Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Bertahan di Tengah Krisis: Komunitas Tionghoa & Ekonomi Kota Cirebon

Bertahan di Tengah Krisis: Komunitas Tionghoa & Ekonomi Kota Cirebon

oleh: iswantosm     Pengarang : Abdul Wahid
ª
 
Begitu dramatisnya dampak krisis 1997 sehingga menarik banyak akademikus dari berbagai disiplin ilmu untuk menganalisis latar belakang fenemona keruntuhan ekonomi tersebut.

Dampak dahsyatnya krisis 1997 yang menjalar pada pengaruh krisi ekonomi Asia diantara Indonesia, Thailand, dan Korea selatan sejatinya telah memberikan kesadaran pada keraguan terhadap argumentasi ekonomi teori modern. Suatu teori yang menganut nilai-nilai pada kepercayaan bahwa sejarah manuisa yang bersifat linier akan mencapai tahap akhir bilamana nilai-nilai kapitalisme dan demokrasi liberal akan menjadi idiologi hegemonik tanpa tanding dikarenakan terntergrasinya norma-norma kapitlaisme sebagai konsekwensi terintegrasinya ekonomi nasional dan kapitalis global.

Untuk konteks Indonesia, krisis 1997 skala dampaknya hampir menyerupai krisis tahun 1930-an, suatu krisis pada jaman kolonial yang menjangkau seluruh dunia dan digambarkan sebagai kemunduran ekonomi terbesar yang terjadi pada paruh pertama abad ke-20. Sementara itu, bagi Indonesia depresi ekonomi tahun 1930-an merupakan bukti paling nyata bahwa perekonomian Indonesia telah terintegrasi dengan pasar internasional.

Salah satu tonggak penting, menurut penulisnya (Abdul Wahid) adalah fenomena depresi ekonomi tahun 1930-an sebagai salah satu tonggak pada perkembangan ekonomi Indonesia di masa kolonial. Lebih jauh, penulis melihat ada beberapa indikasi mengapa peristiwa itu dianggap memiliki makna historis yang cukup signifikan dengan terjadinya krisis dasawarsa ini. Yaitu : memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam terhadap aktivitas dan kondisi ekonomi berbagai komunitas sosial dalam masyarakat Indonesia. Yang lainnya, depresi ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan sosial-politik masyarakat Indonesia. Juga juga, Pemerintah Kolonial harus mengikis habis kebijakan ekonominya dalam rangka politik etis, karena prinsip dasar mereka yang sebelumnya menolak intervensi dalam aktivitas ekonomi harus dicabut. Sebagai gantinya, mereka mulai menerapkan berbagai regulasi untuk menanggulangi dampak dari depresi ekonomi.

Membaca buku ini, kita dapat belajar untuk memahami sejarah pad komunitas Tionghoa, sebagai satu bangsa penjelajah dunia sampai ke nusantara yang mencapai puncaknya pada 1860-an dan 1930-an, termasuk melihat rincian tentang bagamana komunitas itu muncul sebagai kelompok paling progresif dalam memanfaatkan berbagai kesempatan ekonomi yang tersedia termasuk juga pada aspek-aspek socio-politik yang melingkupinya.

Buku ini sejatinya adalah membahas komunitas Tionghoa khususnya di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Satu komunitas pedagang terpenting yang cukup memengaruhi aktivitas perdagangan di Cirebon pada mas a itu. Mulai dari pedagang eceran, menengah dan besar. Sewaktu depresi ekonomi terjadi, denyut perekonomian masyarakat Cirebon yang banyak bergantung pada laju perdagangan mengalami kelesuan sehingga sangat memengaruhi produktivitas perekonomian regional dan nasional secara menyeluruh, termasuk mengguncang daya survival masyarakat pribumi dan Tionghoa, juga Pemerintah Kolonial yang menjadi penguasa saat itu.

Diterbitkan di: 12 April, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. YEREMIA WIJAYA

    PUJIAN

    BUKU BERTAHAN DI TENGAH KRISIS BADAI YANG MENGAMBIL KISAH KEHIDUPAN MASYARAKAT TIIONGHOA CIREBON BAGUS SEKALI, HUBUNGI AHLI SEJARAH TIONGHOA CIREBON NAMANYA JEREMY HUANG TELPON 085864216799

    0 Nilai 17 Juni 2012
X

.