Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global

Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global

oleh: BembenkHadiswan1     Pengarang : Doni Koesoema A.
ª
 

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKATER DIUSIA REMAJA

Oleh: Bambang Setiawan, S.Pd

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa masa remaja adalah masa peralihan. Masa peralihan anak-anak ke masa remaja. Pada masa ini, remaja akan mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial dan emosional. Masa duduk dibangku sekolah menengah merupakan masa remaja. Umumnya masa ini dialami pada anak berusia 13 sampai 18 tahun. Ada yang menyatakan bahwa masa seusia ini merupakan masa yang sulit. Mengapa? Karena pada masa peralihan ini (masa anak-anak dan masa dewasa belum mempunyai identitas yang jelas, kabur).

Beberapa hari yang lalu penulis mengadakan pendekatan terhadap beberapa siswa SMA dan SMK yang mempunyai masalah, baik di sekolah, keluarga, maupun di lingkungannya. Pada masa ini, sebelum menginjak perguruan tinggi, sekolah menengah merupakan tempat pendidikan yang ideal. Para guru merupakan tokoh yang paling penting dalam kehidupan mereka karena selain sebagai tokoh intelektual, guru atau pengajar juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Mengapa penulis menyatakan demikian? Rata-rata siswa SMA dan SMK yang mempunyai masalah di lingkungan keluarga, dan 75% takut untuk bercerita kepada siapa pun, termasuk kepada wali kelas atau gurunya.

Tidak dapat dipungkiri jika keberadaan remaja diusia sekolah menengah, akan membawa banyak perubahan. Remaja seringkali membangun interaksi dengan sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membetuk semacam geng atau kelompok. Penulis sering sekali, ketika pagi menjelas masuk sekolah atau bel pukul 07.00, keliling melihat seputar lokasi sekolah atau di luar lingkungan sekolah radius kurang lebih 500 meter. Pada kenyataanya, para remaja ini sering berkumpul dan membentuk sebuah kelompok untuk wadah berkumpul, yang mana kelompok atau geng ini terdiri dari beberapa siswa dan dari beberapa sekolah.

Setelah penulis amati, ternyata para remaja yang mempunyai geng tersebut kompak. Interaksi antar anggota atau kelompok biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Dan pada masa inilah ‘emosi’ seorang anak mulai tidak terkendali. Belakangan ini penulis sering sekali tukar pendapat dengan guru Bimbingan Konsling, yang selalu sering memonitoring perkembangan anak secara keseluruhan. Hal yang sangat menarik diusia sekolah menengah adalah faktor ‘bercinta’.

Bercinta bagi remaja adalah merupakan faktor atau virus yang ‘mematikan.’ Faktor yang menjadikan semuanya menjadi terlupakan. Tidak heran jika, remaja di sekolah menengah sering emosi jika sedang putus cinta. Faktor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan lawan jenisnya. Pada masa remaja di Sekolah Menengah Atas atau sederajat, biasanya mereka mulai jatuh cinta pada lawan jenis. Kalau kita berpikir secara positif, gejala seperti ini adalah sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang juga hal ini menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada remaja jika tidak diikuti bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa. Maka dari itu, tidak heran jika orang tua sering merasa gelisah melihat anaknya demikian. Seringkali orang tua cemas, takut ketika anak remajanya jatuh cinta. Namun demikian, jika hal ini dapat dimonitoring oleh orang tua, hubungan antara orang tua, anak akan lebih baik. Perlu diketahui bersama bahwa, gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan remaja itu sendiri.

Berdasarkan pengalaman di lapangan atau illustrasi di atas tentunya pendidikan karakter di usia remaja sangat diperlukan. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejak anak manusia yang pertama lahir ke dunia, telah dilakukan usaha-usaha pendidikan; manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya, kendantipun dalam cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu untuk mempengaruhi dalam bergaul, untuk kepentingan orang-orang yang dikendaki. Adalah keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa dia dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan kedaan setiap anak didik.

Maka dari itu, pendidikan karakter diusia remaja sangat diperlukan. Pendidikan karakter sebagai sebuah pendagogi menempatkan individu yang terlibat dalam dalam dunia pendidikan sebagai pelaku utama dalam pengembangan karakter. Pelaku ini menjadi agen penafsir, penghayat sekaligus pelaksana nilai melalui kebebasan yang ia miliki. Untuk itulah peristiwa-peristiwa dalam dunia pendidikan, baik dalam lingkup lokal, provisional, maupun global, mesti diletakan dalam kerangka pertumbuhan individu dalam konteks yang positif.

Diterbitkan di: 16 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.