Sebaik-baik
kamu adalah yang paling baik dalam memperlakukan isteri. (HR. At-Tirmidzi)
Pilih mana: suamimu kawin
lagi
atau selingkuh? Atau,
lebih baik mana: suamimu kawin berseri atau tak
berseri? Ada pula, lebih senang mana: suamimu bergaul
dengan orang yang jelas atau
dengan orang yang tak jelas? Tidak jarang ada yang mendasarkan ke agama, lebih
mulia mana: menerima perintah Allah dengan ikhlas demi surga atau melawan
ayat-ayat-Nya yang berarti durhaka dan neraka?
Para penolak poligami tentu akan menyerang balik
pertanyaan-pertanyaan itu, karena dianggap memosisikan kaum hawa sebagai sub-ordinat atau pelengkap
penderita yang lemah dan serba pahit penuh ketidakadilan.
Berbagai logika dan
argumentasi pun bertaburan. Tak berkesudahan. Pro dan kontra! Dari logika dan
argumentasi yang rasional, emosional, sampai yang faktual.
Hompimpa alaihom gambreng. Persis
main dadu. Penuh spekulasi. Lebih sering kalah. Kalau ada yang menang pasti
cuma satu orang, berarti lebih banyak yang kalah atau menjadi korban. Di sinilah
novel POLIGAMBRENG:
Sebuah Ketoprak Rumah
Tangga ini mengalir. Tanpa menggurui, Ali Sobirin El-Muannatsy dan Sophal
Jamil El-Muama mengangkat tema poligami ke sebuah panggung ketoprak kehidupan dengan
dialog-dialog yang khas, lucu, menarik, dan amat ndeso. Dijamin terpingkal-pingkal!
Adalah Katarno,
seorang laki-laki dari tanah Brebes, Jawa Tengah, yang merantau ke Jakarta. Isteri dan keempat anaknya ditinggal di kampung. Di
Jakarta Katarno melangkah setapak demi setapak sambil meneriakkan yel-yel
dagangan ketopraknya. Melengking tipis. Ketop—raaaaak! Seiring peluh yang terus
mengalir, gelantungan ketupat pun perlahan habis. Tapi, lebih sering tidak
sampai habis.
Sampai
tiba saatnya, salah
satu pelanggannya kesengsem. Ia bernama Santi, seorang perempuan
keibuan yang pernah menolong Katarno saat ia keserempet mobil. Santi,
seorang perempuan setengah baya
turunan Pekalongan yang cukup kaya. Ia mempunyai usaha dagang batik
Pekalongan.
Ia seorang janda cerai akibat mandul. Santi pun mendekati Katarno dan
mengajaknya menikah, dibantu salah seorang teman Katarno yang bernama
Wiryo.
Awalnya Katarno menolak.
Tapi, permainan logika Wiryo membuat Katarno berpikir ulang. Termasuk, Wiryo
mengajak Katarno ke Burik, seorang pemulung yang mempunyai isteri tiga. Di sana
Katarno dipersilahkan untuk mengamat-amati sendiri
kehidupan seorang yang beristeri lebih dari satu. Oleh Burik, Katarno
diajak ke Hamid, seorang yang telah menjadi penghulunya saat
menikahi ketiga isterinya. Di situ, Hamid menjelaskan tentang
hukum poligami. Sekaligus, menganalogikan Poliandri vs Poligami dengan
Teko dan Cangkir-cangkir.
Batin Katarno pun goyah.
Ditambah lagi, kondisi kemiskinan membuatnya memikirkan tawaran Santi.
Keberadaan Santi akan memperbaiki kehidupan keluarganya, benaknya. Itu pula
yang dilontarkan Wiryo untuk mengarahkan Katarno ke Santi. Dengan menikahi
Santi, keluarganya tidak akan kekurangan lagi.
Kabar pergaulan Katarno
dengan Santi akhirnya tercium oleh isterinya, Sasmi, di kampung sana. Sasmi pun ke Jakarta dan melabrak Santi. Hingga, terjadilah apa
yang mestinya tidak terjadi. Santi tak melawan, dan membuatnya makin babak belur.
Apakah keputusan Katarno
selanjutnya?
Selain itu, Katarno juga
mempunyai gadis perawan, Lininda. Lininda juga hendak menikah, dengan juragan
kos asli Betawi yang sudah beristri. Bagaimana sikap Katarno, apakah merestui puterinya menjadi isteri ketiga?
Jawabannya ada di novel POLIGAMBRENG: Sebuah Ketoprak Rumah Tangga ini.
Sebuah realitas, bukan dalih ataupun eskapisme!
Resensi lain tentang POLIGAMBRENG: Sebuah Ketoprak Rumah Tangga