• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Referensi>Berdamai di Tengah Gempuran Israel

.

Berdamai di Tengah Gempuran Israel

oleh : abduhradar     

Pengarang : Arthur G. Gish

 


5pt 0cm;" class="MsoNormal">Krisis di Jalur Gaza menjadi perhatian krusial
masyarakat dunia hari ini. Gelombang protes pun terjadi di mana-mana, tetapi
kekejaman terus berlangsung tanpa henti. Bahkan seruan perdamaian yang
ditiupkan Paus Benediktus XXVI dari Vatikan tidak memberikan pengaruh apa pun
bagi Israel.


Buku Hebron Journal merupakan catatan dan
rekaman perjalanan Arthur G. Gish  (penulis
buku) dalam memperjuangkan harkat dan martabat kemanusiaan di Palestina. Arthur
G. Gish adalah aktivis perdamaian dari Christian Peacemaker Teams (CPT),
organisasi sosial kemasyarakatan di AS. Mereka beraktivitas untuk membela
kemanusiaan dan mencari oase perdamaian.
Selama enam tahun (1995-2001) Gish hidup bersama keluarga-keluarga Muslim di
Palestina dan melakukan aksi-aksi anti-kekerasan menentang kekejaman zionis Israel. Dalam
membela rakyat Palestina, dia tak jarang harus menghadapi bahaya. Gish juga
menjembatani hubungan umat Islam, Yahudi, dan Kristen di Palestina yang telah
terpecah akibat politik zionis. Gish merangkul pemimpin ketiga agama tersebut
dan mengajaknya berdialog untuk mencari solusi strategis tentang perdamaian Israel dan
Palestina.
Keberanian dalam memperjuangkan perdamaian dan ketidakberpihakannya terhadap
kelompok tertentu, menjadikan Gish leluasa bergerak dalam mencipta aliansi
perdamaian. Selama enam tahun di Palestina, Gish selalu mengampanyekan anti-kekerasan,
cinta, dan kasih sayang bagi Israel
dan Palestina. Ajaran Kristiani mengharuskannya selalu berjuang untuk terus
menebarkan benih-benih cinta dan kasih sayang kepada siapa pun. Dengan cinta dan
kasih sayang itulah, dalam keyakinan Gish, dunia bisa menggapai perdamaian dan
ketenteraman. Menurut dia, keserakahan dan kebiadaban adalah hasil dari
hilangnya ruh cinta dalam napas keagamaan.
Titik krusial yang dihadapi Gish adalah ketika dia berjuang di Hebron. Salah satu kota tertua di dunia, yang terletak di antara
empat gunung di antara perbukitan Yudea, sekitar 30 kilometer di sebelah
selatan Yerussalem. Selama berabad-abad, banyak pertempuran yang terjadi di Hebron. Sejarah Hebron
sangat berpengaruh terhadap peradaban Palestina dewasa ini.
Dan, di Hebron inilah, pergulatan dan perjuangan Gish mendapatkan ujian paling
berat. Hebron
menjadi titik rentan konflik. Salah sedikit saja akan berakibat fatal terhadap misi
perjuangan Gish dalam menyuarakan perdamaian. Hebron hampir sama sensitifnya dengan Jerussalem.
Menyentuh kedua kota ini harus superhati-hati,
karena ketiga umat --Islam, Yahudi, dan Kristen--  mengklaim kedua kota
tersebut sebagai kota
suci mereka. Tak pelak, hadir di tengah kedua kota tersebut menjadi pertaruhan yang sangat
membahayakan.
Meski begitu, bagi Gish, kondisi itu justru memberi motivasi yang besar dalam
menggelorakan perdamaian. Berdiri di tengah api konflik bangsa Palestina dan
pembantaian berdarah yang dilakukan bangsa Israel menjadikan Gish selalu berhati-hati
dalam melangkah. Gish tidak mau gegabah dan asal bekerja. Di Hebron inilah dia membangun
dialog. Dengan dialog, Gish ingin menciptakan persepsi persatuan bangsa Palestina.
Karena dengan persatuan, bangsa Palestina bisa menghentikan kebiadaban Israel.


Cacatan dan rekaman perjuangan Gish dalam buku ini
menjadi penting untuk dibaca di tengah tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza yang terus bergejolak.
Pengalaman hidup Gish menjadi sebuah pergulatan dan pertaruhan yang bisa
menjadi pelajaran berharga bagi sebuah perjuangan di medan tragedi kemanusiaan. Spirit menyuarakan
perdamaian, cinta, dan kasih sayang, bila jalankan dengan baik akan menjadi
penanda baru dalam mencipta peradaban dunia masa depan yang lebih baik dan
beradab. (*)


 


 


Diterbitkan di: Januari 12, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.