Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Filsafat Wawasan Nusantara

Filsafat Wawasan Nusantara

oleh: AdrianusBai     Pengarang: DR. S. Reksosusilo; CM
ª
 
  • Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya secara de facto dan de jure sejak tanggal 17 Agustus 1945. Sejak saat itu dapat dikatakan Indonesia telah menjadi sebuah negara merdeka yang terdiri dari wilayah-wilayah kepulauan yang berada di kawasan nusantara seperti saat ini (kecuali wilayah Papua yang barusan bergabung dengan Indonesia di kemudian hari).

    Permasalahan yang muncul saat ini adalah banyaknya organisasi-organisasi masyarakat tertentu maupun individu yang kembali mempertanyakan kesatuan Indonesia, apakah dilakukan melalui pemaksaan penguasa pada waktu itu atau memang terjadi karena adanya kesadaran kesatuan di wilayah Indonesia ini. Ada juga yang mempercayai bahwa kesatuan Indonesia merupakan produk dari orde baru maka jika orde baru telah berakhir maka kesatuan Indonesia haruslah diganti dengan suatu paham tertentu. Selain itu juga banyak dari wilayah-wilayah tertentu yang hendak memisahkan diri dari Negara kesatuan Republik Indonesia dengan alasan tidak adanya keadilan dalam bidang pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

    Buku ini ditulis oleh (alm) DR. S. Reksosusilo, CM seorang doktor filsafat timur dari Universitas St. Thomas, Roma. Rm Rekso begitu ia akrab dipanggil, banyak mendalami masalah-masalah filsafat timur diantaranya India, Indonesia dan China.

    Buku ini menceritakan sejarah Indonesia sejak awal masa kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah Indonesia sampai pada kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 serta pemikiran-pemikiran tentang nasionalisme dan kebangsaan dari berbagai tokoh masa kini seperti Emil Salim, dan sebagainya. Selain itu di dalam setiap pokok bahasan Rm. Rekso menyisipkan beberapa pemikiran alternatif atau sebuah refleksi.

    Pada bab pertama buku ini, Rm. Rekso mengawali dengan memberikan pengertian tentang wawasan nusantara dan pandangan Rm. Mangun tentang negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Pertama, kata nusantara menurut Rm. Rekso secara etimologis (asal usul kata) berasal dari kata nusa (pulau) yang terletak di antara dua samudera. Jadi kata nusantara adalah sebuah wilayah yang terletak diantara dua samudera. Istilah nusantara sendiri menurut Rm. Rekso telah mengalami perkembangan arti. Istilah ini pertama kali ditemukan dalam prasasti Sarwa Dharma dan prasasti Parampihan sekitar tahun 1269. Oleh orang Indonesia, kata ini kemudian dikaitkan dengan sumpah Palapa yang diucapkan oleh patih Gajahmada dari kerajaan Majapahit. Rm. Rekso kemudian menelusuri istilah Indonesia. Indonesia sendiri secara harafiah adalah kepulauan India, dibedakan dengan India daratan (hlm. 8). Istilah ini semula digunakan untuk menunjukkan suatu wilayah geografis kemudian berkembang untuk menunjukkan orang atau masyarakat yang tinggal di daerah tersebut (secara antropologi), kemudian digunakan dalam bidang politis dan pada akhirnya menunjuk pada suatu bangsa. Kedua, konsep negara RIS menurut Rm. Mangun ialah federasi yang ditentukan sendiri oleh bangsa Indonesia secara jujur, adil, lewat konstituante yang ditentukan oleh bangsa Indonesia sendiri.

    Untuk lebih mengenal dan memahami istilah wawasan nusantara maka seseorang yang ingin mempelajarinya harus terlebih dahulu mengetahui sejarah bangsa Indonesia ini sendiri. Rm. Rekso sendiri kemudian meninjau lebih jauh mengenai hubungan ekonomi (perdagangan), masuknya agama Islam serta struktur kekuasaan di wilayah nusantara ini pada tahun 1500-1900 karena pada rentang tahun itulah kolonialisasi mulai berkuasa di Indonesia. Rm. Rekso melihat bahwa unsur yang menentukan dalam perkembangan bangsa Indonesia adalah melalui perdagangan. Pada awal abad 16, wilayah nusantara dapat dikatakan menjadi suatu wilayah perdagangan yang ramai. Banyak pedagang dari Cina, India, Thailand bahkan dari Parsi (Persia) dan Gujarat datang untuk berdagang di wilayah nusantara. Dalam perdagangan ini, agama Islam mulai masuk ke wilayah nusantara. Rm. Rekso menganalisa bahwa agama Islam dengan mudah menyebar karena:

    1. Perilaku orang-orang Islam tampak akrab
    2. Profesi pedagang dihargai karena tidak adanya sistem kasta seperti di dalam agama Hindu.
    3. Kerajaan besar di nusantara mengalami perebutan tahta.
  • Unsur-unsur di atas juga diperkuat dengan masuknya Islam secara pelan-pelan dan menyatu dengan masyarakat, keramahan sikap dari para wali juga mendukung penyebaran agama Islam. Terlebih lagi Islam menggunakan sarana kebudayaan Jawa di dalam penyebaran agamanya. Disini telah ada semacam proses inkulturasi di
    Diterbitkan di: 27 September, 2012   
    Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
    Terjemahkan Kirim Link Cetak
    X

    .