Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Menyelam Ke Samudera Ma’rifat dan Hakekat

Menyelam Ke Samudera Ma’rifat dan Hakekat

oleh: coaninja     Pengarang : Syekh Akhmad Ibnu Athaillah
ª
 
Buku ini menjelaskan secara mendasar sisi-sisi terdalam tentang Tauhid dan akhlak tasawuf islam. Disini diterangkan bagaimana seorang hamba mengawali perjalanan rohaninya hingga mencapai puncak tujuannya. Apa yang harus dilakukan dan etika apa yang harus dipegang teguh dalam perjalanannya; Ketika matahari hatinya terbit menyibak rahasia-rahasia kegaiban, menembus batas-batas pembatas, melakukan perjalanan di alam gaib dan alam malakut sehingga terlihatlah berbagai pemandangan akan keajaiban dan keagungan; serta ketika hijab antara dia dan Allah telah tersingkap, sehingga bias bermuwajanah dalam sebuah perjumpaan yang sangat intens tak terbatasi oleh ruang dan waktu, tenggelam dalam kepungan rahmat Allah yang meliputinya.

Buku ini terjemahan utuh dari kitab Matan Al-Hikam, karya besar Abu Fadhil Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman Ibnu Athaillah, yang lebih dikenal dengan Syekh Ibnu Athaillah. Disamping itu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih signifikan penerjemah memperhatikan juga Syarah Hikam yang ditulis oleh Syekh Abdullah As-Syarqawi.

Pengungkapan dan penuturan Syeh Ibnu Athaillah dalam buku ini, sungguh amat tajam dan mengenai sasaran, menembus hati nurani manusia yang paling dalam. Sebagai bimbingan pada pembentukan kehalusan budi pekerti dan pensucian hati nurani.

Salah satu kutipan, Sayid Abu Hasan ra. Berkata : “ Seorang wali tidak akan sampai berjumpa kehadhirat Allah, selama ia masih menyertakan syahwat dan keinginannya, pengaturan dan ikhtiarnya serta masih terikat dengan urusannya sendiri.”

Apabila Allah SWT, membiarkan seorang hamba masih terbelenggu dengan nafsunya dan terikat dengan kemauannya sendiri, maka selamanya ia tidak akan bisa sampai kehadhirat Allah SWT. Tetapi apabila menghendaki hamba-Nya memberikan karunia untuk bisa sampai sampai kehadhirat-Nya, maka ia akan menanggalkan ketergantungan dan keterkaitan hamba itu dengan dirinya sendiri dan dengan urusan keduniaanya. Lalu Allah memunculkan dan menampakkan sifat-sifat kesucian yang menanggalkan sifat-sifat kemanusiaan yang rendah pada hamba itu dan memberinya anugerah untuk bisa sampai kehadhirat-Nya. Bila hal demikian terjadi pada seorang hamba, maka itu sebagai tanda dari sebuah anugerah besar baginya, yaitu memperoleh kecintaan Allah SWT. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman:

Apabila Aku ( Allah )mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya ( kekuasaanya ) adalah kekuasaan-Ku. Perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku.

Maha suci Allah yang memberikan anugerah besar kepada hamba-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

“Perjumpaan kehadhirat Qudsi dengan belaian kelembutan kasih dan keridhaan Ilahi, bisa terjadi karena semata-mata karunia dan anugerah-Nya. Tiada kenikmatan yang terbesar, selain ketika seorang hamba bisa berlabuh dalam sebuah perjumpaan kehadhirat Allah Azza wa jalla, di atas hamparan permadani kedamaian yang penuh syahdu dalam suasana kelautan cahaya kema’rifatan, tenggelam dalam samudera hakekat, berasyik masyuk, bercengkrama dengan kekasih sejati, Allah rabbul alamin.

Semoga bermanfaat.

Diterbitkan di: 08 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.