Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Tafsir Pada Masa Tabi’in dan Tafsir Masa Pembukuan

Tafsir Pada Masa Tabi’in dan Tafsir Masa Pembukuan

oleh: AL_Bersaudara    
ª
 
Tafsir Pada Masa Tabi’in
Tabi’in menambahkan kedalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan kesulitan yang timbul sesudah masa shahabat. Mereka tetap berpegang teguh dengan kaidah penafsiran pada masa shahabat (yakni penafsiran yang didasarkan pada riwayat yang didiktekan) & menambahkan dengan ijtihad mereka serta ‘sedikit’ cerita-cerita Isra’iliyat dari para ahli kitab yang telah masuk Islam.
Diantara tabi’in yang terkenal sebagai ahli tafsir ialah : 1. Di Makkah, berdiri perguruan Ibnu Abbas dengan muridnya yang terkenal seperti Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah, Tawus bin Kaisan Al-Yamani & ‘Ata bin Abi Rabah.
2. Di Madinah, terdapat murid Ubai bin Ka’ab yang terkenal seperti Za’id bin Aslam, Abu ‘Aliyah & Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazi.
3. Di Irak, berdiri perguruan Ibn Mas’ud. Tabi’in yang terkenal diantaranya ‘Alqamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hamazani, ‘Amir Asy-Sya’by, Hasan Al-Basri & Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.
Ibnu Taimiyah berkata, “Syu’bah bin Hajjaj & lainnya berpendapat : “Pendapat para tabi’in itu bukan hujjah.” Maksudnya, pendapat-pendapat itu tidak menjadi hujjah bagi orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Inilah pendapat yang benar. Namun jika mereka sepakat atas sesuatu, maka tidak diragukan lagi bahwa kesepakatan itu merupakan hujjah.”

Tafsir Masa Pembukuan (akhir Dinasti Umayyah & awal Dinasti Abbasiyah)
Masa pembukuan dimulai pada akhir Dinasti Umayyah & awal Dinasti Abbasiyah. Tafsir hanya merupakan salah satu bab dari kitab hadits. Tokoh terkemuka dibidang ini ialah Yazid bin harun As-Sulami (w. 117 H), Syu’bah bin Al-Hajjaj (w. 160 H), Waki’ bin Jarrah (w. 197 H), Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H), Rauh bin ‘Ubadah Al-Basri (w. 205 H) Abdurrazaq bin Hammam (w. 211 H) Adam bin Abu Iyas (w. 220 H) & ‘Abd bin Humaid (w. 249 H).

