tetapi tetap dalam alur Syariat Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an, berbentuk Islam yang tumbuh dari dalam diri. Bagi Sang Syekh, hidup sesungguhnya adalah menjadi manusia hakiki yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian dan kodrat. Dalam hal ini ada perbedaan pandangan antara beberapa Sufi yang berpendapat pada dualisme, kesatuan hamba dan Tuhan dengan Sang Syekh yang lebih berfokus pada diri pribadi, satu realitas, Tuhan selalu bersama manusia. Menjadi manusia yang memahami eksistensinya karena hanya manusia yang mempunyai eksistensi didunia. Bagi Syekh, kepercayaan adalah kepercayaan, terlepas dari pandangan dualisme maupun monoisme, terlepas dari bermacam agama dan kepercayaan yang membungkusnya. Agama hanya sebuah jalan yang harus dilalui, dengan tujuan yang sama, Tuhan. Disini Syekh mengajarkan manusia untuk melihat perbedaan antara citra dan realita. Semua yang timbul dari sesama manusia adalah citra, sedangkan menguasai ilmu tentang kematian adalah realita.
Berbagai kajian tentang agama Islam yang dibahas dalam buku ini bersumber pada peninggalan sejarah tentang Syekh Siti Jenar dalam bentuk Pupuh (semacam bait-bait puisi yang biasa dilagukan). Diperlukan kematangan pemikiran kita dalam mendalami buku ini agar tidak timbul kesalahpahaman dalam mengartikan sehingga menjebak pemikiran kita sebagaimana pandangan negatif masyarakat Jawa terhadap Syekh Siti Jenar selama ini. Semua pandangan, ajaran dan pendapat Sang Syekh adalah bersumber pada Al-Qur’an yang ditafsirkan secara mendalam, akurat dan dalam pemaknaan yang tinggi sehingga sesuai dengan adat dan budaya masyarakat Jawa tanpa terjadi pemaksaan dalam artifikasi maupun pelaksanaan
Dalam pemikiran saya yang masih dangkal, dari pendapat Syekh Siti Jenar yang dikemukakan dalam buku ini adalah pentingnya implementasi dalam relevansi antara keikhlasan, kesederhanaan dan memberdayakan pemikiran yang logis untuk mencapai eksistensi manusia dalam perjalanan sementara didunia menuju hidup yang sesungguhnya. Tuhan hanya sebagai Causa Prima (Penyebab Pertama) dalam menciptakan manusia. Sedangkan perbuatan baik atau buruk pada manusia merupakan iradatnya sendiri dan tidak bisa disalahkan pada Tuhan. Jika manusia telah mencapai tingkatan dalam pengendalian diri yang baik, berbuat baik beramal saleh, mampu melepaskan hawa nafsu dan berbudi luhur, niscaya Tuhan akan senantiasa bersama manusia. Bila manusia tidak lagi memikirkan semua syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat, maka dirinya telah menuju “manunggaling kawula Gusti”. Menjadi wujud realitas manusia sejati yang bisa berasal dari agama Islam, Buddha, Kristen ataupun lainnya. Memenuhi kodratnya sebagai khalifah-Nya didunia. Juga pendapat beliau yang menggambarkan demokrasi, perbedaan pendapat, keberagaman, persatuan dan berbagai pemikiran yang hebat akan tetapi terlalu jauh kedepan melampaui pemikiran umum pada masa itu sehinga menimbulkan perbedaan pendapat dan pergesekan dengan ajaran 8 Wali yang sudah ada pada waktu itu dan berpangkal pada pemusnahan bahkan pembelokan sejarah terhadap Syekh Siti Jenar dan ajarannya.

Diterbitkan di: 02 Januari, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    siapa aku dan apa tujuanku ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    aku hamba dan tujuanku mengabdi 05 Desember 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kenapa hidup ini cuma permainan..... dimna letak inti permainan nya......??? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    karena hidup ini tidk tetap selalu berubah.letak inti permainannya dlm hati 05 Desember 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa faham laotse sama dg faham syeh sitijenar Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    dimana allah berada,,,surga atau neraka ( 5 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    allah berada dimana mana. tolong beri fahaman jwbn ini! 05 Desember 2012
  1. Jawaban  :    allah tidak ada karena mahkluk yang kamu namai..tuhan tak bernama karena sang pencipta,yang bernama itu adalah mahkluk...jadi hati-hati dalam menyimpulkan apa itu TUHAN 08 Nopember 2012
  1. Jawaban  :    Segala yang ada adalah ciptaan Alloh SWT, dan kesemua itu merupakan representasi dari "DZAT" bukan zat yang Maha Menciptakan. Sehingga dimanapun kita berada dan kapanpun, tanpa batas ruang dan waktu, kita selalu berhadapan dengan Dia. Baca Syekh Siti Jenar Mengenai Makrifat di Google books. Terima kasih. 20 Desember 2011
  1. Jawaban  :    di dalam hatimu....jika kau mau 25 September 2011
  1. Jawaban  :    jawab : ada di keduanya... tanya : kamu itu apa, siapa? 27 Juli 2011
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. sofian hadi

    pandangan

    pada inti ny kajian yg d sampaikan,oleh syekh siti jenar memang benar ada nya.hany manusia yg sederajat/marifat tullah yg memahami kajian ny...

    0 Nilai 27 April 2011
X

.