• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Saya Berbelanja, maka Saya Ada

.

Saya Berbelanja, maka Saya Ada

oleh : Haryanto     

Pengarang : Haryanto Soedjatmiko
Membedah Belanja sebagai Gaya Hidup

align="center" style="text-align: center; ">oleh: Haryanto Soedjatmiko

There’s enough on the planet foreveryone’s needs,

but not for everyone’s greed (MahatmaGandhi)

I am ~ what I have and what I consume(Erich Fromm)

“tahukah anda satu kata penting hari ini?”

BELANJA

Mau makan atau minum? Mau sekolah,kuliah, atau bekerja? Atau, mau berlibur? Mau apa lagi? Apa yang kita perlukan?Belanja, tentu saja.

Hidupkita sekarang ini tidak bisa lepas dengan belanja. Belanja adalah gaya hidupkita di masa sekarang. Bayar sekarang atau nanti? Sistem kredit membuatberlakunya, “Pakai dulu, bayar kemudian”.

Ketika Descartesberkata, Cogito Ergo Sum (Saya Berpikir, maka Saya Ada), saat ini kitapun dapat berkata, Emo Ergo Sum (Saya Belanja, maka Saya Ada). Itu merupakanslogan hidup manusia saat ini. Hal ini berawal dari kegiatan yang bisa jadikita lakukan tiap hari: belanja. Belanja menjadi tolok ukur jati diri hidupmanusia sebab terkait dengan banyak aspek. Aspek psikologis, misalnya, di manabelanja ada hubungan dengan rasa gengsi. Aspek sosial, dengan belanja bisamenunjukkan status orang tertentu. Belum lagi aspek ekonomi, budaya, politik,dan seterusnya. Singkatnya, melalui belanja, seseorang tidak lagi mementingkanapa yang dapat diperbuat dengan barang tersebut, melainkan apa yang dikatakanbarang itu perihal dirinya sebagai konsumen. Berbelanja (shopping)agaknya telah menjadi ciri-ciri manusia yang hidup di zaman kontemporer dewasaini.

Bilaberbelanja semula menjadi “perpanjangan” manusia yang hendak mengonsumsisesuatu, pada perkembangan berikutnya, belanja justru menjadi kegiatanmengonsumsi itu sendiri. Belanja berubah menjadi kebutuhan bagi manusia yangtak cukup diri. Di sinilah letak konsumerisme dalam arti mengubah “konsumsiyang seperlunya” menjadi “ konsumsi yang mengada-ada”. Dalam arti ini, motivasiseseorang untuk berbelanja tidak lagi guna memenuhi kebutuhan dasariah yang iaperlukan sebagai manusia, melainkan terkait dengan hal lain, yakni identitas.Orang membeli makanan dan minuman bukan lagi semata-mata guna memenuhikebutuhan alami, yakni makan-minum. Ini pasti. Akan tetapi, yang dimaksud disini adalah guna sebuah harga diri. Seseorang akan merasa “lebih baik” bilamampu makan soto ayam di restoran ternama daripada di warteg (warung tegal), misalnya. Singkatnya,manusia tidak lagi hanya membeli barang-barang, melainkan merek ternama yangterkandung di dalam barang tersebut. Jati diri manusia terukur darikemampuannya memperoleh sesuatu.

Ketika belanja menjadi berlebihan di situlah orang mulai berkata tentangkonsumtif dan ujung-ujungnya konsumeris. Konsumerisme, pada awalnyaadalah consumer-ism, sebuah aliranyang hendak melindungi konsumen dari gempuran barang-barang produksi. Dalamperkembangan selanjutnya, sebagaimana telah disampaikan dalam paragrafsebelumnya, konsumerisme beralih kepada suatu pola pikir dan tindakan di mana konsumenyang dilindungi itu membeli barang bukan karena ia membutuhkan barang tersebut,melainkan karena tindakan membeli itu sendiri memberikan kepuasan kepadanya.Dengan kata lain, bisa saja seseorang yang terjangkit konsumerisme selalumerasa bahwa ia belanja karena ia membutuhkan barang tersebut, meskipun padamomen refleksi berikutnya, ia sadar bahwa ia tak membutuhkan barang tersebut.Inilah akar konsumerisme, yaitu agar ekonomi bisa terus berjalan dengan baik,anggota masyarakat harus terus membeli. “Membeli”, dalam konteks ini, merupakansuatu kewajiban dan suatu tindakan individual dan berangkat dari kebutuhan.Maka, o

Diterbitkan di: Januari 24, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.