• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Sastra Kuno>Panorama ALAM MELAYU

.

Panorama ALAM MELAYU

oleh : duniaq    

Pengarang : syeh maulana
 
Perkembangan keagamaan orang Melayu pada awalnya adalah penganut Animisme-dinamisme, terutama pada masa Melayu
awal (early Malay). Kemudian pada perkembangan selanjutnya pengaruh Hindu-Budha merebak dalam masyarakat Melayu, hal ini ditandai dengan penggunaan bahasa sangsekerta dalam teks-teks Melayu. Disini Collins beranggapan bahwa penggunaan bahasa dan huruf Palawa yang digunakan berkorelasi dengan teks-teks yang ada di biara-biara sehingga ada proses perubahan teologis masyarakat Melayu kuno (old Malay). Argumen ini diperkuat dengan didirikannya tempat pemujaan agama budha di Ligor (Thailand) (p. 8-9), termasuk disini adalah kerajaan Majapahit (Suratno, 1996 : 12). Masuknya Islam ke masyarakat Melayu ini diperkirakan terjadi pada abad ke 14 yakni dengan ditemukannya prasasti Melayu tertua yang ditulis dalam bahasa Arab berangka tahun 1303 di desa Hulu Sungai Trengganu yang menyatakan pemberlakuan hukum Islam di seluruh kerajaan Trengganu (Collins, 1998 : 9).
Di Nusantara sendiri, istilah “Melayu” menurut Prof. DR. Siti Chamamah Suratno sudah dipakai untuk menyebut nama suatu masyarakat yang hidup pada tahun 644 M. Pada tahun 645 M kata Moloyeu disebutkan sebagai nama sebuah kerajaan di Sumatra yang terpusat di Jambi (Slamet-Muljana dalam Suratno, 1996 :13). Adapun kata Melayu menurut Ronald Provencher diambil dari nama suku terbesar di Minangkabau, ditambahkan olehnya bahwa Melayu dianggapnya sebagai suatu identitas penerus yang sah dari dinasty Kerajaan Sriwijaya, yakni orang-orang dari negeri-negeri kecil Asia Tenggara yang menjadikan Islam sebagai keyakinan ideologisnya. Adapun dari segi bahasa, Melayu berakar dari kata “layu” yang berasal dari bahasa Melayu Johor berarti layar, dan Melayu Minang : layo yang berarti layar, dan juga berarti layu/berkerut atau disalai/diasapi Dari sinilah muncul dua angapan mengenai orang Melayu yang terkait dengan kehidupan social cultural orang Melayu. Pertama bahwa Melayu menunjukkan pada system kekuasaan primordial yang tersebar di nusantara ini. Kedua, bahwa Melayu yang berarti layar menunjukkan bahwa Melayu merupakan pelaut ulung. Hal tersebut juga dapat kita lihat pada realitas sosio-cultural masyarakat Melayu yang selalu mengambil daerah pesisir sebagai pusat pemerintahaan dan pemukiman (Musa, 2003 : 9)..
Diterbitkan di: April 07, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.