Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Metode MENGAJAR MEMBACA AL-QUR’AN PADA ANAK FASE PRANATAL

Metode MENGAJAR MEMBACA AL-QUR’AN PADA ANAK FASE PRANATAL

oleh: Hari AbdullahAl-Banjari Juvestone    
ª
 
Periode prenatal merupakan periode yang secara harfiyah sangat sulit untuk diteliti tetapi apabila dilihat dari kebudayaan Jawa sangatlah paham dan penuh dengan makna terhadap perbuatan-perbuatannya, yang terdapat di dalamnya melalui adanya pantangan-pantangan yang dibahasakan dengan Welawer, pantangan yang harus dijauhi oleh ibu yang sedang mengandung antara lain; 1) ibu yang sedang hamil tidak boleh menghina orang lain agar anaknya nanti tidak meniru, 2) ibu yang sedang hamil tidak boleh duduk di tengah-tengah pintu sambil makan, 3) suami istri dilarang membunuh ataupun menyiksa sebangsa binatang agar anaknya nanti tidak cacat, 4) ibu yang sedang hamil tidak boleh memakan makanan yang panas misalnya durian, petai cina dan lain-lain, 5) ibu yang sedang hamil tidak boleh minum sebangsa alkohol, 6) ibu yang sedang hamil tidak boleh makan daging kambing dan daging kijang (Mansur, 2004: 183-184).
Allah SWT telah menciptakan semua mahluk berdasarkan fitrahnya. Fitrah Allah terhadap manusia dapat diterjemahkan sebagai potensi dapat dididik dan mendidik. Potensi ini memiliki kemungkinan untuk berkembang dan meningkat, sehingga kemampuan yang dimilikinya dapat melampaui dari kemampuan fisiknya. Dengan kesempurnaan itu, manusia dituntut untuk mampu menjadi khalifah di muka bumi. Potensi yang ada pada manusia itu hendaknya dikembangkan sejak dalam kandungan agar tidak mengakibatkan kurang bermakna dalam kehidupannya.
Sementara itu beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam bidang perkembangan pralahir menunjukkan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai (Ubes Nur Islam 2004: 2).
Pendidikan prenatal merupakan suatu bentuk stimulasi yang dilakukan ketika bayi berada dalam kandungan. Pendidikan prenatal, selain bertujuan menstimulasi kecerdasan calon bayi yang kelak akan lahir, juga merupakan sarana penyaluran kasih sayang kepada calon buah hati (Rizki J. Suherman dan Suherman, 2010: 60 ).
Bangsa Yahudi tidak serta-merta menjadi bangsa yang besar dan dan kaya para intelektual, bangsa yang secara terus menerus bertekad dengan segenap jiwa raga untuk menjadi yang terbaik, terdepan, dan memastikan berada di puncak peradaban, mereka selalu berkomitmen agar setiap generasi Yahudi yang lahir adalah generasi yang cerdas, yang bisa meneruskan estafet kepemimpinan. Yang mereka lakukan untuk mewujudkan semua keinginannya itu adalah begitu perempuan Yahudi mengetahui kehamilannya, maka mereka segera belajar dan berlatih mengerjakan soal matematika, maka anak yang akan lahir kelak adalah anak yang pintar serta cerdas secara akademis (Rizki J. Suherman dan Suherman, 2010: 63-64).
Pernyataan-pernyataan di atas membuktikan bahwa konsep dasar pendidikan itu mengakui adanya pendidikan sebelum lahir (pendidikan prenatal). Oleh karena itu usaha untuk membentuk kepribadian anak yang terbaik itu bukan hanya dimulai ketika anak sudah lahir saja melainkan juga harus berawal sejak anak masih dalam kandungan ibunya bahkan dimulai sejak mencari pasangan hidupnya.
Sudah banyak orang yang melakukan Pendidikan Prenatal dalam kebiasan sehari-hari ketika tengah mengandung baik secara disengaja ataupun tidak disengaja. Akan tetapi, ada ganjalan-ganjalan karena tidak sedikit anak yang tidak mudah untuk dididik sehingga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Di antara kenyataan yang ada adalah banyak anak usia SD, SMP, SMA, bahkan Mahasiswa tidak mudah diajari membaca Al-Qur’an. Padahal mereka sudah memperoleh Pendidikan Agama Islam yang di dalamnya terdapat banyak sekali bacaan Al-Qur’an baik di Sekolah-sekolah, TPQ, MADIN dan lain-lain. Di kalangan mahasiswa tidak sedikit jumlah yang tidak lulus pada setiap ujian Praktek Penagamalan Ibadah (PPI) dan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) di Perguruan Tinggi Agama Islam khususnya di STAIN Purwokerto dikarenakan bacaan Al-Qur’annya tidak lancar.
Mustofa Ahmad Yasykur adalah seorang penulis buku yang berjudul Panduan Mengajar Bayi Anda Membaca Al-Qur’an Sejak Dalam Kandungan yang diterbitkan oleh PGTQA Indonesia Kota Semarang pada tahun 2005 bisa dijadikan solusi bagi orang tua agar mengetahui bagaimana cara mengajari anak membaca Al-Qur’an sejak dalam kandungan dengan harapan bisa melahirkan anak-anak shaleh dan shalehah yang mahir dalam membaca Al-Qur’an serta mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Diterbitkan di: 01 April, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    assalamualaikum maaf, bisa minta tolong link pdfnya, karena link pdf yang di sediakan tidak di temukan..atau dimana saya bisa mendapatkan bukunya ya?? di tunggu infonya. terimakasih banyak. Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.