Kemudian tafsir ditulis secara khusus & independent serta menjadikannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri & terpisah dari hadits. Qur’an ditafsirkan secara sitematis sesuai dengan tertib mushaf. Diantara mereka ialah Al-Farra (w. 207 H), Ibn Majah (w. 273 H), Ibn Jarir At-Tabari (w. 310 H), Abu Bakar An-Naisaburi (w. 318), Ibn Abi Hatim (w. 327 H), Abusy Syaikh bin Hibban (w. 369 H), Al-Hakim (w. 405 H) & Abu Bakar bin Mardawaih (w. 410 H). Tafsir Ibn Jarir dianggap istimewa karena beliau memaparkan berbagai pendapat & mentarjih salah satunya serta menerangkan i’rab & istinbat.
Kemudian timbul mufassir yang melakukan tafsir dengan meringkas sanad-sanad & menghimpun berbagai pendapat tanpa menyebutkan pemiliknya. Karena itu persoalannya menjadi kabur & riwayat yang shahih bercampur dengan yang tidak shahih.
Kemudian tafsir terpolusi dengan dengan berbagai fanatisme mazhab & masalah-masalah kalam. Tiap mufassir memenuhi tafsirnya hanya dengan ilmu yang dikuasainya tanpa memperhatikan ilmu-ilmu yang lain. Seperti tafsir yang hanya berdasarkan ilmu rasional, ilmu fiqh, ilmu sejarah, ilmu nahwu & saraf, makna-makna isyari & penakwilan kalamullah. Dengan demikian tafsir bercampur antara yang berguna dengan yang berbahaya. Tafsir bi ar-ra’yi menang atas tafsir bi al-ma’sur.
Kemudian datanglah masa kebangkitan modern yang memperhatikan keindahan uslub & kehalusan ungkapan serta menitikberatkan pada aspek-aspek sosial, pemikiran kontemporer & aliran modern, maka lahirlah tafsir ‘sasra sosial’. Diantara mereka adalah M. Abduh, Sayid M. Rasyid Rida, M. Mustafa Al-Maragi, Sayid Qutub & M. ‘Izzah Darwazah.
Adapun beberapa nama kitab tentang Al-Qur’an yang disusun oleh ulama dari abad ke-3 H dapat dilihat sebagai berikut ini :
1. Abad ke-3 H : Al-Farra (wafat 207 H) merupakan orang yang pertama kali menafsirkan Al-Qur’an ayat demi ayat, Ali bin Al-Madini (wafat 234 H) menyusun Asbabun Nuzul, Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin salam (wafat 224 H) menyusun Nasikh wal Mansukh & Qiraat, Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun Musykilatul Qur’an.
2. Abad ke-4 H : Ibn Jarir At-Tabari (wafat 310 H) menyusun tafsir sempurna berdasarkan susunan ayat, Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun Al-Hawi fa ‘Ulumil Qur’an, Abu Bakar As-Sinjistani menyusun Garibul Qur’an, Muhammad bin Ali Al-Adfawi (wafat 388 H) menyusun Al-Istigna’ fi ‘Ulumil Qur’an.
3. Abad ke-5 H : Abu Bakar Al-Baqalani (wafat 403) menyusun I’jazul Qur’an, Ali bin Ibrahim bin Sa’id Al-Hufi (wafat 430 H) menyusun I’rabul Qur’an, Al-Mawardi (wafat 450 H) menyusun Amsalul Qur’an.
4. Abad ke-6 H : Ibnul Jauzi (wafat 579 H) menyusun Fununul Afnan fi ‘Aja’ibi ‘Ulumil Qur’an.
5. Abad ke-7 H : Al-Izz bin ‘Abdus Salam (wafat 643 H) menyusun majaz dalam Qur’an, ‘Alamuddin As-Sakhawi (wafat 643 H) menyusun ilmu qiraat
6. Abad ke-8 H : Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 749 H) menyusun kitab lengkap dengan judul Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an.
7. Abad ke-9 H : Jalaluddin Al-Balqini (wafat 824 H) menyusun Mawaqi’ul ‘Ulum min Mawaqi’in Nujum.
8. Abad ke-10 H : Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) menyusun Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an.
9. Masa Kebangkitan Modern : Mustafa Sadiq Ar-Rafi’i menyusun kitab I’jazul Qur’an, Sayyid Qutb menyusun kitab At-Taswirul Fanni fil Qur’an & Masyahidul Qiyamah fil Qur’an & banyak lagi penulis lainnya.
Menurut Abdurrahman Al-Bagdadi, tidak diragukan lagi bahwasanya ummat Islam dewasa ini membutuhkan para ahli tafsir Al-Qur’an yang mampu menjelaskan masalah-masalah baru. Kitab-kitab tafsir lama dari segi bentuk & penguraiannya kurang menarik minat membaca umat saat ini. Untuk itu diperlukan cara penulisan tafsir yang dapat meningkatkan minat membaca umat. Selain itu, para mufassir abad ini harus membuat kitab tafsir yang dapat membersihkan kitab-kitab tafsir masa lalu yang banyak mengandung cerita-cerita Isra’illiyat & campur aduknya dengan ilmu-ilmu yang tidak penting. Sehingga, kitab tafsir yang dibuat seperti layaknya tafsir para shahabat yang hanya memuat nash Al-Qur’an, nash hadits serta ijtihad didalam tafsirnya.
Diterbitkan di: 14 Oktober, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.