FIFTY SEVEN SECOND
FIFTY SEVEN SECONDSetelah gempa 27 mei 2006, banyak hal telah kembali normal,
guncangan kejiwaan dan keimananpun berlahan diganti kebanggaan menatap prestasi
yang diukir kini, bangkit menatap masa
depan dan membangun tampaknya menjadi moto yang sanggup menggerakkan para warga
untuk mengubah kondisinya walaupun banyak kendala dan tidak sedikit dana yang
susah untuk mencair seperti gunung es. Kehidupan sudah menemukan ritme awalnya.
Mengenang
sebuah bencana memang
dapat saja kembali
menorehkan sayatan baru pada bekas luka yang pernah sembuh. Kehancuran
kebanggaan dan hilangnya
rasa percaya diri yang pernah dialami saat menyaksikan
runtuhnya buah karya manusia dapat kembali membuat
orang menjadi tak berdaya
dan ketiadaan kepercayaan kepada apa saja yang dirancang dan dibangun
peradaban. Duka, kekosongan, dan sakit hati yang sangat dalam ketika
orang-orang yang dicintai mendadak mati
tanpa pamit dapat membangkitkan lagi
rasa bersalah yang tak terobati, demikian sedikit esai dari muhammad sobary.
Tapi yang mengesankan secara mendalam dan mengundang rasa
kagum yang mestinya dipertahankan adalah solidaritas yang tumbuh spontan
diantara semakin mahal dan asingnya semangat bela rasa. Menurut Bruce W
Carpenter, kebijaksanaan ini telah menjiwai masyarakat jawa sejak dulu.
Kebijaksanaan inilah yang membuat masyarakat jawa bertahan dalam sejarah selama
lebih dari dua ribu tahun.”tanpa syak mereka akan bertahan dua ribu tahun
lagi”.
Sentuhan artistik tampak sangat kuat pada foto-foto karya
sejumlah fotografer profesional dan amatir didalam buku ini. “Bukanlah prestasi
gampangan untuk menghasilkan foto seperti
itu” demikian Oscar Matuloh berujar.
Setiap foto memiliki keleluasaan berbicara dan membangkitkan kesan tanpa
penjejalan gambar, sanggup membuka ruang pengembaraan kedalam dunia makna.
Didalam peristiwa 57 detik itu terkristalisasi sebuah
sejarah yang kaya dan tersimpan kekuatan untuk sebuah ziarah yang panjang. Dan
buku FIFTY SEVEN SECOND adalah usaha untuk menghadirkan
kristalisasi dan menyuguhkan kekuatan itu.
Resensi lain tentang FIFTY SEVEN SECOND