Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Teori Pengkajian Fiksi

Teori Pengkajian Fiksi

oleh: SukrisnoSantoso     Pengarang : Burhan Nurgiyantoro
ª
 
Fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tangung jawab dari segi kreatifitas sebagai karya seni. Fiksi menawarkan “model-model” kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarang sekaligus menunjukkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan. Membaca sebuah karya fiksi berarti menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Betapapun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan, sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap mempunyai tujuan estetik.

Novel dan cerita pendek (cerpen) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Bahkan dalam perkembanganya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi, dengan demikian pengertian fiksi seperti dikemukakan di atas, juga berlaku untuk novel.

Perbedaan antara novel dengan cerpen yang pertama (dan yang terutama) dapat dilihat dari segi formalitas bentuk, segi panjang cerita. Edgar Allan Poe mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Unsur-unsur pembangun sebuah novel seperti, plot, tema, penokohan, dan latar, secara umum dapat dikatakan bersifat lebih rinci dan kompleks daripada unsur-unsur cerpen.

Sebuah karya fiksi yang jadi, merupakan sebuah bangun cerita yang menampilkan sebuah dunia yang sengaja dikreasikan pengarang. Wujud formal fiksi itu sendiri ”hanya” berupa kata, dan kata-kata. Karya fiksi dengan demikian, menampilkan dunia dalam kata, bahasa. Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian unsur-unsur, yang paling berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan.

Unsur-unsur pembangun sebuah novel di samping unsur formal bahasa, masih banyak lagi macamnya. Pembagian unsur yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik, kedua unsur inilah yang sering banyak disebut para kritikus dalam rangka mengkaji dan atau membicarakan novel atau karya sastra pada umumnya.

Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya satra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya satra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya satra. Unsur ekstrinsik sebuah novel haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Stanton membedakan unsur pembangun sebuah novel ke dalam tiga bagian : fakta, tema, dan sarana pengucapan (sastra). Fakta dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), plot, dan setting. Ketiganya merupakan unsur fiksi yang secara faktual dapat dibayangkan, peristiwanya, eksistensinya dalam sebuah novel. Oleh karena itu, ketiganya dapat pula disebut sebagai struktur faktual atau derajat faktual sebuah cerita.

Menurut pandangan strukturallisme, unsur fiksi, dapat dibedakan ke dalam unsur cerita (story content) dan wacana (discource, expression). Pembedaan tersebut ada kemiripannya dengan pembedaan tradisional yang berupa unsur bentuk dan isi di atas. Cerita merupakan isi dari ekspresi naratif, sedang wacana merupakan bentuk dari suatu (baca: cerita ,isi) yang diekspresikan. Wacana di pihak lain merupakan sarana untuk mengungkap isi atau secara singkat dapat dikatakan cerita apa yang dilukiskan dalam teks naratif itu.

Dalam rangka memahami dan mengungkap “sesuatu” yang terdapat di dalam karya sasra, dikenal adanya istilah heuristik dan hermeunitik. Heuristik dan pembacaan hermeneuitik biasanya dikaitkan dengan pendekatan semiotik. Hubungan antara heuristik dengan hermeneuitik dapat dipandang sebagai hubungan yang bersifat gradasi, sebab kegiatan pembacaan dan atau kerja hermeneuitik yang oleh Riffaterre disebut juga sebagai pembacaan retroaktif memerlukan pembacaan berkali-kali dan kritis.

Kerja heuristik menghasilkan pemahaman makna secara harfiah, makna secara tersurat, actual meaning, namun, dalam banyak kasus karya sastra, makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang justru diungkapkan hanya secara tersirat dan inilah yang disebut sebagai makna intensional, intentional meaning. Hermeneuitik, menurut Teeuw , adalah ilmu atau tehnik memahami karya satra dan diungkapkan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksudnya.

Cara kerja hermeneutik untuk penafsiran karya sastra, menurut Teuw (1984: 123) dilakukan dengan pemahaman keseluruhan berdasarkan unsur-unsurnya, dan sebaliknya pemahaman unsur-unsur berdasarkan keseluruhannya. Dari sinilah kemudian muncul istilah lingkaran hermeneutik (hermeneutic circle). Cara kerja tersebut dilandasi suatu asumsi bahwa karya fiksi yang merupakan sebuah totalitas dan kebulatan makna itu dibangun secara koherensif oleh banyak unsur intrinsik.

Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan strukturalisme Praha. Ia mendapatkan pengaruh langsung dari teori Saussure yang mengubah studi lingustik dari pendekatan diakronik ke sinkronik. Studi lingustik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan pada hubungan antar unsurnya.

Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini. Perkembangan teori semiotik hingga dewasa ini dapat dibedakan ke dalam dua jenis semiotika, yaitu semiotik komunikasi dan semiotik signifikasi. Semiotik komunikasi menekankan diri pada teori produksi tanda, sedangkan semiotik signifikasi menekankan pemahaman, dan atau pemberian makna, suatu tanda.

Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, bahasa, dan lain-lain, di antara teks-teks yang dikaji. Tujuan kajian intertekstual itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut maslah ada dan tidaknya hubungan antarteks dan kaitannya dengan niatan pengarang dan tafsiran pembaca.

Model pendekatan dekonstruksi dalam bidang kesastraan khususnya fiksi, dewasa ini terlihat banyak diminati orang sebagai salah satu model atau alternatif dalam kegiatan pengkajian kesastraan. Dekonstruksi pada hakikatnya merupakan suatu cara membaca sebuah teks yang menumbangkan anggapan (walau hal itu hanya secara implisit) bahwa sebauh teks itu memiliki landasan, dalam sistem bahasa yang berlaku, untuk menegaskan struktur, keutuhan, dan makna yang telah menentu.
Diterbitkan di: 23 Agustus, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.