Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Tuntunan Dzikir dan Do'a Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah

Tuntunan Dzikir dan Do'a Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah

oleh: elha     Pengarang : Tim Majelis Tarjih PP Muhammadiyah
ª
 
Nampaknya, sampai sejauh ini, persepsi sebagian besar umat Islam, terutama di negeri ini, masih memandang dzikir secara sempit. Padahal, yang disebut dengan dzikir, adalah perbuatan menghadirkan hati untuk mengingat Allah dan taat kepada-Nya, kemudian disusul dengan ucapan dan aksi dalam berbagai keadaan, misalnya shalat, puasa, menunaikan zakat, mengerjakan haji, mengahadapi yang halal dan haram, dan lain sebagainya. Namun, dalam perkembangannya, dzikir lebih diartikan sebagai ucapan dengan lafadz-lafadz tertentu, seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaaha illallah), takbir (Allahu akbar), dan nama-nama (asma') Allah. Dzikir semacam ini, memang dituntunkan oleh Rasulullah Saw, dalam berbagai haditsnya (dari Abu Hurairah, Riwayat Buhari, Ibnu Majjah, Tirmidzy, dan Ahmad), serta anjuran al-Qur'an dalam begitu banyak ayat-ayatnya (Al-Baqarah: 152), al-Ahzab: 35 dan 41, An-Nisa': 4, dll.). Masing-masing dalil yang ditunjukkan di atas merupakan dasar hukum bagi kewajiban berdzikir, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Muhammadiyah, pada hakikatnya telah mengajarkan dzikir dengan begitu banyak bentuk amal usaha, sebagaimana dijarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan, pendirinya. Salah satu dzikir fenomenal adalah manakala beliau mengajarkan surat Al-Ma'un, yakni dengan cara memerdekakan anak yatim (menyantuni) dan membentuk lembaga pendidikan. Semua itu merupakan manifestasi dzikir yang sesungguhnya, daripada sekedar ingat kepada Allah dengan lafadz-lafadz tertentu tanpa diiringi dengan perbuatan.
Akan tetapi, di tengah-tengah era kebangkitan spiritual saat ini, dirasakan tetap perlu pelaksanaan dzikir dengan pengucapan lafadz-lafadz semacam itu, yang ternyata berguna untuk menentram hati yang banyak gelisah akaibat berbagai tuntutan modernisasi. Fenomena dzikir yang banyak membantu kehalusan hati (latha'if al-qolb), kelihatannya menjadi salah satu pertimbangan Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk memberikan tuntunan bagi umat Islam (terutama keluarga besar Muhammadiyah). Atas dasar itu pula, sebuah buku berjudul "Tuntunan Dzikir dan Do'a Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah", telah hadir di hadapan pembaca.
Buku ini sangat penting untuk dimiliki, dipahami, dibaca dan diamalkan oleh umat Islam di Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah yang rindu akan spiritualitas hati dan lisan.
Diterbitkan di: 15 Nopember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bsa tdak di berikan contoh ayat-ayat yang sdah dtarjih? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    dimana bisa di beli buku ini Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    saya ingin bertanya bagaimana doa dan dzikir stelah kiti selesai salam? terima kasih Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.